(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 32 Majikan & Pelayan


__ADS_3

Sementara Winna seolah tak memiliki pilihan lain selain menerima pekerjaan yang di tawarkan kakaknya. Namun tetap saja pekerjaan yang di tawarkan Venia begitu rendahan menurutnya.


Wanita itu tampak mondar mandi di ruang tamu apartemennya. Dering ponselnya menyita perhatian Winna. Perempuan itu lantas menyambar ponselnya dan terkejut.


Tut


Dia memilih mematikan sambungan dari sugar daddy nya. Winna masih kesal saat para ibu ibu di jalan mempermalukan dirinya di depan umum. Terdengar suara helaan nafas berat, entah apa yang akan terjadi ke depannya nanti.


"Sialan, berani berani nya mereka merendahkan aku. " gumam Winna dengan nada kesalnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. " gumamnya dengan nada panik. Wanita itu langsung duduk di sofa, mencoba mencari pekerjaan di sosial media.


Sepertinya dia perlu mencari pekerjaan yang lebih baik dari sekedar sebagai pelayan. Winna tentu saja malu dengan pekerjaan hina itu. Lagi lagi dering ponselnya mengalihkan perhatiannya.


"Halo mom. " ucap Winna dengan nada datarnya.


"Mommy perlu uang lagi untuk pengobatan daddy kamu. " omel Nyonya Kinara di telepon. Winna mengumpat pelan mendengar penuturan sang mommy.


"Aku tak punya uang mom. " ketusnya. Winna langsung mematikan sambungan teleponnya. Dia merasa sangat muak saat ibunya menghubungi dirinya hanya untuk meminta uang.


Huh


Dia tak punya alasan lain. Teringat masa lalu sepertinya Sergio belum bicara pada Venia. Hal ini bisa dia gunakan untuk berbicara dengan Sergio agar tutup mulut. Dan terpaksa dia harus menerima pekerjaan yang di tawarkan Venia.


"Daddy bangkrut , di keluarkan dari agensi, di katai pelakor lalu sekarang aku akan jadi pelayan. " keluh Wina. Dia merasa mengalami kesialan berulang kali dalam hidupnya. Hanya ada umpatan yang ke luar dari bibir perempuan itu.


Sementara Venia pergi ke kantor suaminya. Wanita itu sengaja membawakan makan siang untuk sang suami. Tiba di perusahaan dia langsung turun dari mobil, segera masuk ke perusahaan. para karyawan menyapa kedatangannya, Venia sendiri hanya tersenyum.


Venia menaiki salah satu lift di antarkan oleh asisten Damar. Tiba di lantai lima lift terbuka, Venia pergi ke ruangan sang suami.


cklek


Venia masuk ke dalam, mendapati suaminya tampak sibuk. wanita itu berjalan pelan menghampiri suaminya, dia memilih duduk di sofa.


"Mas Gio. " panggilnya dengan nada lembut. Sergio menoleh, bibirnya melengkung membentuk senyuman samar. Pria itu beranjak dari duduknya, menghampiri istri tercintanya.


"Kamu datang kok gak bilang bilang sayang? " tanya Sergio.


"Surprise. " jawabnya sambil tersenyum tengil. Sergio mendengus pelan, mencium istrinya sekilas. Venia langsung menyiapkan makanan. Sergio sendiri meminta di suapi sang istri.


"Suapi aku sayang! "


"Manjanya ngalahin si kembar kamu mas. " ledek Venia. Sergio hanya tersenyum, dia membuka mulutnya dan menerima suapan dari istrinya.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu pria tampan itu selesai di suapi. Venia bersandar di bahu sang suami, keduanya mengobrol santai. Wanita itu menoleh kearah sang suami dengan tatapan lekatnya.


"Sepertinya besok ada pembantu baru di rumah kita mas. " ujar Venia sambil tersenyum penuh makna.


"Memangnya siapa? " tanya Sergio penasaran. Venia hanya diam saja, wanita itu menanggapi pertanyaan sang suami dengan senyuman. Meski penasaran namun Sergio tak bertanya lebih jauh.


Wanita cantik itu mengatakan kegiatannya bersama si kembar tadi pada sang suami. Sergio cukup senang dengan perubahan sikap sang istri. Pria tampan itu mendaratkan kecupan di kening wanitanya.


"Di Negara K, aku banyak beraktivitas di luar hingga membuat si kembar kesepian. Aku merasa gagal menjadi ibu untuk mereka mas. " gumam Venia dengan nada penyesalan.


"Gimana kalau kita buatkan adik perempuan untuk si kembar. " ceplos Sergio asal.


"Sembarangan kamu mas, di kira melahirkan itu gampang apa ya. " omel Venia yang di tanggapi tawa Sergio. Pria tampan itu langsung memeluk istrinya yang merajuk.


Venia membenamkan wajahnya di dada sang suami. Dia menikmati aroma maskulin dari tubuh Sergio. Sergio melepaskan pelukannya, lantas menggendong sang istri dan membawanya kamar rahasia.


Beberapa jam kemudian


Venia mengatur nafasnya yang tersengal. Dia baru selesai melayani sang suami di atas ranjang. Sergio sendiri menciumi wajah wanitanya sambil tersenyum.


"I love you. " bisiknya.


"Me too mas. " jawab Venia memeluk tubuh berkeringat sang suami. Keduanya segera membersihkan diri kemudian memakai pakaian mereka dengan cepat.


"Mas aku langsung pulang ya. " pamit Venia.


"Kamu hati hati sayang. " ucap Sergio. Venia mendekati suaminya, mencium prianya sekilas lalu pamit ke luar dari ruangan Sergio.


Skip


Mansion


Melihat Winna yang telah datang, Venia langsung menunjukkan kamar wanita itu. Dia pun sengaja menempatkan adiknya itu di kamar pembantu. Winna berdecak pelan, merasa tak terima di tempatkan di kamar pembantu.


"Kenapa aku di tempatkan di sini? " tanya Winna menyeruakan pendapatnya.


"Memangnya mau di tempatkan di mana Winna, harusnya kamu bersyukur kamar pembantu semegah ini. " ketus Venia dengan nada sinisnya.


"Lebih baik mana kamar ini apa kamar sugar daddy kamu itu. " sarkas Venia. Venia juga telah memanggil pelayan lain.


"Oh ya beritahu Winna apa saja tugasnya. " pinta Venia dengan tegas pada pelayannya. Setelah itu dia pun pergi dari sana langsung menaiki tangga menuju ke kamarnya.


Winna menahan kekesalannya, dia terpaksa menerima keputusan sang kakak.

__ADS_1


Sore harinya Sergio pulang dari kantor. Pria itu masuk ke dalam dan menyapa kedua anaknya di ruang tamu. Dia rampao terkejut melihat kehadiran sosok Winna di rumahnya.


"Venia. " teriak Sergio dengan keras.


Venia tentu saja langsung ke luar dari dapur menghampiri suaminya. Dia mengerutkan kening melihat raut datar sang suami.


"Kenapa Winna ada di sini? " geram Sergio.


"Dia pembantu di sini. " jawab Venia dengan santai.


"Apa kau gila Vee, wanita murahan itu dulunya pernah berniat menggoda aku. " pekik Sergio emosi. Venia terkejut mendengar pengakuan suaminya barusan. Dia melirik kearah sang adik dengan tatapan datar nya.


"Sebaiknya kau tenangkan diri kamu sayang. Lagipula Winna bukanlah siapa siapa aku. aku pun akan memperlakukan dia seperti pembantu pada umumnya. " cetus Venia dengan kejam.


Winna terkejut mendengar ucapan sang kakak barusan. Venia menoleh kearah Winna, menatapnya dengan lekat.


"Sekarang kau bukan putri manja lagi Winna, mulai sekarang biasakan kamu memanggil saya nyonya dan suami saya Tuan. " ucap Venia menjeda ucapannya.


"Selain itu kau juga harus menjaga sikap kamu atau saya akan melaporkan kamu pada istri sah pria yang menjadikan kamu simpanan nya! "


Fokusnya teralihkan pada si kembar. Venia mengusap kepala kedua anaknya secara bergantian.


"Lanjutkan mainnya sayang, mommy dan Daddy ke kamar mommy. Oh ya kalau mbak Winna nya jahat sama kalian, kalian harus lapor sama mommy nak. " ucap Venia dengan lembut.


"Siap mommy. " pekik Finn dengan semangat. Venia langsung mengajak suaminya pergi dari ruang tengah.


Pasangan suami istri itu mengobrol di dalam kamar. Keduanya pun membahas mengenai kehadiran Winna di kediaman mereka.


Venia meyakinkan sang suami jika semuanya akan baik baik saja nantinya. Sergio tentu saja masih berat dengan kehadiran Winna di kediaman mereka.


"Percaya sama aku mas, semuanya pasti akan baik baik saja. Aku melakukan hal ini sebagai pelajaran untuk wanita itu. " tegas Venia dengan sungguh sungguh.


"Baiklah aku percaya sama kamu, lagipula di mansion ini sudah terpasang cctv 'kan? " tanya Sergio.


"Sudah mas. " jawab Venia sambil tersenyum.


"Aku mandi dulu. " Sergio melesat ke kamar mandi.Venia tentu saja membiarkan sang suami membersihkan diri. Wanita cantik itu kembali turun ke bawah, dia menemui si kembar di ruang tamu.


Winna sendiri hanya diam, memperhatikan interaksi Venia dan si kembar. Dia merasakan iri melihat kakaknya bahagia, sementara dirinya hanya ada kesedihan dan kesengsaraan.


"Aku permisi ke belakang. " Winna langsung bangkit, wanita itu pergi meninggalkan sepasang ibu dan anak anaknya itu. Venia menoleh, tersenyum miring menatap kepergian adiknya.


"Inilah yang aku rasakan dulu saat mommy dan daddy justru membela kamu Win! "

__ADS_1


Fokusnya kembali tertuju pada si kembar. Canda tawa mewarnai obrolan mereka bertiga. Venia tentu saja sangat suka melihat Winna dalam keterpurukannya seperti saat ini.


__ADS_2