(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 50 Pernikahan Kontrak


__ADS_3

Setelah cukup lama berpikir di kamar. Venia telah membuat kesepakatan besar. Dia pun mengumpulkan kembali suaminya dan Anna ke ruang tamu.


"Aku ingin kamu menikahi Anna


mas! " tegas Venia.


Sergiopun membulatkan mata mendengar permintaan istrinya yang begitu mengejutkan. Pria itu tentu saja menolak ide yang di berikan istrinya saat ini.


"Mas, kamu telah melakukan kesalahan. Kamu sadar enggak sih telah menghancurkan hidup seorang gadis mas. " pekik Venia emosi.


"Tapi aku tetap tak setuju dengan pendapat gilamu itu Venia. " protes Sergio.


"Lalu bagaimana jika Anna hamil mas? " Pertanyaan Venia kali ini kamu membuat Sergio bungkam. Dia pergi ke negara ini untuk membantu istrinya berobat namun justru dia harus mengalami hal ini.


Venia menghela nafas berat, dia berusaha mengontrol dirinya saat ini. Hati istri mana yang tak sakit mendapati kenyataan pahit ini namun dia tak bisa berbuat apa apa. Kejadian ini seakan menjadi karma untuknya, minggu lalu dirinya hendak berbuat licik untuk menjebak suaminya dengan sang adik. Hanya ada penyesalan setelahnya, Venia harus menjaga bicaranya setelah ini.


"Jika kamu tak mau menikahi Anna, aku akan membenci kamu mas. " tegas Venia. Sergio mengusap wajahnya kasar, dia tak punya pilihan lain.


"Fine, aku akan menikahi Anna. " ujar Sergio dengan wajah datar nya. Pria itu lekas bangkit, meninggalkan kedua wanita itu di ruang tamu. Sepeninggal sang suami, Venia hanya bisa menghela nafas berat.


Anna langsung mendekatinya, meminta maaf atas apa yang terjadi. Dia memohon untuk membiarkan dirinya pergi dan melupakan apa yang terjadi.


"Ini terjadi karena jebakan nyonya, kalau tidak percaya ayo pergi ke hotel itu dan meminta cctv sebelum kejadian. " mohon Anna dengan nada ketakutan.


"Enggak Anna, kamu akan tetap di sini sampai mas Gio menikahi


kamu! " tegas Venia. Anna hanya mampu menangis, dia merasa hidupnya benar benar hancur. Gadis itu tak menyangka jika dirinya akan menghancurkan rumah tangga orang lain.


Anna langsung bangkit dan berniat pergi namun Venia mencekal tangannya kuat. Dia meminta Anna untuk menurut dan menerima keputusannya. Mau tak mau Anna kembali duduk di sofa.

__ADS_1


Sore harinya dengan hati terluka, Venia ikut menemani suaminya pergi ke kantor urusan pernikahan. Di sana dia menyaksikan Sergio dan Anna menandatangi buku nikah dan surat perjanjian. Setelah selesai ketiganya langsung pulang begitu saja.


Skip


Venia menunjukkan kamar Anna saat ini. Dia juga menyiapkan segala keperluan untuk madunya itu. Mengingat kenyataan ini membuat perutnya kembali terasa sakit. Wanita itu lekas kembali ke kamarnya, meminum obat yang di berikan dokter padanya.


Dia kembali ke atas ranjangnya. Berusaha menenangkan perasaan dirinya yang begitu hancur. Mau tak mau dia harus menerima kehadiran Anna dalam hidupnya bersama Sergio.


"Ya Tuhan ini semua apa karmaku, kemarin aku sempat bersikukuh memaksa mas Gio menikahi Winna. Dan sekarang suamiku menikahi wanita lain sesuai keinginan aku. " gumam Venia dengan lirih.


Wanita itu hanya bisa menyesali semuanya yang telah terjadi.Dia hanya perlu waktu untuk menerima ini semua. Venia lekas bangkit, namun kepalanya terasa pusing.


Bruk


Venia jatuh tak sadarkan diri di atas lantai. Cklek pintu terbuka Sergio masuk ke dalam, membulatkan mata mendapati istrinya kembali pingsan. Pria itu lantas berlari kearahnya kemudian menggendong sang istri dan membawanya ke atas ranjang. Lalu Sergio memanggil dokter untuk memeriksa istri tercintanya.



"Lakukan sesuatu dok, supaya istri saya bisa pulih! " ujar Sergio.


"Saya akan mengusahakan Tuan, sisanya hanya bisa berdoa pada Tuhan. " ungkapnya. Dokter dan suster kembali ke dalam kamar Venia.


Sergio sendiri tampak frustrasi menghadapi dua kenyataan pahit hari ini. Dia terus merutuki kebodohannya yang tak curiga pada kejadian semalam. Jika dia lebih cerdas, kejadian kemarin malam tak akan terjadi.


Pria itu membiarkan dokter dan suster menjaga Venia, dia memilih pergi ke ruang tamu. Tubuhnya begitu lelah hari ini begitu juga dengan jiwanya.


"Maaf Tuan saya bawakan kopi untuk Anda. " Anna datang membawakan kopi untuk Sergio, lalu di taruhnya di atas meja. Setelah itu Anna pergi dari sana, dia tak ingin mengganggu suami kontraknya.


Setelah kepergian Anna, Sergio segera menyesap kopi buatan istri keduanya. Lalu kembali menaruh ponselnya di atas nakas. Lama lama dia semakin gila jika mendapati dirinya telah menikah kontrak dengan Anna.

__ADS_1


Pria tampan itu lekas bangkit, dia pergi ke kamar istri pertamanya. Sergio langsung masuk ke dalam, setelah menyuruh dokter dan suster ke luar.


"Sayang, apa perut kamu masih sakit? " tanya Sergio dengan nada khawatirnya.


"Masih mas, sepertinya kemoterapi yang di lakukan kemarin tak membuat tubuhku membaik namun justru semakin parah. " ungkap Venia dengan lirih.


Venia mengangkat tangannya, Sergio langsung menggenggam nya dengan erat. Sepertinya ada yang ingin di ucapkan wanita itu pada sang suami.


"Tolong perlakukan Anna dengan baik seperti kamu memperlakukan aku. Entah kenapa aku merasa gadis itu bukan wanita penggoda. " ungkap Venia dengan serius.


"Diamlah sayang, sebaiknya fokus saja pada kesehatan kamu. Untuk sementara kamu lebih baik berbaring saja di ranjang. Kalau perlu apa apa kamu bisa memanggil suster ataupun Anna! "


"Untuk sementara kamu tidur satu kamar dengan Anna mas, dia juga istri kamu. " pintanya sambil memohon.


"Berhentilah bicara sayang, lebih baik istirahat saja. " tegas Sergio yang membuat Venia bungkam. Pria itu langsung bangkit dan memanggil suster untuk menjaga sang istri.


Sergio memilih ke luar, dia berusaha mengontrol dirinya agar tak lepas kendali di depan Venia. Tanpa sengaja dia melihat Anna di depan ruangan Venia.


"Apa kau ingin berbicara dengan Venia? " tanya Sergio.


"Iya Tuan, apa boleh? " tanya Anna.


"Istriku perlu istirahat, besok saja kalau kau ingin bicara dengannya. " ujar Sergio dengan nada datarnya. Sergio langsung lewat begitu saja. Anna sendiri memilih kembali ke kamarnya yang ada di lantai bawah.


Kini Sergio berada di kamar lain, dia menerima telepon dari orang tuanya. Pria itu tentu belum sanggup membicarakan apa yang terjadi di antara dirinya dan Anna. Dia berusaha mencari solusi untuk masalahnya saat ini.


Teringat dengan pembicaraan dengan sang istri tadi membuatnya kesal. Sergio merasa Anna menjadi benalu dalam rumah tangganya dengan Venia. Pria itu semakin benci sosok istri kontraknya itu. Sampai kapanpun dia tak akan pernah menganggap Anna. Hanya Venia yang akan menjadi istrinya,wanita yang dia cintai satu satunya.


"Ah sial, aku harap Venia mau memaafkan kebodohanku itu. " gumam Sergio penuh harap.

__ADS_1


Dia kembali mengusap wajahnya dengan kasar, memyimpan ponselnya ke dalam saku.


__ADS_2