(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 55 Kebencian Devan pada Anna


__ADS_3

Enam bulan kemudian


Perut Anna terlihat membuncit saat ini. Wanita itu sibuk mengurus dapur, setelah selesai dia pergi ke ruang tengah.



Anna mengusap perutnya yang membuncit. Merasa lelah dia memilih duduk di sofa sambil menyapa sang calon buah hati. Wanita hamil itu merasakan pergerakan dari dalam perutnya.


"Sudah lama aku tak ke makam kak Venia. " gumam Anna sambil menghela nafas berat. Dia kembali bangun dan berdiri dengan hati hati. Anna segera mengganti pakaiannya, kemudian mengambil tas. Segera ke luar dari rumah dan mengunci pintu. Wanita hamil itu terus berjalan hingga ke jalan besar. Dia pun menghidupkan ponselnya kemudian memesan taksi.


Skip


Di jalan dia sempat membeli bunga lebih dulu hingga Anna sampai di area pemakaman. Wanita itu turun dan meminta sang sopir untuk menunggu. Anna lekas ke dalam dan pergi ke makam Venia. Dia langsung meletakkan buket bunganya di atas makam Venia.


"Maafin aku kak, aku baru datang ke makam kamu. " gumam Anna.


"Baby dalam perutku sangat sehat, dan maaf karena aku mengingkari janjiku padamu. " lanjutnya sambil tersenyum.


Tiga puluh menit berlalu Anna ke luar dari sana dan kembali ke dalam taksi. Tanpa dia sadari ada yang memperhatikannya dari jauh dan langsung mengikutinya.


Sepanjang perjalanan Anna banyak diam. Untuk saat ini dia berusaha melupakan sosok Sergio dalam hati dan kehidupannya. Terkesan egois memang, hanya saja kehadirannya justru akan membuat nama baik keluarga suaminya menjadi buruk.


"Maafin Bunda ya sayang, Bunda menjauhkan kamu dengan daddy kamu. " gumam Anna sambil mengusap perut buncitnya. Kini wanita hamil itu turun dari taksi sambil tersenyum.


"Jadi kau tinggal di sini Anna? " suara bariton seseorang membuat tubuh Anna menegang. Wanita itu mau tak mau menoleh ke belakang. Hatinya mencelos melihat seseorang yang tak ingin dia lihat.


"Jadi kau mengikutiku sedari tadi kak Devan? " tanya Anna dengan nada datarnya.


"Iya dan lihatlah betapa menyedihkan dirimu saat ini." ucap Devan dengan nada mencelanya.


"Aku bahagia bersama calon bayiku kak Devan, bukankah dulu kamu menganggap aku sebagai wanita murahan dan untuk apa mengikuti wanita sepertiku? " sindir Anna dengan sinis.


Devan kehilangan kata kata dengan sindiran pedas Anna padanya. Dia menunjukkan cincin di jarinya pada wanita di hadapannya sekarang.


"Aku ucapkan selamat untukmu, sebaiknya kamu pergi dari rumah kumuhku ini! " usir Anna dengan terang terangan.

__ADS_1


"Dasar wanita bodoh dan murahan. " Maki Devan yang berlalu pergi dari hadapan Anna. Anna menghela nafas berat, melihat kepergian pria yang dulunya dia kagumi itu. Dia memilih masuk ke dalam rumahnya.


Anna mengusap perut buncitnya, dia berusaha tak memikirkan ucapan kasar Devan barusan. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibirnya. Dia tak akan membiarkan siapapun menghina calon bayi dalam kandungannya.


"Apa kamu merindukan daddy kamu sayang? " tanya Anna. Dan baby dalam perutnya kembali menendang membuat Anna meringis pelan. Anna menghela nafas pelan, sepertinya calon baby nya memang merindukan Sergio, daddy.


Anna mengambil ponselnya, dia mulai mengetik nomor sang suami. Dengan jantung berdebar debar dia langsung menghubungi nomor pria itu.


"Halo. " suara bariton di ujung dan membuat mata Anna berkaca kaca. Dia benar benar merindukan pria itu, pria yang merupakan ayah dari bayi yang dia kandung.


"Jika tidak bicara aku akan mematikan nomor ini. " ancam Sergio.


"Mas Gio. " sapa Anna sambil menggigit bibirnya.


"Anna. " jawab Sergio memanggil wanita yang mengandung calon anak ketiganya. Anna justru mematikan sambungannya lebih dulu.



Wanita hamil itu menangis tergugu. Dia masih belum siap bertemu dengan pria itu. Rasa bersalah itu terus membayanginya. Di mana dia telah menghancurkan keutuhan rumah tangga Sergio dengan mendiang Venia. Setelah beberapa menit dia mulai tenang. dia memilih pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Sore harinya terdengar suara gedoran pintu dari luar. Anna tentu saja panik, dia sangat takut jika Devan kembali datang untuk menganggunya. Wanita hamil itu lantas keluar dari kamar dan pergi ke depan.


"Anna. " Sergio bergerak pelan menghampiri istrinya. Keduanya pun saling berpelukan satu sama lain. Pria itu ternyata tak berhalusinasi saat ini, di kecupnya pelipis sang istri.


Anna sendiri masih syok dengan pertemuan nya dengan Sergio. Sergio melepaskan pelukannya, fokusnya kini tertuju pada perut buncit sang istri. Keduanya masuk ke dalam dan duduk di sofa. Anna mengusap kepala suaminya, Sergio sibuk menciumi perut sang istri, menyapa buah hati mereka.


Hot Daddy itu duduk kembali dengan tegap sambil mengusap perut Anna. Dia tak henti hentinya menciumi wajah wanitanya. Sergio justru mengangkat istrinya ke atas pangkuannya.


"Mas turunkan aku, aku berat! " ucap Anna dengan khawatir.


"Kenapa kamu malah sembunyi, bukankah harusnya kamu bersama Devan? " tanya Sergio dengan kening berkerut.


"Kak Devan mau menerima aku asalkan aku menggugurkan janinku mas. " ungkap Anna yang menjelaskan semuanya tanpa terlewati. Sergio mengepalkan tangan mendengar penjelasan Anna barusan.


Anna memperhatikan penampilan suaminya yang tak terurus. Diapun menyentuh wajah tampan sang suami dengan lembut.

__ADS_1


"Kenapa penampilan kamu berantakan mas, kepergian aku bukan alasan untuk kamu tak bisa move on mas. " omel Anna.


"Lalu apa aku harus mengabaikan kamu dan baby begitu saja begitu. Justru aku akan semakin bersalah pada mendiang Venia, aku mengingkari janjiku padanya Anna! " sahut Sergio dengan tegas.


"Rasanya aku ingin memutar waktu mas, sungguh rasanya sangat sakit kala mengingat kehadiran aku membuat keutuhan rumah tangga kamu dan kak Venia retak. " ungkap Anna mengeluarkan uneg unegnya.


Keduanya berpelukan di warnai lelehan air mata. Sergio membujuk wanita nya untuk pulang bersama. Anna tetap dengan keras kepala membuat Sergio geram.


"Pilih mana kita pulang atau bercint4 di sini? " ujar Sergio dengan nada datarnya.


"Apaa?? Anna membulatkan nata mendengar pertanyaan dari suaminya barusan.


"Pulang saja. " jawab Anna dengan pasrah. Sergio tersenyum puas melihat Anna yang menurutinya.


Dia mengambil tas sang istri lalu menyerahkan pada Anna,dia bangkit dan menggendong istrinya ke luar. Setelah istrinya duduk nyaman di dalam mobil, Sergio langsung melajukan mobil itu meninggalkan rumah lama Anna.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan di antara keduanya. Anna sibuk mengusap perut buncit nya sambil mengajak calon bayinya mengobrol.


Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di Villa. Sergio langsung membantu istrinya ke luar dari mobil dan masuk ke dalam Villa. Suasana Villa saat ini terasa sepi,si kembar di ajak para oma dan opanya pergi ke pantai.


"Si kembar mana mas, aku ingin meminta maaf pada mereka? " tanya Anna.


"Mereka pergi ke pantai bareng opa dan omanya. "


"Kita susul mereka ke sana mas? " desak Anna namun Sergio justru menggeleng tak setuju.Wanita hamil itu langsung cemberut melihat suaminya tertawa.


"Aku masih merindukanmu, kau wanita jahat tahu. Kau membiarkan aku menderita selama enam bulan, dan terus bermain dengan miss


Lux. " dengus Sergio.


Haha


Anna menertawakan penderitaan yang di alami sang suami. Sergio berdecak pelan, dia mengusap perut istrinya lagi. Melihat wajah masam suaminya membuat Anna menghentikan tawanya.


"Sebenarnya belum waktunya untuk kita bertemu mas. " cetus Anna.

__ADS_1


"Apa kau tak merindukanku? " cecar Sergio dengan kening berkerut.


Anna menggeleng, dia pun langsung membeberkan alasannya pada sang suami. Sergio menghela nafas panjang, mengusap kepala istrinya dengan lembut.


__ADS_2