(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 79 Season 2 Chap 12 Irene & Henry 2


__ADS_3

Hari berikutnya Irene ke luar dari kamarnya, wanita itu menyeret kopernya. Rencananya kali ini dia akan pergi ke negara Y untuk liburan.


"Mom, Dad aku pamit. " ucap Irene. Mami Ivy langsung bangkit, memeluk erat sang anak. Dia merasa berat melepaskan kepergian putrinya itu.


"Aku mohon, hanya beberapa bulan di sana. Aku perlu menyembuhkan luka hatiku mami. " ucap Irene melepaskan pelukannya. Mami Ivy mencium keningnya, mengantar putrinya hingga ke depan.


Mereka semua langsung masuk ke dalam mobi. Mami dan papi akan mengantar sang anak hingga ke bandara. Sepanjang perjalanan Mami mengobrol dengan Irene, memberikan nasehat pada sang anak.


Tiba di Bandara


Mereka saling berpelukan, Irene kembali meminta maaf pada sang mami tercinta. Irene menghela nafas panjang, mengusap air matanya kemudian berpamitan pada orang tuanya. Dia mengambil alih kopernya kemudian menyeretnya. Irene segera check in penerbangan.


"Irene ninggalin kita Pi. " gumam Mami terisak dalam pelukan sang papi. Pria paruh baya itu menenangkan sang istri lalu mengajaknya pergi.


Beberapa menit berlalu sebuah mobil datang. Henry mendapat informasi dari anak buahnya mengenai Irene. Berkali kali dia mengumpat, berusaha masuk ke dalam pesawat namun petugas melarangnya.


Henry tentu saja mencari cara lain, dia pergi ke pusat. Langkahnya terhenti kala mendengar pesawat yang membawa Irene akan berangkat dalam hitungan menit.


Tangannya terkepal kuat, dia gagal menghentikan kepergian Irene. Dia merutuki kebodohannya, harusnya kemarin dia tak membiarkan Irene pergi dari sisinya.


Henry menanyakan kepergian Irene pada petugas. Setelah mengetahui di mana negara yang di tuju wanitanya, dia memilih penerbangan selanjutnya. Pria itu kembali ke mobil dan melesat meninggalkan bandara.



Saat ini Irene telah sampai di penthouse yang ada di kota Casillas, negara Y. Setelah menaruh barang barangnya, Irene memilih mengenakan bikini kemudian berenang. Dia begitu menikmati keindahan yang ada di depannya ini.


"Beautiful. " gumam Irene. Dia berharap pelariannya ini bisa membuat suasana hatinya kembali ceria seperti dulu sebelum banyak masalah. Dia ingin melupakan segalanya tentang Felix dan juga Henry.


Setelah puas berenang, dia segera naik ke atas. Mengambil jubah kemudian memakainya, Irene masuk ke kamar dan mengganti pakaiannya. Wanita cantik itu pergi ke Resto yang letaknya tak jauh dari penthouse. Disana dia menyantap makanannya dengan lahap.

__ADS_1


Selesai makan Irene memilih jalan jalan di sekitaran pantai. Suasana tampak ramai, dia bisa melihat bule bule tampan di sini. Wanita itu melanjutkan langkahnya, rasanya sangat menyenangkan kala suasana tampak nyaman dan aman.


Merasa lelah Irene memilih kembali ke penthouse miliknya. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.


Tepat pukul tujuh malam Irene terkejut dan hampir berteriak kala sepasang lengan kekar memeluk dirinya. Dia langsung menoleh, terkejut melihat kehadiran Henry di dekatnya.


"Kau, kenapa kamu ada di sini. " pekik Irene dengan keras membuat Henry membuka matanya. Pria itu lantas bangun, tersenyum miring kearah wanitanya.


"Aku menyusulmu baby! " jawab Henry dengan santai. Irene memukulinya mengunakan bantal, dia lantas segera menyingkir. Henry segera bangun dan mengejarnya.


Grep


Henry memeluk Irene dari belakang, Irene tak bisa memberontak kali ini. Wanita itu berbalik, Henry langsung menciumnya dengan liar. Pria tampan itu segera menggendong wanitanya menuju ke atas ranjang.


Malam ini menjadi malam panjang mereka. Henry begitu candu dengan kenikmatan yang di berikan Irene padanya.


Keesokan harinya Irene terbangun, dia kira semalam hanyalah mimpi namun Henry nyata di depan matanya saat ini. Wanita itu mengeratkan selimut yang menutupi tubuh polosnya saat ini.


Henry membuka matanya, pria itu lekas duduk dan memeluk Irene. Dia mencium bahu polos wanitanya, menyapa wanita pujaan nya ini.


"Aku tak akan membiarkan kamu pergi baby. " gumam Henry. Irene menghempas tangan Henry, sementara Henry telah memakai celananya. Pria itu menghela nafas berat mendapati penolakan dari Irene.


Irene membawa pakaian ganti ke kamar mandi. Tak lama wanita itu ke luar dan membiarkan Henry mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan berpakaian, Henry mengajak Irene berbicara di ruang tamu.


"Aku akan bertanggung jawab padamu Irene! " ujar Henry dengan sungguh sungguh.


"Tak perlu sebaiknya kau pergi dari sini. " usir Irene secara terang terangan. Tak ada kesedihan di kedua mata Irene, Henry mengepalkan kedua tangannya. Harapan Henry seketika pupus, dia berharap Irene mau menerimanya namun ternyata semuanya hanya angan angannya.


"Aku mohon pergilah dan jangan ganggu aku. Kehadiran kamu hanya akan justru membuat hidupku semakin hancur Tuan! "

__ADS_1


Dua kali mendapat penolakan membuat Henry merasa terhina. Pria itu menunjukkan kemarahannya, memaki Irene yang tak tahu diri. Irene sendiri hanya diam tampa menanggapi cacian dari Henry. Wanita itu hanya melihat Henry yang bangkit dan pergi dari penthouse miliknya.


"Wanita bodoh. " maki Henry.


Setelah kepergian Henry, Irene lekas mengunci pintu penthousenya. Terdengar helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Dia memilih pergi ke dapur, membuat minuman untuk dirinya sendiri.


Irene membawa makanan dan minuman ke ruang tengah. Diapun fokus pada sarapannya saat ini. Selesai sarapan wanita itu membawa piring kotornya ke dapur dan mencucinya di sana.


Irene pergi ke lantai dua untuk mengambil ponselnya. Dia kembali turun ke bawah dan pergi ke teras.


"Halo Mami. " sapa Irene dengan wajah cerianya.


"Sayang bagaimana kabar kamu di sana? " tanya Mami Ivy.


"Aku baik baik saja mami. " jawab Irene sambil tersenyum lebar. Mereka saling menanyakan kabar satu sama lainnya.


Satu jam berlalu Irene mengakhiri obrolan mereka. Wanita itu merasa bersalah telah membohongi mami dan papi. Irene menaruh ponselnya di atas meja. Dia hanya butuh kedua orang tuanya saat ini, namun Irene sendiri tak berani berkata jujur.


Wanita itu menyandarkan tubuhnya di sofa. Semuanya telah terjadi, dia hanya bisa menjalani takdir hidupnya dengan baik. Teringat cacian dari Henry membuat Irene merasa sakit hati. Dia merasa semua pria sama saja dan tak bisa dia percaya sama sekali.


"Kenapa ini harus terjadi padaku, kenapa? " gumam Irene lirih. Irene merasa Henry hanya menjadikan dirinya sebagai pemuas nafsu pria itu. Dering ponselnya menyita perhatian Irene, dia langsung mengambilnya.


From Henry


Temui aku di pantai, kalau tidak aku akan menyebarkan video kita.


Irene langsung membalas pesan itu dengan cepat.


Me : Sebarkan saja Tuan, lagipula hidup saya sudah hancur.

__ADS_1


Irene langsung memblokir nomor Henry, dia telah menerima apa yang terjadi padanya. Sesungguhnya dia kabur karena tak ingin membuat nama baik keluarga tercemar karena dirinya.


"Mami, Papi maafin Irene. Aku belum bisa menjadi putri kalian yang membanggakan. " gumam Irene lesu.


__ADS_2