(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 94 Season 2 Chap 27


__ADS_3

Hari di lalui Ashley dengan penuh kebahagiaan. Usia kandungannya kimi memasuki delapan bulan. Kini dia tengah asik mengobrol dengan adik iparnya Karamel. Mereka berdua sama sama tengah hamil saat ini.


"Rasanya deg deg an Kara. " ungkap Ashley sambil mengusap perut besarnya.


"Ya aku juga merasa nervous meski masa kelahiran bayiku masih lama. " sahut Karamel sambil tersenyum.


Ashley pun terkadang berkomunikasi dengan Alicia, saling bertukar kabar. Dia tentu menghormati keputusan adiknya yang ikut dengan Steven dan memilih pindah ke negara lain.


Dering ponselnya menyita perhatian mereka. Ashley langsung meraih ponselnya.


"Apa, kami akan ke sana sekarang. " ujar Ashley.


"Ada apa Ash? " tanya Karamel pada kakak iparnya.


"Suamiku, dia mengalami kecelakaan. " ungkap Ashley dengan mata berkaca kaca. Karamel ikut terkejut, keduanya lekas bangun dengan perlahan. Dia segera memanggil Finn dan ketigamya pergi ke rumah sakit.


Ashley tak berhenti menangis, Karamel berusaha menenangkan nya namun tak mempan. Beberapa menit berlalu mereka akhirnya sampai di rumah sakit.


Ketiganya turun dari mobil, mereka bergegas menemui mami yang telah ada di sana. Ashley langsung memeluk sang mertua, tangisnya langsung pecah.


"Bunda, katakan apa yang terjadi. Kenapa bisa Felix kecelakaan seperti ini? " tanya Ashley dengan wajah sembab berurai air mata.


"Ada yang sengaja menyabotase mobil suamimu nak, tapi daddy Sergio dan polisi tengah melakukan penyelidikan. " ujar Bunda Anna.


Ashley menangis sesegukan, dia begitu takut bila terjadi pada suaminya. Mami membujuknya untuk duduk di kursi, dia merasa khawatir dengan keadaan menantu dan calon cucunya.


Wanita paruh baya itu memeluk sang menanti, berusaha menguatkannya. Dia turut merasakan sakit sama seperti yang di rasakan Ashley.


Dokter ke luar dari ruangan UGD, Bunda Anna langsung meminta penjelasan dari dokter.


"Tuan Felix mengalami benturan pada kepalanya namun tak sampai membuatnya amnesia. "


"Selain itu salah satu tangannya ada yang mengalami cedera hingga mengalami patah tulang tapi kami telah memasang gips pada tangan tuan Felix." ujar dokter panjang lebar.


Bunda Anna turut sedih dengan apa yang di alami putranya. Suster dan lainnya memindahkan Felix ke ruangan VIP. Ashley dan lainnya segera menyusulnya. Wanita hamil itu masuk ke dalam ruangan sang suami.


Ashley terus menangis melihat kondisi suaminya saat ini. Dia mengusap wajah suaminya dengan sorot sendunya.


satu jam kemudian


Felix membuka matanya, pria itu hendak bangun namun Ashley melarangnya.


"Sayang, jangan bangun dulu. Kata dokter, lengan kiri kamu cedera hingga terjadi keretakan makanya pakai gips. " jelas Ashley dengan wajah sembab nya.


Felix mengerjapkan mata, dia merasa bersalah telah membuat istrinya khawatir. Tangannya terulur mengusap pipi wanitanya.


"Aku enggak papa sayang, tangan kiri aku pasti akan cepat sembuh. " ungkap Felix.


"Tapi aku sangat takut By, untungnya hanya tangan kamu kalau aku kehilangan kamu gimana hiks? " Ashley kembali menangis, tangisnya langsung pecah.

__ADS_1


"Berhentilah menangis sayang, pikirkan juga bayi dalam kandungan kamu. Lebih baik duduk dulu dan tenangkan diri kamu. " ujar Felix.


Ashley duduk di kursi sesuai perintah suaminya. Wanita hamil itu buru buru menghapus air matanya. Bunda Anna dan Daddy masuk ke dalam ruangan. Dua paruh baya itu langsung menanyakan keadaan putra mereka itu.


"Sayang aku marah jika kamu masih menangis seperti ini. " tegur Felix pada istrinya. Ashley menangis sesegukan, rasa takut itu masih ada dalam benaknya.


"Nak, diamlah. Kamu jangan memarahi Ashley. Wajar bila seorang istri mengkhawatirkan suaminya. " tegur Bunda Anna dengan tegas.


Felix menghela nafas panjang dan memilih diam setelah mendengar omelan bundanya. Setelah tenang Ashley memilih bangkit membuat semuanya mengerutkan kening.


"Sayang kau mau ke mana nak? " tanya Bunda pada menantunya.


"Pulang bun, lagipula ada yang tidak menginginkan kehadiranku. Rasanya wajar bila seorang istri menangisi keadaan suaminya, asalkan bukan suami orang. " ujar Ashley dengan raut datarnya.


Felix membulatkan mata mendengar ucapan istrinya barusan. Dia hendak meraih tangan sang istri namun Ashley menepisnya dan memilih ke luar dari sana.


"Ashley sayang hey. " Felix berniat bangun namun bunda melarangnya. Wanita paruh baya itu langsungke luar dan mengejar menantunya.


"Ssh. " Felix merasakan sakit pada lengan kirinya. Daddy Sergio menghela nafas berat, duduk di dekat putranya.


"Perasaan istrimu begitu sensitif kamu malah marah marah son. Harusnya kamu menghiburnya malah marah sama Ashley. " Daddy Sergio turut menyalahkan sang anak. Felix mengatupkan bibirnya rapat, pria itu memijit kepalanya yang terasa pusing.


Bunda Anna sendiri mengajak menantunya duduk di taman rumah sakit. Wanita paruh baya itu banyak memberikan nasehat pada Ashley.


"Aku pulang saja ya Bunda, bareng Karamel dan Finn. " ujar Ashley sambil memaksakan senyumnya.


kamu. " ujar Bunda lagi.


"Iya Bunda. " balas Ashley sambil tersenyum tipis. Bunda Anna mencium keningnya, membantunya berdiri. Finn dan Karamel datang dan mengajak Ashley pergi.


Bunda Anna memilih membelikan makanan untuk sang anak lebih dulu setelah itu kembali ke ruangan Felix. Wanita paruh baya itu langsung menyuapi Felix dengan sabar.


"Ashley mana Bun? " tanya Felix.


"Pulang. " Jawab Bunda dengan singkat.


"Habiskan makananmu nak. " ujar Bunda yang kembali menyuapi Felix.


Selesai makan, Felix terdiam. Dia merasa bersalah pada istrinya. Pria itu merutuki kebodohannya, bagaimana bisa dirinya marah pada Ashley.Dia meminta sang bunda menghubungi Ashley sekarang juga.


Bunda Anna mengikuti keinginan sang anak.


"Sayang, apa kamu sudah sampai di rumah? " tanya Bunda pada menantunya.


"Sudah Bun! "


"Er ini suami kamu mau bicara sama kamu nak. " bujuk Bunda pada menantunya yang tengah ngambek. Bunda Anna menyerahkan ponselnya pada Felix.


"Sayang maafkan aku, aku telah membuatmu kesal dan marah saat ini. " ungkap Felix.

__ADS_1


"Baiklah aku maafkan, aku tutup dulu By! "


Tut


Felix dengan lesu menyerahkan ponsel milik bundanya. Bunda Anna menyimpan ponselnya dalam tas. Fokusnya kembali tertuju pada anaknya.


"Biarkan istri kamu menenangkan dirinya nak,mungkin besok dia sudah tenang dan mau menjenguk kamu. " pungkas Bunda Anna dengan bijak.


"Ini salahku Bunda, harusnya aku tak berbicara seperti tadi padanya. " sesal Felix.


Sore harinya Daddy Sergio baru saja mengantar putranya pergi ke kamar mandi. Setelah selesai cuci muka, Felix kembali ke ranjangnya dengan bersandar di headboard.


Felix tampak fresh setelah cuci muka. Namun tetap saja hatinya masih gelisah memikirkan istri tercintanya di rumah.


"Dad, apa daddy sudah tahu siapa yang berusaha mencelakaiku? " tanya Felix.


"Sepertinya salah satu klien yang berniat menyingkirkan kamu son atau justru musuhmu? "


"Musuh? " Felix terdiam, entah apa yang pria itu pikirkan saat ini. Dia teringat dengan Ezra, rivalnya. Namun dia mencoba menepis pemikiran konyol nya mengenai rivalnya itu.


Di Villa



Ashley kini berada di dalam walk in kloset. Wanita hamil itu baru saja selesai mandi dan berganti pakaiannya. Dia memilih ke luar dari sana dan berbaring di atas ranjang.


"Maafin mommy ya sayang, mommy kesal sama daddy kamu. " gumam Ashley mengusap perut besarnya. Dia merasakan pergerakan dari dalam perutnya.


Ashley menghela nafas panjang, dia teringat momen romantis nya bersama suaminya selama ini. Saat ini dia memang tengah kesal dengan Felix namun rasa cintanya pada sang suami tetaplah sama.


Wanita hamil itu menunduk, tersenyum lebar menatap perut besarnya. "Kita besok datang lagi menjenguk daddy kamu sayang. Mana mungkin mommy tak menjenguk daddy kamu. " ucapnya di sertai senyuman tipis.


Beberapa jam kemudian Ashley memilih ke luar dari kamar dan pergi ke meja makan. Malam ini dia akan di temani Finn dan Karamel. Ketiganya mengobrol dengan santai dan berharap Felix akan segera sembuh kelak.


"Aku enggak bisa marah sama Felix lama lama. Dia banyak berkorban demi aku Kara. " ungkap Ashley pada Karamel.


"Syukur deh kalau kamu marahnya gak lama lama. Kau hanya perlu bersabar Ash dan teruslah mendukung Felix. " tegur nya yang di angguki Ashley.


Mereka lantas fokus makan malam bersama di selingi obrolan kecil. Finn sesekali menanggapi obrolan dua wanita di depannya ini.


"Kalian sudah check kandungan? " tanya Ashley pada Karamel dan Finn.


"Sudah, baby girl dalam perut aku. " ungkap Karamel.


"Congrats ya. " ujar Ashley dengan tulus.


"Kamu juga, justru kamu duluan yang akan melahirkan nanti. Kamu hanya perlu jaga kesehatanmu Ash!


"Ya terimakasih atas nasehatnya Karamel! "

__ADS_1


__ADS_2