
Sorenya Winna langsung menemui sang kakak sekaligus meminta maaf pada Venia.
"Kakak boleh saja benci sama aku tapi tolong jangan benci mommy dan daddy. " pinta Winna penuh harap. Wanita itu menjelaskan keadaan sang Daddy pada kakaknya. Venia tertegun mendengar penjelasan mengenai orang tua mereka.
"Ini semua berawal dari kamu Winna. jika bukan karena kamu, aku tak mungkin membenci mommy dan daddy. " ujar Venia dengan sorot penuh kebencian.
"Kau mau membenciku hingga kamu mati juga tak masalah kak, lebih baik kakak temui mommy dan daddy di rumah sakit permata. " jelas Winna dengan nada datarnya.
Venia langsung pergi dari hadapan adiknya. Wanita itu meminta si kembar untuk bersiap siap. Mereka langsung pergi bersama sama ke rumah sakit. Setelah Venia dan keluarga kecil wanita itu, Winna langsung pergi ke kamarnya.
Skip
Ruang rawat, rumah sakit
Mommy Kinara terkejut melihat kehadiran keluarga kecil putri sulungnya. Venia langsung mendekati sang mommy, keduanya berpelukan dan saling meminta maaf satu sama lain. Wanita paruh baya itu menyesali perbuatannya di masa lalu pada Venia.
"Mommy, Daddy, mereka adalah anak anakku dengan mas Gio. " ujar Venia dengan lembut.
"Felix, Finn ayo sapa Opa Rama dan Oma Kinara. " ucap Venia pada kedua putranya. Kedua bocah itu langsung menyapa oma dan opanya. Nyonya Kinara menciumi dan memeluk kedua cucunya, kemudian mendekati sang opa yang berbaring di ranjang pasien.
Daddy Rama tampak sumringah, bahagia bisa bertemu kedua cucu laki lakinya. Venia dan Sergio memilih duduk di sofa, memperhatikan interaksi cucu dan nenek dan kakeknya itu.
Venia merasakan kelegaan yang luar biasa. Melihat kedua anaknya bertemu dengan oma dan opanya yang lain. Sergio sendiri merangkul bahu sang istri, mencium pelipis Venia dengan penuh kasih sayang.
Tiba tiba keringat dingin muncul di dahi Venia, wanita itu langsung pamit pada suami dan orang tuanya. dia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Venia menyentuh perutnya yang kembali sakit. Dia berusaha untuk tak mengeluarkan suara. Venia tak ingin suami dan orang tuanya mengetahui keadaannya yang sebenarnya. Setelah beberapa menit, kondisinya kembali membaik Venia baru ke luar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Oh ya mas, aku ke luar sebentar ya mau beli makanan. " elak Venia.
"Baiklah hati hati sayang. " ujar Sergio.
Venia ke luar dari ruangan rawat sang daddy. Wanita itu berjalan cepat menemui seorang dokter di ruangan lain. Entah apa tujuannya pergi ke sana.
Setengah jam berlalu dokter Salma baru selesai memeriksa keadaan Venia saat ini. Venia sendiri langsung bangun kemudian duduk di kursi.
"Kamu harus melakukan kemo terapi Venia. " ujar Dokter Salma pada pasien nya itu. Venia menggeleng, dia hanya perlu obat untuk mengurangi rasa sakit pada perutnya.
"Berikan saja obat untuk peredanya dokter. Aku masih ingin berkumpul dengan suami dan kedua anak kembarku. " pinta Venia sambil memohon. Dokter Salma menghela nafas berat, dia segera bangkit lalu mengambilkan obat untuk sang pasien.
Lalu dokter wanita itu menyerahkan obat pada Venia. Venia langsung menyimpannya dalam tas. Dia pun langsung mengumamkan terimakasih setelah itu pamit ke luar.
Baru tiga puluh menit Venia kembali ke ruangan sang Daddy. Dia pun menyerahkan makanan pada orang tua serta suami. Venia kini tengah memperhatikan kedua anaknya yang asyik makan dengan lahap. Wanita cantik itu mengobrol dengan sang suami.
"Sayang, gimana kalau kita rencanain untuk pergi bulan madu? " tanya Sergio dengan antusias.
"Sepertinya tak perlu mas, aku lebih suka liburan keluarga saja. " ucap Venia sambil tersenyum. Sergio menghela nafas panjang, dia mengikuti saran yang di berikan sang istri. Venia kini mengobrol dengan orang tuanya, menanyakan perihal rencananya itu pada mommy dan daddy.
Tepat pukul lima sore, keluarga kecil itu pamit pulang ke rumah. Venia membiarkan suami dan kedua anaknya naik ke lantai dua duluan. Wanita itu memilih memanggil Winna dan mengajaknya bicara.
Venia memberitahu rencana liburan pada adiknya itu. Winna tak merasakan curiga dengan rencana sang kakak.
"Sepertinya aku enggak perlu ikut kak Vee! "
"Kenapa, kalau ingin aku maafkan kamu harus ikut liburan bersama kami Winna. " tegas Venia. Winna menelan salivanya kasar, dia merasakan feelingnya tak enak namun dia mencoba menepis pemikiran konyol nya itu.
Winna hanya diam, dia berusaha menimbang bimbang tawaran yang di berikan sang kakak padanya. Dan pada akhirnya dia mengangguk setuju. Dia hanya ingin mendapatkan maaf dari kakaknya setelah itu menjauh dari kehidupan Venia dan orang tua mereka.
__ADS_1
Venia membahas hal lain agar adiknya tak mengetahui rencananya. Dan terbukti Winna tak bertanya mengenai kemana liburan mereka nantinya. Wanita itu sengaja membuat fokus sang adik teralihkan.
"Ya Tuhan, apa keputusanku ini sudah benar. Tapi aku tak punya pilihan lain, waktuku tak banyak
lagi. " gumam Venia. Dia berusaha tenang, sekuat tenaga berusaha mengontrol dirinya.
Terdengar suara helaan nafas berat. Venia juga memberikan izin agar Winna dekat dengan si kembar, hal itu membuat kening Winna berkerut. Dia merasa ada yang janggal dengan sikap aneh sang kakak. Sepertinya Venia menyembunyikan sesuatu dari semua orang tapi apa?
"Oh ya kak Vee, saat ini aku sedang dekat dengan seseorang. " ungkap Winna dengan rona bahagianya.
"Siapa pria itu Win? " tanya Venia penasaran.
"Rahasia dong kak, bolehkah aku ajak dia nanti saat kita liburan? " tanya Winna dengan nada antusiasnya.
"Boleh aja. " jawab Venia singkat. Dia terus memperhatikan wajah bahagia adiknya. Winna tentu saja sangat senang, dia langsung mengambil ponselnya kemudian mengirim pesan pada teman dekatnya.
Beberapa jam berlalu
Winna langsung pergi ke dapur, membantu pelayan lain menyiapkan sarapan. Dia berusaha untuk tak membuat kesalahan lagi. Setelah selesia masak, mereka langsung menyajikan di meja makan. Kemudian memanggil Venia dan kedua keponakannya.
"Win, ayo makan malam bareng. " ujar Venia yang membuat semua orang terkejut. Winna mau tak mau datang, memilih duduk di dekat si kembar. Suasana kini tampak hening hanya terdengar suara celotehan si kembar.
"Aunty Winna. " panggil Felix.
"Iya Felix ada apa boy? " tanya Winna penasaran.
"Bisakah tante, mengantar kami ke sekolah besok? " pinta Felix penuh harap. Winna langsung melirik kearah sang kakak, fokusnya kembali pada si kembar.
Winna mengangguk singkat sebagai jawaban. Dia tak kuasa menolak permintaan kedua keponakannya itu. Dan dia kembali melanjutkan makan malamnya. Venia diam diam tersenyum, ini awal mula kedekatan si kembar dengan Winna.
__ADS_1
Selesai makan malam mereka langsung naik ke lantai dua. Winna dan satu pelayan membereskan meja makan seperti biasanya.