(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 42 Masalah baru


__ADS_3

Hari berikutnya


Sergio dan keluarga kecilnya kembali ke negara E. Setelah sampai di mansion dan berganti pakaian. Pria tampan itu langsung pergi ke kantor dengan buru buru.


Di perusahaan Cullen Corp


Asisten Damar menyambut kehadiran sang atasan. Pria itu mengikutinya dari belakang menuju ke lift. Keduanya mengabaikan bisikan para karyawan yang membicarakan mereka.


Setelah lift terbuka keduanya ke luar dan pergi ke ruangan Sergio. Asisten Damar langsung menyerahkan berkas kerjasama pada bosnya itu.


"Tuan Revan mengajak kerjasama dengan perusahaan kita tuan, rencananya besok beliau ingin bertemu dengan Anda. " ujar Damar.


Sergio segera memeriksa berkas tawaran kerjasama dari kliennya. Beberapa menit berlalu dia telah selesai memeriksanya, dia cukup tertarik dengan tawaran kerjasama ini.


"Besok aku akan menemuinya. " ujar Sergio dengan wajah datar. Asisten Damar langsung pamit ke luar meninggalkan sang bos sendirian.


Pria tampan itu melonggarkan dasi yang melilit leher nya. Pikirannya saat ini bercabang, di antara istrinya dan masalah perusahaan. Untuk masalah sang istri, dia telah menghubungi dokter kenalannya.


Sergio mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang. "Kau sudah tahu di mana keberadaan Winna saat ini? " tanya Sergio dengan dingin.


"Saya sudah tahu tuan, dan saya masih mengawasi nona Winna. " ujar pria bernama Aaron.


"Jangan biarkan wanita itu membuat ulah atau kabur dari negara ini. " Sambungan langsung di putus oleh Sergio begitu saja. Terdengar hembusan nafas berat, ke luar dari bibir pria tampan itu.


Sergio POV


Sampai kapanpun aku tak mungkin menikahi Winna. Hanya Venia, wanita yang satu satunya aku cintai. Kenapa bisa Venia bisa berpikir gila seperti itu. Setiap masalah pasti akan ada solusinya meski masalah mereka begitu berat sekalipun. Akan aku lakukan apapun agar Venia cepat sembuh. Dia dan si kembar sangat menyayangi Venia, kami bertiga tak ingin kehilangan dia.


Sergio POV end


Sergio mengusap wajahnya kasar, menyandarkan tubuhnya di kursi. Dia memijit kepala nya yang terasa pusing. Dering ponselnya menyita perhatian Sergio. Pria itu segera mengeluarkan ponsel dari saku celana.


Sergio memilih mengangkat telepon dari sang istri. Pria itu langsung mengobrol dengan Venia melalui video call. Terdengar sang istri lagi dan lagi meminta maaf padanya.


"Sudah sebaiknya kamu istirahat saja sayang, jangan pikirkan apapun saat ini. " tegas Sergio tak ingin di bantah.


"Nanti aku mau antar makanan ke kantor kamu, bolehkan mas? " tanya Venia dengan ragu ragu.

__ADS_1


"Boleh. " jawab Sergio dengan singkat. Pria itu lantas menutup sambungan terlebih dahulu. Jujur dia tak tega melihat wajah sedih istrinya namun kali ini dia harus tegas. Sudah lama dirinya mengalah atas keputusan sang istri namun tidak untuk kali ini.


Sergio menyimpan ponselnya dalam saku. Dia beranjak dari kursinya, lalu berjalan kearah kaca ruangan. Pria iru terdiam, menatap pemandangan dari balik kaca tembus pandang.


Tring


Sergio kembali mengeluarkan ponsel lalu membaca pesan yang masuk. Dia mengertakkan giginya, segera menaruh ponselnya dalam saku kemudian ke luar. Pria itu masuk ke dalam lift dengan buru buru.


Di lantai bawah Sergio terus berjalan dengan cepat. Dia langsung masuk ke dalam mobil mewah miliknya.



Mobil jenis Aston Martin mewah berwarna putih itu melaju kencang meninggalkan area perusahaan. Sepanjang perjalanan Sergio terus mengumpat kasar.


Tiba di depan hotel, pria itu langsung ke luar dan menghampiri kerumunan. Sergio langsung memberikan klarifikasi mengenai Winna, setelah itu dia menyeret adik iparnya itu masuk ke mobil.


"Apa kamu tak bisa menjaga nama baik keluargamu Winna, kenapa kamu harus mencari masalah terus menerus. " ujar Sergio dengan nada geramnya.


"Kak Gio tahu dari mana kalau aku di sini. Lagipula ya aku enggak perlu di jemput, aku bisa pulang sendiri ke apartemen. " dengus Winna. Sergio hanya diam mengabaikan ocehan sang adik ipar.


"Sampai kapanpun aku tak akan pernah mau menikahi kamu Win, aku harap kamu tak memiliki niat lain. " ujar Sergio tanpa basi.


"Nah gitu dong, dari kemarin kek jawabnya. Tinggal bujuk istrimu yang keras kepala itu untuk mengurungkan niat gilanya. " ujar Winna dengan wajah kesalnya.


"Hentikan ocehanmu Winna, kau justru membuatku sakit kepala. " pekik Sergio jengkel. Winna langsung mengatupkan bibirnya rapat. Dia tak berani berbicara lagi, takut di bentak sang kakak ipar. Sergio kembali menyalakan mobilnya, mobil mewah itu melaju kencang.


Tepat jam sebelas siang Venia datang ke perusahaan sang suami. Wanita itu langsung menemui asisten dari Sergio. Raut wajahnya berubah kecewa, Venia memilih pergi dari sana tanpa berniat menghubungi sang suami. Wanita itu masuk ke mobil dan melesat pergi dari sana.



Turun dari mobil Winna segera masuk ke dalam rumahnya di susul Sergio. Wanita itu langsung berbalik, menghalangi langkah pria menyebalkan di depannya ini.


"Pulang sana, aku enggak mau kak Venia mencemaskan kakak


nantinya. " ketus Winna.


Sergio mendorongnya lalu berjalan melewati Winna begitu saja kemudian duduk di ruang tamu. Winna mengumpat kasar dengan kelakuan pria menyebalkan seperti Sergio.

__ADS_1



"Buatkan aku kopi. " pinta Sergio dengan wajah menyebalkan.


Winna mengepalkan tangan, dia pergi ke dapur dengan wajah dongkolnya. Tak lama wanita itu kembali, menaruh secangkir kopi di atas meja.


Dering ponsel milik Winna berbunyi, wanita itu langsung menyambarnya. Dia membulatkan mata saat sang kakak menghubungi dirinya.


"Halo kak! "


"Kamu di kana sekarang Win? " tanya Venia pada adiknya.


"Aku ada di penthouse kak tapi. " Belum sempat melanjutkan ucapannya, sambungan terputus lebih dulu. Winna memberitahu Sagara mengenai Venia.


Beberapa menit kemudian


Venia datang, raut wajahnya tampak terkejut melihat suaminya berada di kediaman sang adik. Melihat hal tak terduga ini tentu saja membuatnya senang, meski di sudut hatinya dia merasakan cemburu. Wanita itu menghampiri mereka dengan wajah riangnya.


"Apa kalian tengah membicarakan rencana pernikahan kamu dengan mas Gio, Winna? " tanya Venia dengan antusias.


Sergio segera memberi kode pada Winna agar mengiyakan. Winna berdecak pelan mau tak mau memainkan dramanya.


"Iya kak. " ujarnya dengan senyuman terpaksa. Venia memekik senang, dia langsung memeluk sang adik dan memaafkan kesalahan Winna selama ini.


Sergio sendiri memperhatikan wajah tertekan Winna saat ini yang berbanding terbalik dengan wajah bahagia Venia. Dia tak memiliki pilihan lain selain membuat istrinya bahagia sambil menunggu para dokter mencari solusi pengobatan terbaik untuk Venia. Wanita cantik itu membahas obrolan mengenai seputar persiapan pernikahan Sergio dan Winna.


Winna sendiri hanya bisa berharap ada seseorang yang mau membantunya ke luar dari masalah rumit ini.



Visual VENIA



VISUAL WINNA


__ADS_1


__ADS_2