
Hari berikutnya
Kediaman Sastra tampak ramai di Mansion mereka. Para tamu telah banyak yang datang ke sana. Sergio hadir di sana bersama istrinya, dia merengkuh posesif pinggang sang istri. Daniel menghunuskan tatapan tajam nya melihat kehadiran keduanya di acara penting miliknya.
"Untuk apa kalian datang ke sini, aku tak mengundang kalian? " ujar Daniel dengan nada datarnya.
"Kami berdua ke sini hanya ingin memberikan hadiah spesial untuk kalian Tuan Daniel, nona Clara. " ucap Sergio dengan seringai miringnya.
"Saya ucapkan selamat untuk pernikahan kalian. " ucap Sergio mewakili sang istri. Setelah merasa cukup basa basinya. Sergio langsung membawa pergi istrinya dari sana.
Dia telah meminta Theo untuk menyiapkan kejutan spesial untuk Daniel.
Setelah kepergian Sergio dan Anna, pesta kembali berlanjut. Daniel benar benar tak suka akan kehadiran Anna yang datang bersama Sergio. Fokusnya kini coba dia alihkan pada Clara, istrinya. Mereka menyalami para tamu yang memberikan selamat padanya.
"Sayang, aku enggak suka ya kamu masih dekat dekat dengan Anna. " tegur Clara dengan wajah datarnya.
"Percayalah aku sudah tak menginginkan wanita murahan itu Clara! " balas Devan meyakinkan sang istri.
"Oke aku percaya. " jawab Clara sambil tersenyum. Wanita itu langsung memeluk tubuh sang suami. Diam diam dia menyeringai miring, entah apa maksud dari senyumannya itu.
Mereka kembali mengobrol, hingga obrolan mereka tertunda kala kedatangan Theo. Dia mengantarkan hadiah yang di berikan oleh Sergio setelah itu menaruhnya di atas meja.
Setelah itu mulai memutar tayangan yang kini tertuju pada layar. Sebuah video dengan sikap Devan yang berusaha mencelakai Anna hingga Finn di putar.
"Apakah anda bisa menjelaskan video ini tuan Devan? " tanya Theo dengan tatapan datarnya.
"Fitnah, aku tidak mencelakai istri dari Sergio. " elak Devan.
"Dasar pengecut. " Theo langsung menyebarkan video itu di jejaring sosial. Setelah selesai melaksanakan tugasnya, dia langsung pergi dari kediaman Sastra.
__ADS_1
Semua tamu pun langsung membicarakan tentang Devan. Clara tentu saja malu dan marah pada perbuatan suaminya itu. Devan sendiri mengumpat kasar, dia berusaha menjelaskan semuanya pada tamu tamunya. Kedua orang tua Devan segera menghampiri putra mereka itu. Para tamu langsung bubar dan ke luar dari kediaman Sastra.
Plak
"Sudah mami bilang, jangan berurusan dengan Anna lagi apa kamu tuli Devan? " pekik Mami emosi akan kelakuan putranya. Devan menyentuh pipinya yang terasa panas akibat tamparan dari sang mami.
Clara sendiri meninggalkan Aula menuju ke kamarnya. Dia tentu aaja sangat malu, acara pentingnya jadi rusak karena ulah suaminya yang bocor ke media.
Devan menghela nafas berat, dia ingin menjelaskan pada sang mami namun Maminya tak mau dengar. Papi mengajak istrinya ke ruang tengah, mengobrol di sana dengan leluasa di susul Devan. Terjadi perdebatan di antara Devan dengan orang tuanya.
"Kamu harus menjaga sikap Devan, jangan sampai Anna mencurigai rahasia yang mami simpan selama puluhan tahun. " bentak Mami emosi.
Devan mengatupkan bibirnya rapat. Tangan pria itu terkepal kuat, dia tak suka kenyataan pahit yang di katakan orang tuanya. Kini suasana berubah hening, tak ada obrolan lagi di antara ketiganya.
Devan langsung bangkit, dia pergi meninggalkan orang tuanya. Pria itu begitu kesal saat sang mami terus memojokkan dirinya saat ini. Dering ponselnya membuat langkah panjangnya terhenti.
"Halo? "
Devan pun langsung membulatkan mata mendengar informasi dari asistennya. Pria itu tentu saja tak tinggal diam, dia meminta sang asisten mencari solusi dan mentake down videonya.
Dia langsung pergi ke kamarnya, membanting pintu membuat Clara tersentak kaget. Wanita itu hanya diam saja tanpa menyapa pria yang menjadi suaminya sekarang. Devan langsung pergi begitu saja ke kamar mandi.
Clara kembali melihat video suaminya yang viral di manapun. Dia tentu saja merasa malu, berusaha menyuruh para petugas untuk menghapus video itu secepatnya. Tak lama Devan ke luar, segera mengambil celana panjang dan kaos setelah itu memakainya.
"Sayang, kenapa kamu terlihat sangat marah? " tanya Clara yang turun dari ranjang dan mendekati sang istri.
"Perusahaanku kehilangan tiga puluh persen Cla. " ujar Devan dengan wajah kesalnya. Clara tentu saja terkejut, wanita itu tampak panik dan ketar ketir.
"Lakukan sesuatu sayang jangan sampai kamu jatuh bangkrut nantinya. " ucap Clara mengingatkan.
__ADS_1
"Aku sudah meminta asistenku untuk mencari klien lain secepatnya Clara. " sahut Devan. Clara sedikit lega mendengarnya namun tetap saja kekhawatiran itu masihlah ada.
"Jika Devan sampai bangkrut, lebih baik aku bersiap siap dari sekarang untuk mencari sugar daddy. Mana aku sudi hidup dalam kemiskinan. " batin Clara dalam hati. Wanita itu mengusap lengan suami, dia berusaha menenangkan Devan.
Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir Devan. Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa. Clara sendiri mencoba mencari cara untuk membantu sang suami.
Suara dering ponsel menyita perhatiannya. Devan langsung menyambar ponselnya, berbicara serius dengan sang asisten. Tampak jelas Devan kembali marah marah dab mengumpat.
Tut
"Sialan. " umpatnya emosi. Dia semakin membenci Anna dan Sergio yang telah menghancurkan perusahaannya. Setelah perusahaan miliknya pulih, dia akan membalas pria brengshake itu.
"Kau mau ke mana sayang? " tanya Clara penasaran.
"Ingin mencari udara segar, kau ingin ikut sayang? " tawar Devan yang di angguki Clara. Selesai bersiap pasangan suami istri itu ke luar dari kamar dan turun ke bawah. Tanpa pamit pada mami dan papi, mereka langsung ke luar begitu saja.
Devan melajukan roda empatnya meninggalkan mansion miliknya itu. Sepanjang perjalanan Clara mencoba memberikan ide untuk sang suami. Mobil Lamborghini itu terus melaju kencang.
Setelah beberapa menit, mobil itu akhirnya berhenti di pantai. Keduanya langsung turun dan segera bergandengan tangan menyusuri pantai. Clara tertegun dan diam diam tersenyum, melihat beberapa pria bule mencuri pandang padanya.
"Well sepertinya hidupmu akan aman Clara jika kamu menemukan sugar daddy yang lebih kaya dari Aldrich. " gumamnya lirih tak terdengar.
"Ehem Sayang bisakah kamu membelikan aku minuman segar di sekitaran sana. " pinta Clara.
"Baiklah kamu tunggu di sini. " Devan langsung berjalan terus menjauhi sang istri. Clara sendiri segera menjalankan rencananya, berkenalan dengan pria bule dan menyimpan nomor mereka.
Beberapa menit berlalu Devan kembali membawakan minuman untuknya. Mereka duduk di sebuah kursi panjang sambil menikmati es kelapa muda. Clara diam diam memperhatikan sang suami yang terlihat stress dengan masalahnya.
Devan menggenggam tangan sang istri dengan erat. Pria itu menatap dalam wanitanya dengan lekat.
__ADS_1
"Sayang, kamu janjikan tak akan meninggalkan aku apapun yang terjadi? " tanya Devan memastikan.
"Tentu saja tidak, aku akan selalu di sisi kamu sayang. " jawab Clara dengan seyakin mungkin. Devan bernafas lega, dia langsung mencium istrinya itu.