
Irene dan Henry dalam perjalanan menuju ke Villa mereka yang baru. Setelah sampai keduanya turun dari mobil, mereka segera menaiki tangga untuk masuk ke dalam lantai dua. Henry mengantar istrinya menuju ke kamar mereka sambil menyeret koper.
Irene segera memasukkan pakaian dirinya dan sang suami ke dalam lemari. Setelah selesai wanita itu memilih duduk di atas ranjang sambil menggenggam tasnya. Dia berniat mengambil ponselnya namun dia urungkan.
Irene mengeluarkan sebuah foto dirinya bersama Jerome. Raut wajahnya berubah sendu, dia menyentuh foto itu kemudian mengusapnya dengan lembut.
"Takdir tak memihak kita Jero. " gumam Irene dengan lirih. Cairan bening itu mengembun lalu menetes membasahi kedua pipi mulusnya.
Henry ke luar dari kamar mandi, pria itu segera berpakaian. Dia pun menghampiri istrinya dan langkahnya terhenti.
tok
tok
"Permisi, nyonya tuan nona muda kecil menangis. " ujar sang pengasuh. Irene segera menghapus air matanya, wanita itu lekas bangkit dan menggendong putri kecilnya.
Henry mendekat, pria itu duduk si sebelah sang istri sambil memperhatikan putri kecil mereka.
"Sayang, siapa nama putri kita ini? " tanya Henry.
"Meryn Lannister, panggil saja Ryn. " jawab Irene. Wanita itu asyik menenangkan putrinya yang merengek. Setelah tenang dia menyerahkan kembali pada mbak Rani, pengasuh Ryn.
Setelah kepergian mbak Rani, Henry mengusap air mata sang istri. Dia sangat paham jika Irene tersiksa dengan perasaannya pada Jerome. Pria tampan itu mencium kening istrinya dengan lembut.
Irene menatap lekat kearah pria yang menjadi suaminya. Tak seharusnya dia memikirkan pria lain sementara dirinya sudah bersuami. Henry mendekatkan wajahnya, mulai mencium bibir istrinya dengan lembut. Wanita itu meremas kaos yang di pakai Henry.
Dia membalas ciuman dari sang suami. Henry mengakhiri ciumannya setelah Irene hampir kehabisan nafas.
"Maaf kalau aku lancang mencium kamu Rene. " ucap Henry.
"Aku sekarang milikmu, kau tak perlu meminta maaf. " balas Irene.
__ADS_1
Henry menariknya hingga jatuh ke pangkuan. Irene pun sontak membulatkan matanya. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher Hendry.
"Aku melihatmu menatap foto Jerome. aku akan membantumu menghilangkan traumamu setelah itu aku akan mengantarmu menemui Jerome. " ungkap Henry.
"Jangan Hen, biarkan dia berbahagia dengan Agnes. " ungkap Irene sambil memohon. Henry menghela nafas panjang, memeluk tubuh sang istri dengan erat. Tak lama setelah itu dia menurunkan istrinya.
"Kalau begitu mandilah, aku akan ke luar. " Henry lekas bangkit, dia meninggalkan istrinya sendirian. Irene sendiri langsung pergi ke kamar mandi.
Beberapa menit berlalu dia ke luar dan mengganti pakaiannya. Irene langsung menguncir rambutnya ke belakang. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Irene memilih ke luar dan pergi ke kamar si kecil Ryn.
Setelah memastikan sang anak nyaman dalam tidurnya, Irene memilih turun ke bawah. Dia pergi ke ruang tamu, menonton tv di sana. Wanita itu tersentak kaget saat Jerome dan Agnes mengumumkan tanggal pernikahan.
"Dua hari lagi mereka akan
menikah. " gumam Irene.
"Semoga kamu bahagia dengan Agnes, Jero. Kalian pantas bersama dan membuka lembaran baru. " pungkasnya di sertai senyuman tipis.
Irene menghela nafas panjang, dia berusaha merelakan Jero dengan Agnes. Tak lama Henry kembali dengan membawa boneka dan juga makanan.
"Apa kau suka? " tanya Henry sambil tersenyum.
"Suka, rasa manisnya sangat pas. " ungkap Irene sambil mendekap bonekanya. Henry tentu saja senang, dia merasa usahanya berhasil untuk membuat istrinya senang. Pria itu menyuapinya hingga waffle strawberry itu habis.
Selesai makan,keduanya mengobrol seperti biasanya. Henry juga tak akan menuntut haknya sebagai seorang suami. Pria itu memeluknya dari samping. Irene mengatakan mengenai pernikahan Jerome dan Agnes pada suaminya.
Pria tampan itu memperhatikan setiap ekspresi dari sang istri. Dia langsung menggenggam tangan Irene dengan erat. Irene menoleh, dia menunjukkan senyumnya pada Henry.
"Bisakah kamu menemani aku besok Hen, aku ingin mencari kado pernikahan sekaligus gaun? " pinta Irene.
"Tentu saja aku bisa! "
Irene kembali menyandarkan tubuhnya di sofa namun Henry menariknya bersandar di dada bidang pria itu. Wanita itu hanya diam tak bergeming kala suaminya memeluk posesif pinggangnya.
Keheningan melanda keduanya, Henry kembali mengajaknya bicara. Dia tak ingin Irene merasa takut saat berdekatan dengannya.
__ADS_1
Malam harinya
Mereka makan malam lebih dulu di meja makan. Selesai makan malam, mereka langsung ke kamar. Irene memeriksa si kecil Ryn lebih dulu baru setelahnya kembali ke kamar.
"Haruskah kita tidur bersama Hen? " tanya Irene dengan ragu ragu.
"Iya hanya tidur, lagipula aku tak akan memaksa kamu memberikan hakku. " balas Henry. Pria itu kini tengah bertelanjang dada, hanya memakai celana panjangnya.
Irene sendiri mengambil pakaian ganti kemudian membawanya ke kamar mandi. Tak lama wanita itu lantas ke luar dan naik ke atas ranjangnya.
Henry memiringkan tubuhnya, tangan kekarnya mengukung tubuh Irene. Mata keduanya saling menyelami satu sama lain. Irene berusaha memalingkan wajahnya namun Henry tak membiarkannya.
"Maaf Rene, maaf karena kebodohanku membuat kita kehilangan calon janin dalam perut kamu. " gumam Henry lirih.
"Mungkin dia memang bukan hak kita Hen, semuanya sudah berlalu namun aku hanya perlu membiasakan diri bersamamu. " sahut Irene.
Pria itu langsung membenamkan kepalanya di belahaan Irene. Irene mengusap kepala sang suami, tak lama terdengar suara isakan tangis. Wanita itu kembali berkaca kaca, berusaha menahan perasaan sensitifnya jika mengingat masa lalu.
Henry menjauhkan wajahnya, dia mencium kening istrinya dengan lembut. Dia memilih bersandar di head board dengan Irene bersandar di dadanya.
"Aku akan memelukmu. Kalau mengantuk tidurlah sayang. " bisik Henry dengan halus.
"Bukankah perusahaan kamu berada di ambang kehancuran? " tanya Irene.
"Ya, dua bulan lalu namun saat ini aku akan memulai segalanya dari awal. Aku juga telah menjalin kerjasama dengan klien baruku. " ungkap Henry.
Mereka melakukan pembicaraan sebelum tidur. Keduanya ingin saling mendekatkan diri satu sama lain. Irene mulai menguap, dia membenamkan wajahnya di dada sang suami dan memejamkan matanya.
Henry menunduk, tersenyum tipis melihat istrinya tertidur nyenyak dalam pelukannya.
"Aku janji akan menebus dosaku padamu Rene. Aku akan berusaha membahagiakan kamu. " gumam Henry lirih. Pria itu sempat mencium bibir istrinya dengan lembut.
Henry kembali menatap langit langit kamarnya. Sudah banyak kesalahan yang dia lakukan, dia akan memperbaiki semuanya secara perlahan. Selain itu dia akan berusaha membuat istrinya bangkit dan move on.
"Inilah balasan atas perbuatanku di masa lalu. Saat ini aku justru merasa tenang setiap kali memeluk dan mencium Irene. " ucap Henry pelan.
__ADS_1