(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 64 Alergi?


__ADS_3

Sorenya Anna segera memakai pakaian. Tak lupa dia memakai krim di tangannya. Setelah selesai dia pun menghampiri putri tercintanya.


Anna merasa lega melihat kedua putrinya terlelap. Namun tiba tiba dia merasakan gatal di sekitar kedua tangannya.


"Mas Gio. " panggil Anna. Sergio ke luar dari kamar mandi, setelah berpakaian dia langsung menghampiri sang istri.


"Ada apa sayang? "


"Tangan aku tiba tiba rasanya gatal gatal mas. " keluh Anna. Sergio pun dengan sigap menghubungi dokter untuk memeriksa sang suami. Pria tampan itu segera membantu istrinya berbaring di atas ranjang.


Tak lama dokter pun datang, Anna menyampaikan keluhannya pada sang dokter. Sergio langsung mengambil salep yang di pakai istrinya kemudian menunjukkan pada dokter.


"Mungkin istri anda terkena alergi, kulit tangan nyonya tak cocok dengan krim ini. " ujar dokter memastikan.


"Tapi itu krim yang biasa saya pakai dok! "


"Krim ini akan saya bawa ke laborat rumah sakit, saya akan memeriksanya tuan, nyonya. " jelas dokter panjang lebar.


"Hasilnya kapan keluar? " tanya Sergio.


"Sekitar dua minggu lagi Tuan! " pungkas dokter. Dokter memberikan resep obat pada Sergio setelah itu pamit. Sergio pamit pada sang istri, dia perlu membeli salep untuk tangan Anna.


Setelah kepergian sang suami, Anna hanya bisa menunggu. Tiga puluh menit berlalu, Sergio kembali dengan membawa salep. Dia langsung membantu mengoleskan salepnya pada kedua tangan sang istri menggunakan cotton bud.


Anna langsung memeluk suaminya dan menangis. Sergio mengusap punggung sang istri, berharap apa yang terjadi pada Anna bukan penyakit serius.


"Aku enggak bisa memeluk Baby Vio mas, aku takut nanti menulari putri kecil kita hiks. " gumam Anna nada sedihnya.

__ADS_1


"Nanti biar Luna yang jaga putri kita aja gimana? " tawar Sergio.


"Enggak mas, mending panggil mommy saja suruh ke sini. " ujar Anna penuh harap. Sergio langsung mengangguk, dia melepaskan pelukannya. Pria itu lantas menghubungi sang mommy untuk datang.


Cklek


Mommy Amira masuk ke dalam, Sergio menjelaskan apa yang terjadi. Wanita paruh baya itu langsung mendekati sang menantu. Dia memastikan keadaan sang menantu saat ini.


"Aku yakin krim yang aku beli masih baru mom tapi tadi aku pakai justru kulit tanganku gatal gatal. Aku tak ingin menularkan rasa gatal ini pada baby Vio. " ungkap Anna dengan mata sembabnya.


"Kamu tenangkan diri kamu nak, mommy yakin itu hanya alergi saja. Bukankah Gio sudah membelikan salep sesuai resep dokter? " tanya Mommy yang di angguki Anna.


"Mommy akan membantu kamu menjaga si kecil. " pungkasnya seraya tersenyum. Anna menghela nafas lega, di berusaha menenangkan dirinya agar kembali tenang.


Mommy Amira meminta sang menantu untuk beristirahat. Anna mengangguk, dia membiarkan mertuanya ke luar dari kamarnya. Wanita paruh baya itu memilih ke kamar si kecil.


"Baby Vio belum mengenal mainan, benda itu cukup berat. Jika kamu tak bisa menjaga bayi sebaiknya ke luar dari sini nona. " ujar Mommy Amira dengan nada halusnya.


"Oh dari penampilan kamu seperti gadis penggoda. Kamu enggak berniat menggoda putra saya 'kan? " tanya Nyonya Amira dengan tatapan penuh intimidasinya. Luna pun


mengepalkan tangannya mendengar tuduhan dari wanita tua di depannya ini.


"Tentu saja tidak, kalau begitu saya permisi nyonya. " Luna langsung ke luar dari kamar baby Violet. Si kembar masuk ke dalam, menyusul sang oma yang menemani adik bayi mereka.


Tepat pukul delapan malam, mereka berkumpul di meja makan. Anna melayani suaminya seperti biasanya. Luna diizinkan bergabung bersama mereka, gadis itu duduk di sebelah si kembar. Diam diam gadis itu mengamati kebahagiaan yang di rasakan para majikannya.


"Apa obat itu belum bereaksi ya? " batin Luna dalam hati.

__ADS_1


Seusai makan malam, Anna dan Sergio pamit ke kamar mereka lebih dulu. Nyonya Amira menoleh, menatap kearah Luna dengan lekat. Wanita itu tak mengatakan apa apa, memilih beranjak dan mengajak kedua cucunya untuk tidur.


Luna mendadak kesal, dua rencananya selalu berakhir dengan kegagalan. Gadis itu lekas bangkit, pergi dari sana begitu saja. Dia masuk ke dalam kamar, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Nyonya saya gagal lagi, di sini tak ada kehebohan! "


"Pastikan lagi, jika gagal kau harus mencari cara lain Luna. " geram seseorang di ujung sana.


tut sambungan putus begitu saja, Luna menyimpan ponselnya ke dalam laci meja. Dia segera membaringkan tubuhnya ke atas ranjang. Luna menatap langit langit kamarnya, terdengar suara helaan nafas berat. Saat ini dia tengah mencari rencana lain untuk menyelesaikan tugasnya. Namun dia juga perlu berhati hati agar tidak ketahuan.


"Tugas merepotkan. " pikirnya. Seandainya tak membutuhkan uang, mana mau dia melakukan pekerjaan ini. Luna masih tidak terima akan tuduhan nyonya Amira padanya. Namun untuk saat ini dia memilih mengalah, tidak dengan lain kali.


Dia mencoba memejamkan kedua matanya namun tak bisa. Luna kembali bangun, dia mengambil kembali ponselnya dan mengirim pesan pada bosnya. Sepertinya saat ini dia perlu menjaga sikap dan bersabar agar rencananya berjalan lancar kali ini.


Setelah satu jam, Luna mulai menguap. Gadis itu menaruh ponselnya kemudian berbaring, menarik selimut menutupi tubuhnya. Gadis itu langsung terbang ke alam mimpi.


Hari berikutnya


Luna sudah bangun, gadis itu telah rapi. Dia langsung pergi ke kamar baby Violet. Nyonya Amira meminta Luna membawa Baby Vio menuju ke kamar Anna. Tentu saja dia begitu patuh dan mengantarkan si kecil pada sang mommy.


Anna langsung memberikan asi pada putri kecilnya. Setelah putrinya kenyang, wanita itu meminta Luna menjaga Violet sebentar.


"Bawa Baby Vio ke kamar jangan ke mana mana lagi Luna. Jika kamu mengulangi kecerobohan kamu itu, saya akan memecat kamu! " Anna dengan tegas memberi peringatan pertama pada Luna.


Luna menelan salivanya kasar. Dia tampak takut dengan ancaman Anna, dia tak ingin membuat rencananya gagal total. Gadis itu ke luar dari kamar Anna dan menuju ke kamar baby Vio.


"Halo Vio, kak Felix dan kak Finn sudah siap nih buat berangkat sekolah. Cepatlah besar dek, agar kami bisa menjahili kamu. " ceplos Finn yang mendapat geplakan dari Felix.

__ADS_1


Setelah menyapa adik bayi mereka, si kembar langsung ke luar dan turun ke bawah. Fokus Luna kembali tertuju pada baby Violet yang berada di dalam boxnya.


"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku setelah itu pergi dari sini. " Luna merasa takut jika dirinya akan ketahuan nantinya. Gadis itu belum siap jika harus mendekam dalam penjara. Hanya demi uang, dia berbuat nekat seperti sekarang.


__ADS_2