
Di sisi lain Devan telah kembali ke hotelnya. Dia langsung pergi ke kamar hotelnya. Pria itu sangat kesal dengan Anna yang tak mau melakukan apa yang dia inginkan.
"Cih dasar wanita murahan. " umpat Devan dengan kasar.
Suara ketukan pintu membuat Devan berdecak pelan. Pria itu berbalik dan membuka pintu kamarnya, ternyata sang tunangan yang telah datang. Dia membiarkan Clara masuk ke dalam kamarnya.
"Ada apa Cla? " tanya Devan tanpa basa basi.
"Ayo temani aku ke pantai. " ajak Clara pada sang tunangan. Devan memintanya menunggu di luar, dia segera mengambil kunci mobilnya lalu ke luar. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil.
Kini mereka sampai di pantai. Keduanya langsung turun dari mobil, Clara menggandeng tangan sang tunangan dengan mesra. Tanpa sengaja Devan melihat putra sambung dari Anna yang tengah bermain pasir.
Dia tersenyum licik, Devan meminta Clara untuk bersantai. Pria itu berjalan kearah si kembar yang asyik bermain.
Hup
"Aaakh lepaskan saya om. " pekik Finn terkejut dengan apa yang di lakukan pria dewasa di hadapannya ini.
Opa dan oma langsung datang menghampiri si kembar. Terkejut melihat pria asing yang hendak melempar Finn kearah laut. Salah satu dari mereka segera menghubungi Sergio agar segera datang.
"Lepasin aku om. " teriak Finn sambil menggoyangkan kakinya. Felix te tu saja tak tinggal diam, bocah itu segera menggigit tangan Devan.
"Sialan. " Devan mengumpat kesakitan pada lengan tangannya. Felix segera membantu adiknya dan menariknya menjauh.
"Siapa kamu, kenapa kamu ingin mencelakai cucu saya hah? " geram tuan Daffa pada pria yang ada di hadapannya ini.
Devan langsung pergi begitu saja dengan kemarahan di wajahnya. Clara langsung menyusul sang tunangan yang telah pergi. Tak lama Sergio datang, pria itu berlari cepat dengan nafas tersengal.
"Mom, Dad apa yang terjadi? " tanya Sergio dengan wajah paniknya.
"Sebaiknya kita pulang dulu nak, mommy nanti akan menceritakan apa yang terjadi. " sela nyonya Amira.
__ADS_1
Mereka langsung masuk ke mobil masing masing dan pergi dari sana. Di Villa mommy dan daddy mengatakan apa yang terjadi terhadap Finn.
Sergio tentu saja marah besar, dia tak akan membiarkan begitu saja pria yang hampir mencelakai putranya. Di sisi lain mereka semua tampak senang akan kembalinya Anna di tengah tengah mereka terutama si kembar.
Anna membalas pelukan kedua putra sambungnya ini. Wanita hamil itu mencium kening Felix dan Finn secara bergantian.
"Selama ini bunda ke mana, kenapa tidak pernah datang untuk menemui kami? " protes Felix dengan nada kecewanya.
"Maafin Bunda sayang, bunda sebenarnya tinggal di rumah lama Bunda. " jawab Anna sambil tersenyum. Si kembar langsung pamit ke kamar yang di iyakan Anna.
"Maaf mom, dad apa laki laki itu seperti ini wajahnya? " tanya Anna sambil menunjukkan foto Devan pada kedua mertuanya.
"Iya, memang dia orangnya. Anna kenapa kamu bisa mengenal pria
itu? " tanya Nyonya Amira pada sang menantu.
"Dia sepupu saya mom. " jawabnya dengan jujur. Orang tua Sergio terkejut dengan pernyataan Anna barusan.
"Jika kamu tidak hadir, Finn tak mungkin akan celaka seperti tadi. Harusnya kamu tak perlu menampakkan diri lagi Anna. " ujar nyonya Amira.
"Mommy. " pekik Sergio menegur sang mommy untuk menjaga sikap. Anna sendiri merasa bersalah, apa yang di ucapkan mertuanya sangatlah tepat.
"Jangan bicara lagi, dan jangan sampai mengulang kesalahan yang sama seperti yang mommy lakukan dulu pada mendiang Venia. " tegas Sergio.
Daddy Daffa langsung pamit pada putranya itu. Paruh baya itu langsung mengajak sang istri pulang. Setelah kepergian orang tuanya, Sergio menenangkan sang istri.
"Aku enggak papa kok mas, apa yang di katakan mommy ada benarnya! " ucap Anna sambil menghela nafas berat.
Sergio merangkul bahu sang istri, meminta Anna untuk tak memikirkan masalah ini. Dia akan memberi pelajaran pada Devan. Dia langsung mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi orang suruhannya untuk mencari informasi mengenai Devan.
"Kamu enggak perlu memarahi mommy seperti tadi mas. " tegur Anna pada suaminya.
"Tapi mommy keterlaluan sayang, mommy malah memojokkan kamu hanya karena Devan. " ujar Sergio jengkel. Anna menarik tangan suaminya lalu menaruhnya di atas perut buncit nya.
__ADS_1
Sergio mengusap perut sang istri dengan lembut. Anna menyandarkan kepalanya d bahu sang suami. Pria itu lantas bangun dan membantu istrinya. Mereka pergi ke kamar, Sergio mengajak sang istri langsung ke kamar mandi.
Satu jam berlalu mereka baru ke luar dan segera berpakaian. Sergio membantu sang istri mengeringkan rambutnya. Setelah selesai mereka duduk di sofa, Anna menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Mas, aku lapar. " rengek Anna.
"Bentar ya sayang, aku akan meminta pelayan membuatkan makanan untukmu. " cetus Sergio. Anna mengangguk,dia membiarkan suaminya ke luar.
Tiba tiba dering ponsel milik suaminya menyita perhatian. Wanita hamil itu langsung mengambilnya, membuka pesan masuk. Anna terkejut, dia langsung mengembalikan ponsel itu di atas meja.
Cklek
Sergiopun masuk ke dalam membawakan makanan untuk istri tercintanya. Pria tampan itu memperhatikan istrinya yang tampak sangat lahap makannya.Sementara Sergio mengambil ponsel kemudian memeriksanya. Dia buru buru menghapus pesan dalam ponsel.
Hal itu diamati Anna dalam diamnya, dia kembali melanjutkan makan hingga habis. Selesai makan, Sergio segera merebutnya kemudian membawanya ke luar.
"Kenapa mas Gio enggak bilang jika perusahaan miliknya ada masalah, penyebabnya lagi lagi karena
Devan. " gumam Anna. Dia merasa tak berguna, seharusnya mampu melakukan sesuatu untuk sang suami.
Finn masuk ke dalam, Anna menyuruhnya mendekat. Bocah tampan itu berada di sisi sang bunda tercinta.
"Bunda, kalau aku ketemu sama uncle jahat itu lagi nanti aku akan menendangnya. " ungkap Finn penuh kekesalan.
"Takutnya kalau kamu membalas, kamu malah di tangkap sama uncle jahat itu sayang. " tegur Anna pada sang anak. Finn langsung cemberut, bocah itu ingin menjadi kuat agar bisa membalas Devan, si uncle jahat.
Anna pun hanya mampu tergelak mendengar ucapan polos sang anak. Wanita itu mengusap kepala putranya itu dengan lembut.
"Oh ya Felix mana sayang? " tanya Anna pada Finn.
"Kak Felix tidur bun. " jawabnya singkat. Merasa bosan, dia mengajak putranya ke luar. Dengan hati hati Anna menuruni tangga menuju ke ruang tamu bersama Finn. Sergio datang, bergabung bersama keduanya.
Pelayan datang membawakan potongan bunga ke ruang tengah beserta minuman. Finn langsung menyesap minuman bobanya sambil menonton kartun di televisi. Sergio cukup lega dengan keluarga kecilnya yang telah kembali lengkap. Dia berharap di atas sana mendiang Venia bahagia.
__ADS_1