
Belasan tahun kemudian
Si tampan Felix
Si kembar kini tumbuh menjadi pria gagah yang tampan, dan mapan. Keduanya telah kembali dari negara Amerika beberapa waktu lalu. Felix kini menghampiri sang bunda, mencium kening wanita paruh baya yang telah membesarkan dirinya dan sang adik.
Felix sendiri memiliki tiga adik yaitu Finn, Violet dan Alexa. Kini mereka berkumpul di meja makan. Bunda Anna tampak bahagia melihat anak anaknya telah berkumpul.
"Sayang, kamu tidak lupa 'kan jika kamu juga harus menjenguk makam mommy Venia juga nak? " tanya Bunda pada kedua putranya.
"Ingat Bun, kami kemarin sudah ke sana. " jawab Felix sambil
tersenyum. Bunda Anna cukup lega mendengar pernyataan sang anak. Mereka sarapan bersama dalam suasana tenang.
Setelah lima belas menit berlalu, masing-masing dari mereka pamit pada bunda Anna. Wanita paruh baya itu menatap kepergian anak anaknya dengan senyuman di bibirnya. Dia segera membereskan meja makan, membawanya ke dapur. Lalu kembali membawa secangkir kopi untuk suaminya di ruang tengah.
"Ini kopinya Daddy! "
"Terimakasih Bunda! " jawab Daddy Gio dengan senyuman hangatnya.
.
Bunda Anna teringat dengan masa lalu, di mana dirinya kehilangan ingatan. Cukup lama mereka berusaha mengembalikan ingatannya. Benar kata pepatah bila usaha tak akan mengkhianati hasil. Pada akhirnya ingatan bunda Anna kembali sepenuhnya.
Di Cullen Corp
Felix tampak marah besar saat salah satu cleaning service tanpa sengaja menumpahkan kopi ke jasnya. Pria tampan itu tampak mengumpat kesal akan kelakuan gadis di depannya ini.
__ADS_1
"Saya minta maaf tuan, saya ceroboh. " sesal gadis itu dengan kepala menunduk.
"Ini kamu cuci jas ini sampai bersih dan wangi kembali. " pinta Felix sambil melempar jasnya pada sang cleaning service. Gadis itu langsung membereskan pecahan kaca, kemudian ke luar dari ruangan sang atasan.
Mood Felix pagi ini benar benar buruk. Dia menggulung siku lengan kemejanya, kemudian membuka dua kancing kemejanya. Suara ketukan pintu, tak lama sang asisten masuk ke dalam ruangan.
Asisten Leo datang menyerahkan berkas padanya. Melihat wajah masam sang atasan membuat Leo melihatnya dengan kening berkerut.
"Kenapa wajah Anda di tekuk
Tuan? " tanya Asisten Leo.
"Ada cleaning servis yang ceroboh tadi. " balas Felix dengan ketus. Leopun mengangguk paham sekarang. Pria itu langsung pamit ke luar dari ruangan sang atasan.
Siangnya gadis cleaning servis itu kembali, dia menyerahkan jas milik sang atasan. Felix menatap kearahnya dengan tatapan tajam nya.
"Saya Ashley Joy. " jawab Ashley dengan gugup.
"Kenapa jasku tidak wangi hah? " pekik Felix dengan kesal. Ashley menelan saliva nya kasar, gadis itu tampak gemetaran. Melihat ekspresi Ashley membuat Felix mendengus pelan. Pria itu mengibaskan tangan, memintanya pergi.
Ashley tentu saja langsung ke luar dengan cepat. Gadis itu langsung pergi ke kantin untuk mengisi perutnya. Selama bekerja di perusahaan sebagai cleaning servis, Ashley tak memiliki teman sama sekali.
Gadis itu berusaha menulikan telinganya, tak mempedulikan cibiran dari karyawan lain. Setelah memesan makanan, Ashley segera mencari tempat duduk.
Setelah makanan miliknya datang. Ashley segera menyantapnya tanpa mempedulikan tatapan sinis dari gadis gadis di sebelahnya. Dia sudah terbiasa di kucilkan hanya karena pekerjaan dirinya. Selesai makan dia langsung membayarnya kemudian pergi dari kantin.
Dia kembali mengerjakan pekerjaan di belakang, membersihkan kamar mandi.
Tepat pukul dua sore setelah para karyawan ke luar, Ashley baru berjalan meninggalkan area perkantoran. Gadis itu memilih, menunggu angkutan lewat. Tiga puluh menit, dia menaiki salah satu bus. Sepanjang perjalanan, Ashley lebih banyak menghabiskan mendengarkan musik.
__ADS_1
Beberapa menit berlalu gadis itu segera turun, berjalan kaki menuju ke sebuah panti asuhan kasih Bunda. Langkahnya terhenti kala mendapati seseorang yang dia kenal. Ashley memilih bersembunyi di balik pohon.
Setelah mobil mewah di depannya pergi dari halaman, Ashley baru muncul. Dia berjalan cepat memasuki panti asuhan menemui sang ibu.
"Ash kamu sudah pulang nak. " ujar Bu Lasmi pada putri angkatnya. Wanita paruh baya itu langsung memeluknya sebentar lalu mengajaknya duduk di sofa.
"Kenapa wanita itu datang ke sini Bu? " tanya Ashley.
"Beliau menjadi donatur di panti ini nak. Selain itu dia tadi juga mencari kamu sayang. " jelas Ibu Lasmi dengan sabar.
"Lain kali jika dia datang lagi, tolong jangan katakan aku di mana Bu. Aku selama ini sendirian, dan aku tak pernah mengenal wanita itu. " ungkap Ashley dengan wajah datarnya. Gadis itu langsung bangkit, pamit pada sang ibu menuju ke kamarnya.
Bu Lasmi hanya bisa menghela nafas berat. Dia sangat mengerti dengan perasaan kecewa yang teramat dalam yang di rasakan Ashley.
Sementara Ashley sendiri menaruh tasnya di atas meja. Gadis itu langsung pergi ke kamar mandi belakang. Selesai mandi dan berganti pakaian, dia berbaring di atas ranjang kecilnya.
"Selama ini aku hanya memiliki Bu Lasmi dan adik adik panti. Hanya mereka keluarga aku tak ada yang lainnya. " gumam Ashley. Tangannya terkepal kuat, dia berusaha menahan dirinya agar tak lepas kendali. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Selama ini Ashley memendam semuanya sendirian.
Gadis itu memilih memejamkan mata sejenak. Dia perlu istirahat saat ini, tubuhnya terasa sangat lelah saat ini. Semua hujatan dan cacian dari orang orang padanya kembali berputar dalam kepalanya bagai kaset rusak. Ashley kembali membuka matanya, dia memilih bangun dan bersandar pada headboard.
"Kau pasti bisa melalui masalah ini Ash. Hujatan dan makian adalah makanan sehari hari untukmu. " batin Ashley dalam hati. Selama ini dia berusaha tegar di hadapan ibu Lasmi dan di depan umum. Dia mengusap wajahnya mengunakan tangan.
Ashley kembali berbaring, tak lama gadis itu terlelap dalam tidurnya. Bu Lasmi masuk ke dalam kamar sang anak. Wanita paruh baya itu berjalan pelan menghampirinya. Hati wanita itu tampak nyeri melihat putrinya yang sebenarnya rapuh. Dia langsung duduk di samping Ashley, mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Kenapa kamu harus menyimpan semuanya sendirian nak. Jika lelah berbagilah dengan ibu sayang, ibu selalu sia menjadi pendengar terbaik kamu. " gumam Bus Lasmi. Matanya tampak berkaca kaca, dia berusaha sekuat tenaga menahan tangisannya.
Bu Lasmi tak ingin menganggu waktu istirahat sang anak. Dia mendaratkan kecupan di kening Ashley kemudian bangkit dan ke luar dari putrinya. Dia memilih menemani anak anak lain bermain di halaman depan.
Bu Lasmi hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Ashley kedepannya nanti. Lagi lagi hembusan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Entah apa yang tengah di pikirkan Bu Lastri saat ini.
__ADS_1