(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 75 Season 2 Part 8 Rival baru


__ADS_3

Pagi berikutnya, Ashley merasa gugup. Dia berharap keputusannya ini sangatlah tepat untuk kedepannya nanti. Saat ini dia telah rapi, Ashley ke luar dari kamarnya. Sarapan bersama ibu dan adik adiknya.


Melihat penampilan dan putrinya yang sekarang membuat Bu Lasmi tersenyum. Selesai sarapan, Ashley langsung pamit pada ibu dan adik adiknya.


Ashley segera ke luar dari rumah. Tak dia sangka Felix telah datang menjemput dirinya. Gadis itu berjalan mendekatinya.


"Bagaimana jawabanmu baby? " tanya Felix dengan nada tak sabaran.


"Em aku mau menikah dengan kamu kak Felix. " gumam Ashley dengan malu malu. Felix langsung bersorak kegirangan, pria itu memeluk sang kekasih. Gadis itu membalas pelukan Felix tak kalah eratnya.


Felix melepaskan pelukannya, membawa kekasihnya masuk ke mobil. Dia lantas menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan area panti asuhan.


Pria tampan itu mengantarkan sang kekasih ke Cafe. Felix tak henti hentinya menciumi wajah Ashley membuat gadis itu merasa geli.


"Sudah kak, biarkan aku turun. " ujar Ashley dengan lembut.


"Baiklah baby, nanti siang aku akan menjemput kamu. " sahut Felix. Ashley segera turun dari mobil kekasihnya. Dia melambaikan tangan, segera masuk ke dalam Cafe. Felix segera mengemudikan mobilnya dengan cepat.


Ashley telah mengganti pakaiannya dengan seragam, kini tengah menata kursi dan meja. Ezra langsung datang menghampiri gadis itu.


"Kamu sudah sehat Ash? " tanya Ezra.


"Sudah kok. " jawab Ashley dengan singkat. Ezra kembali bertanya mengenai siapa yang mengantarnya tadi. Ashley mengatakan apa adanya tanpa ada yang dia tutupi.


Deg


Ezra terkejut mendengar pengakuan dari Ashley. Pemuda itu tersenyum miris, sepertinya dia terlambat mengungkapkan rasa sukanya pada Ashley. Melihat Ezra yang melamun membuat Ashley mengerutkan keningnya.


"Kau kenapa Zra? " tanya Ashley.


"Eh tak apa, lanjutkan pekerjaanmu saja Ashley. " Ezra kembali ke tempatnya. Ashley yang melihat sikapnya hanya mengedikkan bahunya, melanjutkan pekerjaan.


Ezra menghela nafas panjang, dia sangat kecewa setelah tahu Ashley berpacaran dengan Felix. Dia pun mengesampingkan perasaannya dan memilih fokus pada pekerjaannya saat ini.


Banyak pembeli yang datang, mereka melayani pembeli dengan ramah seperti biasanya. Ashley sibuk mencatat pesanan, sesekali dia mencuri dengar obrolan pembeli yang membicarakan tentang Felix.


Gadis itu lekas ke belakang untuk mengambil pesanan. Beberapa menit berlalu dia kembali, mengantarkan pesanan pada pembeli di meja nomor sembilan.

__ADS_1


"Silakan di nikmati nona nona." ucapnya sambil tersenyum. Ashley segera menyingkir dari hadapan mereka.


Gadis itu berniat membuang sampah melalui pintu samping. Suara deheman membuatnya menoleh, Ashley menatap gadis asing di depannya.


"Apa kau yang bernama Ashley? " tanya Irene tanpa basa basi.


"Ya aku Ashley. " jawabnya dengan singkat.


Irene mengenalkan siapa dirinya, dia juga menjelaskan hubungannya dengan Felix. Ashley tentu saja terkejut mendengar pengakuan Irene barusan. Gadis itu menunjukkan cincin di jarinya pada Irene.


"Kak Felix telah melamarku semalam, selama ini dialah yang terus mengejarku. Jika kamu ke sini hanya untuk memintaku menjauhi kak Felix, sepertinya kau salah besar. " ujar Ashley.


"Kau datangi saja kak Felix, untuk apa kamu menemui aku di sini? " ujar Ashley dengan wajah datar nya.


"Pelayan sepertimu sombong sekali, harusnya kau tahu diri. Di antara kamu dan Felix, bagaikan langit dan bumi. " sarkas Irene dengan nada pedas nya.


Ashley sebenarnya malas menghadapi perempuan seperti Irene ini. Gadis itu memilih kembali ke dalam kafe, mengabaikan teriakan Irene.



"Bagaimana bisa kak Felix menyukai pelayan rendahan itu. " gumam Irene disertai umpatan


Irene tentu saja tak terima, bagaimana bisa Felix memilih Ashley daripada dirinya. Dia tak akan membiarkan Felix menikahi Ashley, hanya dirinya yang berhak memiliki Felix seutuhnya.


Irene memilih pulang ke penthouse orang tuanya. Gadis itu langsung turun dari mobil, bergegas masuk ke dalam. Dia memilih pergi ke ruang tamu dengan wajah di tekuknya.


"Sayang kenapa wajah kamu di tekuk? " tanya Mami Ivy dengan kening berkerut.


"Tadi aku melabrak kekasih baru kak Felix Mami. " ungkap Irene. Mami Ivy terkejut mendengar pengakuan putrinya. Wanita paruh baya itu memberikan nasehatnya pada sang anak.


Irene tentu saja semakin kesal dengan sang mami. Dia merasa sang mami tak menyayangi nya, selama ini sang papi yang selalu membelanya. Melihat sikapnya putrinya yang keras kepala membuat mami Ivy menghela nafas berat.


"Mami tak pernah mengajarkan kamu merendahkan orang lain


Irene. " tekan mami Ivy dengan sorot tajammya.


"Tapi Mi, gadis itu hanya seorang pelayan. " sahut Irene tak mau kalah.

__ADS_1


"Irene, jaga bicara kamu. " bentak Mami Ivy dengan suara tingginya.


Irene terkejut, gadis itu menangis. Papi Trevor datang, bergabung bersama mereka. Gadis itu langsung memeluk sang papi dan mengadu.


"Mami enggak sayang sama Irene hiks. " gumam Irene dengan kecewa.


Mami Ivy berdecak pelan, sifat putrinya ini benar benar keterlaluan. Dia sepertinya perlu tegas pada Irene kali ini.


"Jika Mami tidak sayang kamu, mungkin saja mami sudah taruh kamu di panti. Harusnya kamu bersyukur dengan apa yang kamu miliki bukannya justru merendahkan orang lain seenak kamu. " geram Mami Ivy.


"Asal kamu tahu dulu mami juga wanita miskin, kalau begitu kenapa kanu juga tidak menghina mami? " sarkas Mami Ivy.


Irene kehilangan kata katanya, gadis itu menangis dalam pelukan sang papi. Tuan Trevor sendiri tak bisa berkata kata setelah mendengar pernyataan sang istri barusan.


Mami Ivy mengusap wajahnya, dia mulai muak dengan kelakuan sang anak yang semakin tak terkendali. Dia merasa gagal mendidik Ivy, mungkin ini akibat dirinya dan suaminya terlalu memanjakan Irene.


Kimi suasana terasa dingin, Mami Ivy langsung bangkit dan meninggalkan suami dan anaknya. Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ke belakang.


"Jika kamu tak mengikuti nasehat mami, lebih baik lupakan saja jika mami adalah mami kamu, Irene! " tegas Mami Ivy. Setelah itu dia langsung pergi begitu saja.


Tuan Trevor tentu saja terkejut dengan ucapan terakhir istrinya. Tangisan Irene semakin kencang setelah mendengar ucapan sang mami. Pria paruh baya itu hanya mampu menenangkan sang anak. Setelah Irene tenang, Tuan Trevor langsung menyusul istrinya ke kamar.


Cklek


"Aku ingin sendiri saat ini Papi. " gumam Mami Ivy tanpa menoleh. Tuan Trevor tetap mendekat, pria paruh baya itu menghampiri sang istri kemudian memeluknya dari belakang. Dia berharap pelukannya ini mampu membuat sang istri tenang nantinya.


Suasana hening menyelimuti pasangan paruh baya ini. Nyonya Ivy tengah berusaha menenangkan dirinya.


"Aku tahu kau kecewa dengan Irene, Mi. Tapi papi mohon kendalikan diri kamu. " gumam Papi dengan tenang.



VISUAL EZRA



VISUAL IRENE

__ADS_1


__ADS_2