(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 103 Extra Part 3 Usaha Henry


__ADS_3

Malamnya Henry dengan sabar menunggu Irene bersiap. Tak lama suara langkah kaki mendekat membuat pria itu menoleh.



Wanita itu masih menjaga jarak dari Henry. Henry langsung mendekat, terpesona dengan kecantikan yang di miliki Irene.


"Kita berangkat sekarang. " ungkap Henry sambil menggandeng tangan Irene. Di luar penthouse pria tampan itu menghentikan langkahnya, dia menoleh mendapati Irene yang tampak takut dan gelisah.


Henry menghela nafas panjang, dia mendekati irene lalu menyentuh pipi wanita cantik itu. "Maafkan aku Rene, maaf karena aku membuat kamu menjadi ketakutan seperti ini. " gumam Henry.


Dia lantas membuka pintu mobilnya, membiarkan Irene masuk kemudian menutupnya. Henry segera melakukan roda empatnya dengan kencang. Sepanjang perjalanan, tak ada yang berbicara sedikitpun.



Henry menuntunnya hingga ke sebuah gazebo yang terletak di dekat pantai. Pria itu melepaskan rangkulannya, Irene menatap sekelilingnya yang di penuhi lilin.


"Ayo duduk. " ucap Henry dengan lembut. Irene segera duduk berhadapan dengan Henry. Wanita itu hanya diam saja saat pria di depannya ini bicara.


Mereka makan malam dengan suasana romantis. Setelah lim belas menit berlalu, Irene membuka suaranya dan mengatakan tentang Jerome.


Henry menatap Irene dengan lekat. Entah apa yang tengah pria itu pikirkan saat ini. Dia menggenggam tangan Irene dengan erat.


"Kalau kau cinta sama dia, harusnya kamu terima dia Irene. " ucap Henry namun Irene justru menggeleng pelan.Irene menghela nafas panjang, fokusnya kembali tertuju pada Henry.


"Aku tak pantas untuk Jerome, meski rasanya sakit aku telah merelakan agar pria itu bersama gadis lain. " ungkapnya dengan tatapan sendunya.


Dada Henry terasa sesak melihat kerapuhan dari Irene. Pria itu hanya bisa menyesali semuanya yang telah dia lakukan pada Irene. Pria itu langsung berlutut dan menangis. Dia benar benar serius meminta maaf pada Irene.


Irene sendiri memalingkan wajahnya, matanya telah berkaca kaca. Dia berusaha sekuat tenaga menahan tangisan nya. Wanita itu lekas bangkit, berlalu pergi. Henry langsung berdiri dan mengejarnya.


Grep


"Pukul aku sepuasmu Rene, aku tak sanggup melihatmu tersiksa seperti ini. " gumam Henry. Pria itu memeluk tubuh Irene dari belakang.


Hiks

__ADS_1


Terdengar suara isakan tangis ke luar dari bibir Irene. Wanita itu tak mengatakan apapun pada Henry. Henry melepaskan pelukannya kemudian membalik tubuh wanita yang telah dia sakiti.


"Tolong jangan menangis lagi Irene, kau wanita baik baik. " ucapnya seraya menghapus air mata di pipi Irene. Henry mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


Dia langsung menyematkan cincin ke jari Irene. Irene tentu saja terkejut dengan apa yang di lakukan Henry. Pria itu menggenggam tangan wanita yang telah dia hancurkan hidupnya.


"Besok kita akan menikah setelah itu kita pindah dan menikmati suasana baru. " ungkap Henry dengan sungguh sungguh.


"Tapi? " Irene tampak mengigit bibirnya. Dia sangat takut jika dirinya akan di buang dan di hina lagi seperti dulu.


"Aku sangat serius Rene, aku ingin bertanggung jawab atas apa yang aku perbuat sama kamu. Kita sama sama membuka lembaran baru setelah menikah besok. " pungkas Henry.


Pria itu menariknya kembali ke dalam pelukan. Setelah selesai keduanya kembali duduk dan menikmati suasana malam. Henry melepaskan jasnya kemudian memakaikan ke tubuh Irene.


Setelah satu jam di sana, keduanya beranjak dari sana dan masuk ke mobil. Irene yang merasa mengantuk segera memejamkan kedua matanya. Henry melajukan roda empatnya dengan kecepatan sedang.


Skip


tiba di Penthouse, pria itu menoleh. Dia tersenyum tipis melihat Irene yang tertidur. Pria itu turun lebih dulu kemudian menggendong Irene dan membawanya masuk ke dalam.


"Maaf karena aku, kamu kehilangan pria yang kamu cintai. " gumam Henry dengan nada lirihnya.


Cup Dia mencium kening Irene kemudian ke luar dari kamar calon istrinya. Setelah kepergian Henry, ternyata Irene membuka kedua matanya. Wanita itu menghela nafas panjang, dia mendengar ucapan Henry barusan.


"Mengapa takdir ini seolah mempermainkan aku. " ucap Irene dengan lirih. Wanita itu tersenyum miris mendapati takdir hidupnya yang begitu pahit.


"Haruskah aku menerima tawaran Henry dan memulai semuanya bersama pria itu. " gumam Irene.


Irene merasa pusing, dia memilih memejamkan mata dan tertidur.


Pagi harinya Irene telah terlihat segar. Wanita itu mengenakan maxy dress, dia menguncir rambutnya. Usai bersiap Irene segera ke luar dari kamar. Ternyata Henry datang menghampirinya, pria itu langsung mengajaknya turun ke bawah.


Sarapan kali ini mereka adalah roti dan susu. Diam diam Henry memperhatikan Irene dengan lekat. Pria itu kembali fokus memakan rotinya.


Usai sarapan, Irene segera menghubungi kedua orang tuanya dan memberitahu rencananya dan Henry.

__ADS_1


Tak lama Mami Ivy dan Papi Trevor datang. Irene dam Henry segera menyambut kedatangan mereka. Melihat sosok Henry membuat amarah Tuan Trevor naik seketika.


"Kau. " pria paruh baya itu mendekat dan meremas kemeja Henry.


Bug


Bug


Pria paruh baya itu memukul dua kali wajah Henry. Mami dan Irene memekik terkejut. Irene berusaha menenangkan papinya, diapun segera menolong Henry.


"Papi sebaiknya kita bicara dengan tenang di ruang tamu. " ujar Irene.


Mereka pergi ke ruang tengah. Henry langsung membuka obrolan dan menyampaikan tujuannya sekaligus meminta restu. Irene sendiri hanya diam, mendengar perdebatan sang papi dengan Henry.


"Izinkan saya untuk bertanggung jawab om, tante. Saya memang brengshake dan pengecut, karena saya hidup Irene menjadi hancur. " ungkap Henry dengan nada penyesalannya.


"Ya memang kau harus bertanggung jawab Henry. " ujar Tuan Trevor dengan sinis.


"Saya sudah menyiapkan semuanya, kami hanya perlu datang ke kantor untuk mengurus pernikahan. Mengenai pestanya, nanti akan menyusul. " ujar Henry panjang lebar.


Kedua orang tua Irene saling melirik satu sama lain. Tuan Trevor menatap datar kearah Henry.


"Saya memberikan restu, sekali lagi kamu sakiti putri saya maka saya akan membuat hidupmu hancur hancurnya. " ancam tuan Trevor.


"Saya akan menbuktikannya om. " tegas Henry sambil menggenggam tangan Irene. Pria itu menoleh kearah Irene dengan pandangan lekatnya. Irene melirik kearahnya dalam diam tanpa mengatakan apapun pada Henry.


Dia merasa tak ada yang perlu di bicarakan dengan Henry. Selesai mengobrol, Henry meminta izin untuk mengurus surat pernikahan dirinya dengan Irene hari ini pada calon mertuanya. Pria itu langsung membawa ke luar calon istrinya itu.


Nyonya Ivy mengusap lengan suaminya, dia berusaha menenangkan hati suaminya yang masih terbakar amarah. Keheningan melanda keduanya sejak kepergian anak dan calon menantu mereka.


"Mami harap Irene akan bahagia dengan siapapun itu. " gumam nyonya Ivy.


"Papi juga berharap seperti itu


mami. " sahut papi Trevor.

__ADS_1


__ADS_2