
Setelah mengirim hadiah untuk Devan, Sergio dan semua keluarga kecilnya telah dalam perjalanan pulang ke negara X.
Pria itu memutuskan hal ini demi keselamatan keluarganya dari kenekatan Devan. Sergio memilih mengobrol dengan kedua daddy nya membicarakan bisnis.
Banyak hal yang mereka bicarakan di dalam pesawat. Sementara para wanita beristirahat di kabin. Kedua paruh baya menghampiri mereka, mommy Kinara memanggil Sergio. Sergio lekas bangkit dan menghampiri istri tercintanya.
"Kenapa belum tidur sayang, perjalanan masih panjang? " tanya Sergio mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
"Enggak bisa tidur kalau belum di usap perutnya sama kamu mas. " rengek Anna. Sergio mengulas senyumnya, berbaring di belakang sang istri dan mengusap perutnya. Pria itu justru dengan usil menciumi leher istrinya.
"Mas. " tegur Anna yang di tanggapi kekehan oleh suaminya. Sergio kembali mengusap perut istrinya sampai Anna tertidur. Tak lama terdengar suara dengkuran halus membuat Sergio tersenyum kecil.
Diapun lama kelamaan ikut mengantuk dan segera memejamkan kedua matanya.
Skip
Mereka tiba di mansion masing masing pada sore harinya. Sergio memastikan kedua anaknya lebih dulu setelah itu menghampiri sang istri yang ada di kamarnya. Pria itu memperhatikan Anna yang tengah memegang sebuah figura.
"Sayang kau juga merindukan
Venia? " tanya Sergio.
"Iya mas, Kak Venia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Selama ini banyak kebaikan yang dia berikan untukku. Namun aku belum bisa membalas kebaikannya selama ini. " gumam Anna.
Sergio duduk di sebelahnya, dia juga merasakan hal sama. Belum bisa menjadi suami terbaik untuk mendiang Venia. Anna langsung mengembalikan figura itu.
"Mas aku istirahat bentar ya, kamu temani si kembar aja enggak papa. " ucap Anna.
Cup Sergio mencium kening wanitanya, membantu Anna berbaring di atas ranjang. Diapun langsung pamit dan ke luar dari kamarnya. Anna sendiri telah memejamkan kedua matanya.
Di suatu tempat, Anna mengerutkan kening melihat tempat yang begitu indah dengan penuh banyak bunga di sekelilingnya. Wanita itu terus berjalan lurus mengikuti instingnya.
__ADS_1
"Anna. "
Suara lembut seseorang menyita perhatiannya. Anna menoleh, matanya tampak berkaca kaca. Dia langsung berlari kearah sosok Venia dengan pakaian putihnya.
Hiks
"Kenapa kak Vee memilih menyerah, kenapa? " Anna menangis sambil memeluk sosok itu.
"Ini adalah Takdir Anna, dan aku telah menerima takdirku. " bisik Venia. Anna melepaskan pelukannya, Venia mengajaknya duduk di sebuah sofa.
Wajahnya tampak bersih dan menenangkan. Anna hanya bisa menangis, merindukan sosok yang dia anggap sebagai kakaknya.
"Kehadiran kamu bukan kesalahan Anna, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri! "
"Sekarang kamu bunda dari si kembar dan istri mas Gio. Tolong bahagiakan mereka, didik si kembar agar kelak menjadi pria yang bertanggung jawab Anna. " pinta Venia penuh harap.
Anna menggeleng, wanita itu kembali menangis. Venia berusaha menghapus air mata Anna, memberikan dukungan pada Anna. Anna sendiri terus meminta maaf pada sosok di hadapannya saat ini.
"Waktuku sudah habis Anna, semoga kamu berbahagia bersama mas Gio dan si kembar. " ujar Venia sambil tersenyum.
"Jaga dirimu Anna, Pikirkan kebahagiaanmu sendiri dan keluarga kecil kamu saat ini. " Angin meniup hingga menghapus sosok Venia dari hadapannya. Anna terus berteriak meminta Venia jangan pergi.
"Kak. "
"Kak Vee jangan pergi. "
"Kak Vee! " Pekik Anna terbangun dari tidurnya. Wanita itu menangis memperhatikan sekitarnya. Dia mengusap perut buncitnya, meminta maaf pada calon bayinya.
Anna kembali terisak, pertemuan dirinya dengan sosok Venia begitu nyata. Namun realitanya semua itu hanyalah mimpi belaka. Sergio kembali, dia berjalan cepat menghampiri sang istri.
"Sayang ada apa? "
"Mas aku mimpi bertemu kak Venia. " gumam Anna. Sergio segera memeluknya dari samping.Dia hanya diam saat sang istri mengatakan mimpinya. Pria itu turut mengusap punggung bergetar sang istri.
__ADS_1
Setelah merasa tenang, Sergio langsung menciumi wajah sang istri. Dia membantu istrinya bangun dan memapahnya ke kamar mandi. Selesai mandi dan berpakaian, mereka langsung turun ke bawah. Keduanya menghampiri si kembar di ruang tengah.
"Apa kau lapar sayang? " tanya Sergio pada istrinya.
"Nanti aja mas. " tolak Anna dengan halus. Wanita hamil itu justru memperhatikan kedua putranya yang asyik bermain. Sergio menghela nafas panjang, dia merasa paham akan apa yang di rasakan Anna saat ini.
Terdengar helaan nafas panjang, ke luar dari bibir Anna. Entah apa yang di pikirkan wanita hamil itu sekarang. Anna bersandar di dada sang suami, Sergio mengusap perut istrinya dengan lembut.
Revan dan Winnia kini datang berkunjung, mereka lantas bergabung bersama Sergio dan Anna di ruang tamu. Winna segera mengenalkan dirinya pada Anna. Anna tentu saja merasa canggung dengan adik dari mendiang Venia itu.
"Tak perlu canggung An, maaf karena aku sempat berpikiran buruk mengenai kamu. " ucap Winna dengan tulus.
"Enggak papa Win, wajar saja bukan jika kamu berburuk sangka padaku. jawab Anna sambil tersenyum. Kedua wanita hamil itu saling berbicara dari hati ke hati. Sementara para pria memilih pergi dari sana, pergi ke ruangan kerja Sergio.
Kedua wanita cantik itu saling berbagi cerita mengenai kehamilan masing masing. Winna menghela nafas lega, dia setidaknya tak terus menerus berburuk sangka pada Anna. Dia lekas bangkit, berpindah tempat di sebelahnya. Pelayan datang membawakan berbagai makanan dan minuman ke meja makan.
"Terimalah statusmu sekarang
Anna, aku tak masalah jika kamu menjadi bunda si kembar! "
"Apa aku bisa menjadi seorang ibu yang baik untuk si kembar Win? " tanya Anna dengan ragu ragu.
"Pasti bisa percayalah. " jawab Winna meyakinkan seraya tersenyum. Anna pun langsung mengusap perut adik iparnya bergantian dengan Winna. Dan semakin lama keduanya mulai akrab dan terbuka satu sama lainnya.
Anna cukup senang berbicara dengan Winna yang mau menerima dirinya sebagai bundanya si kembar. Masing masing menikmati jus sambil mengobrol lagi dan lagi. Double F menghampiri keduanya, menggoda aunty galak nya seperti biasanya.
"Kalian sangat suka menjahili Aunty ya rupanya. " ucap Winna dengan gemas.
"Tentu saja, wajah aunty begitu lucu saat marah dan mengomel. " ceplos Finn. Winna berdecak pelan, mengacak acak rambut sang keponakan. Anna sendiri tertawa pelan melihat interaksi ketiganya yang begitu lucu menurutnya.
"Sayang, kalian ingin adik laki laki apa perempuan dari bunda? " tanya Anna pada si kembar.
"Perempuan Bunda, tapi apapun itu kami pasti akan menyayanginya. " ucap Si kembar dengan kompak. Anna merasa terharu dengan pemikiran kedua putra sambungnya.
__ADS_1
"Kalau adik dari aunty apa sayang?" sahut Winna bertanya pada sepupu.
"Sama saja aunty, kami akan sayang pada adik bayi aunty. " balas Felix sambil nyengir. Winna mengangguk puas dengan jawaban sang keponakan. Dia merasa mendiang kakaknya begitu hebat mendidik si kembar dengan sangat baik.