
Tepat pukul enam sore, Venia tengah mengobrol dengan si kembar dan suaminya di ruang tamu. Gelak tawa mewarnai suasana keluarga kecil yang bahagia itu.
Prang
Suara benda pecah membuat perhatian mereka teralihkan. Venia lekas bangkit dan bergegas pergi ke dapur.
Wanita cantik itu membulatkan mata melihat pecahan piring berserakan di atas lantai. Dia menoleh kearah pelayan dengan tatapan datar nya.
"Kenapa bisa pecah? " tanya Venia dengan nada datarnya.
"Maaf kak eh nyonya aku belum terbiasa mencuci piring. " jawab Winna dengan kepala menunduk.
"Terbiasa di manja membuat kamu tak bisa melakukan apa apa kecuali berfoya foya. " sindir Venia dengan sinis. Winna terdiam, dia segera membereskan pecahan piring yang terjatoh karena ulahnya.
Setelah selesai Winna langsung membawanya ke belakang. Venia berdecak pelan, dia meminta pelayan untuk mengawasi Winna.
Para pelayan tengah menyiapkan makan malam untuk sang majikan. Setelah selesai para pelayan itu membawanya ke meja makan di bantu Winna.
Kini keluarga kecil itu berada di meja makan. Venia setidaknya bisa bernafas lega, kedua putranya tak memiliki alergi makanan apapun. Mereka langsung menikmati hidangan yang telah di sediakan.
Lima belas menit berlalu mereka selesai makan malam. Si kembar menghampiri orang tuanya, masing masing menciumi pipi Sergio dan Venia secara bergantian.
"Langsung tidur ya sayang, jangan main main. Besok sekolah boys! " tegur Venia pada si kembar.
"Kami tidur dulu mom. " Si kembar langsung naik ke atas meninggalkan orang tua mereka. Setelah kepergian si kembar, Venia kembali menyesap orange jusnya.
"Kita tidur yuk, biarkan Winna yang membereskan semuanya. " cetus Venia. Sergio mengangguk, keduanya beranjak dari sana dan naik tangga menuju ke kamar mereka.
Winna baru memunculkan dirinya, wanita itu mulai membereskan meja makan di bantu pelayan lainnya. Dia berusaha untuk bekerja dengan baik agar Venia tak mengungkit kesalahannya lagi. Dia langsung membawanya ke dapur.
Keduanya langsung mencuci piring setelah itu pergi ke kamar masing masing. Terdengar suara helaan nafas berat dari bibirnya. Winna menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
Berbeda dengan Venia dan Sergio yang semakin mesra. Hubungan di antara Shaka dan istrinya masih stuck di tempat. Seperti ada tembok besar yang membentengi keduanya. Melisa tentu saja wanita yang baper namun dia berusaha tak memperlihatkan kesedihannya pada sang suami.
Wanita cantik itu masih menemani sang anak di kamar Karamel. Dia tengah membacakan dongeng untuk putri tercintanya.
"Sayang kenapa kamu sangat suka sekali dengan dongeng Cinderella? " tanya Melisa pada putri kecilnya.
"Karena ada pangeran tampan nya, Kara kelak pengen kayak
Cinderella. " ucap Karamel dengan polos.
Melisa tersenyum geli mendengar alasan sang anak. Dia mengecup lembut kening putri tercintanya. Wanita itu lantas menaruh bukunya di atas meja, kemudian menarik selimut menutupi tubuh putrinya.
"Ayo tidur sayang, udah malam. " gumam Melisa dengan lembut. Karamel mengangguk, bocah cantik itu segera memejamkan kedua matanya.Melisa tidur sambil memeluk sang anak.
Larut malam pintu terbuka Shaka masuk ke kamar putrinya. Pria itu mendesah pelan mendapati istrinya tertidur nyenyak bersama putri mereka. Dengan pelan pelan Shaka menggendong Melisa dan membawanya menuju ke kamar mereka.
Skip
Kamar Melisa & Shaka
"Kenapa mas Shaka membawaku ke sini, aku masih ingin tidur dengan Karamel! " ungkap Melisa.
"Apa kau berniat menghindariku? " tebak Shaka.
"Kenapa mas bisa berpikir seperti itu, lagipula selama ini aku merasa baik baik saja. Aku saat ini berada di posisiku tanpa menuntut apapun dari kamu! " ujar Melisa.
"Apa mas Shaka memang tak bisa mencintai aku, menempatkan aku dalam tahta tertinggi di hatimu? " tanya Melisa dengan tatapan seriusnya.
Shaka menghela nafas berat, dia tak nyaman jika istrinya mengungkit hal yang sama untuk beberapa kali.
"Apa kau tak merasakan bagaimana sikapku selama ini, perlukah aku mengungkapkan kata kata yang menggelikan itu Mel? " sahut Shaka penuh penekanan.
__ADS_1
Melisa kini yang kehilangan kata katanya. Shaka berdecak pelan, pria itu langsung naik ke atas ranjang dan tidur membelakangi istrinya. Melihat sikap acuh suaminya lagi lagu membuat sayatan di hati Melisa kian melebar. Dia merasa suaminya tak mencintai dirinya sama sekali.
Wanita itu memilih berbaring, menarik selimut menutupi tubuhnya. Diam diam dia menangis tanpa suara, Melisa juga berbaring membelakangi Shaka.
"Aku tahu ini bukan pernikahan impian untuk kamu mas, tapi bisakah sedikit saja menunjukkan kasih sayang mu padaku? " batin Melisa miris.
Wanita itu tentu saja sakit hati mendengar ucapan suaminya barusan. Melisa buru buru menghapus air matanya. Mereka sudah lima tahun hidup berumah tangga namun semuanya tak sesuai dengan apa yang dia bayangkan. Rasanya sangat sulit untuk mendapatkan cinta dari Shaka, suaminya sendiri.
Terdengar helaan nafas panjang, Melisa berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang dan kuat. Entah sampai kapan dirinya akan bertahan dalam rumah tangga yang tak ada rasa cinta dari suaminya.
Huh
Melisa yang belum bisa tidur, memilih bersandar pada kepala ranjang. Dia mengambil buku novelnya, berusaha menghilangkan kesedihannya saat ini. Merasakan pergerakan dari istrinya, Shaka hanya diam saja dan kembali melanjutkan tidurnya.
Dia menaruh bukunya di atas meja, Melisa menoleh ke samping dan memperhatikan punggung sang suami. Ingin sekali dia memeluk sang suami namun Melisa tak punya keberanian.
Pernyataan Shaka barusan mengingatkan dirinya agar sadar diri. Ekspektasi tak sesuai dengan realita yang ada. Melisa mengusap wajahnya pelan, dia memilih kembali berbaring di atas ranjang. Wanita cantik itu segera memejamkan mata, tak lama Melisa terlelap dalam tidur.
Hari berikutnya
Pagi ini Melisa telah bangun duluan. Selesai mandi dan berpakaian, dia segera menyiapkan pakaian kerja sang suami. Wanita itu lantas ke luar dari kamar dan pergi ke kamar putrinya.
"Sayang ayo bangun, kamu harus sekolah Kara. " ucap Melisa dengan lembut dan sabar. Karamel membuka kedua matanya, bocah cantik itu meminta di gendong.
Melisa mengulas senyumnya, menggendong sang anak menuju ke kamar mandi. Selesai membantu putrinya bersiap, Melisa langsung mengajak Karamel turun.
Wanita itu mengurus sang anak. Bertepatan dengan Shaka yang datang dan bergabung bersama mereka. Melisa hanya diam saja, dia tetap melayani sang suami. Sarapan kali ini terasa dingin hanya terdengar celotehan Karamel.
"Sayang nanti, mami yang antar kamu ya Kara. Papi kamu lagi sibuk sibuknya, kamu enggak papa 'kan sayang? " tanya Melisa pada si kecil.
"Iya mami. " jawab Karamel dengan polos.
Lima belas menit berlalu, ketiganya langsung pergi meninggalkan meja makan. Shaka pergi duluan setelah berpamitan pada anak dan istri. Melisa melajukan roda empatnya, meninggalkan kediaman sang suami. Sepanjang perjalanan dia terus mendengarkan celotehan putrinya.
__ADS_1
"Kebahagiaan dan kehadiran kamu adalah hal yang membuat mama bertahan sayang. " batin Melisa. Dia kembali fokus menyetir, sesekali menanggapi ucapan sang anak.