(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 67 Sebuah hukuman


__ADS_3

Di sisi lain Luna tampak ketakutan, gadis itu berusaha melarikan diri. Saat ini gadis itu tinggal di sebuah apartemen sesuai perintah bossnya.


"Sial fotoku sudah tersebar di sosial media. Kali ini riwayatmu benar benar tamat Luna. " gumam gadis itu pada dirinya sendiri. Terdengar suara umpatan ke luar dari bibir gadis itu.


"Sebaiknya aku hubungi nyonya Clara. " gumam Luna. Dia langsung mengeluarkan ponsel kemudian menghubungi bosnya itu. Rasa panik, takut bercampur jadi satu, dia perlu bersembunyi saat ini.


"Nyonya tolong aku, mereka telah menyebarkan videoku ke sosial media. " ujar Luna panik.


"Segera pergi dari sana bodoh. " maki Clara dengan nada kasarnya. Sambungan terputus begitu saja, Luna segera memberesi barangnya kemudian keluar dari apartemen.


Luna buru buru pergi dari sana. Tanpa di sadari, ada yang mengikutinya dari belakang. Theo berhasil melacak keberadaan Luna, pria itu sengaja ingin mengikuti kemanapun Luna pergi.


"Gadis sialan itu berani beraninya melarikan diri setelah berbuat jahat pada nyonya Anna. " geram Theo.


Pria itu melajukan roda empatnya dengan kencang, dia menghentikan mobilnya tepat di depan Luna. Theo langsung ke luar, menyeret Luna masuk ke dalam mobilnya.


"Lepaskan aku! " Luna berusaha melawan namun Theo lebih kuat. Pria itu memukul tengkuk Luna Hingg gadis itu tak sadarkan diri.


Beberapa menit berlalu Theo telah sampai di kantor polisi. Dia segera menghubungi Sergio mengenai hal ini. Tiba di sana, Theo segera ke luar dari mobilnya dan membawa Luna. Tak lama Sergio dan Tuan Daffa datang, mereka sama sama menjebloskan Luna ke penjara. Theo menyerahkan bukti berupa video pada polisi.


Luna menangis tergugu. dia langsung memohon ampun pada Sergio dan mengakui kesalahannya. Rahang Sergio tampak mengeras, pria itu hendak mencekiknya namun sang daddy melarangnya.


"Katakan siapa yang menyuruh kamu melakukan ini? " bentak Sergio dengan nada penuh kemarahan.


"Nyonya Clara, dan tuan Devan yang menyuruh saya mencelakai nyonya Anna tuan. " ungkap Luna dengan nada terbata bata.


Sergio mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia langsung pergi mengajak Theo, Theo melajukan roda empatnya dengan kencang menuju kediaman Sastra. Tuan Daffa sendiri meminta polisi untuk menyusul ke alamat yang dia sebutkan.


Skip


Kediaman Sastra

__ADS_1


Keduanya langsung turun dan menggedor pintunya. Pintu terbuka, Sergio dan Theo langsung menyelinap masuk begitu saja.


"Kalian ini tak ada sopan sopan nya ya masuk ke dalam rumah orang. " omel Clara.


"Tutup mulutmu! " sela Theo dengan tatapan tajam nya.


Devan ke luar menghampiri suara keributan. Sergio melayangkan pukulannya ke wajah Devan. Polisi langsung menunjukkan surat penangkapan. Theo segera menarik bossnya menjauh.


"Kenapa, apa kalian terkejut. Aku sudah berhasil menangkap Luna, gadis itu berada di penjara sekarang Clara, Devan! "


Clara mengumpat pelan, dia merutuki kebodohan Luna yang tak bisa di andalkan. Polisi langsung memborgol keduanya, membawa mereka ke luar. Sergio merasa belum puas, ingin mematahkan tangan Devan yang lain.


Setelah polisi membawa pergi Clara dan Devan, Sergio dan Theo langsung pergi dari kediaman Devan. Ada rasa lega dalam diri Sergio, orang orang yang mencelakai keluarga kecilnya telah tertangkap.


Skip


Sergio telah kembali ke Villa. Hatinya menghangat melihat istrinya tengah menjaga si kecil. Meski ingatan Anna belum kembali, sepertinya naluri seorang ibu yang membuat Anna tampak bahagia berada di baby Violet. Pria itu berjalan pelan menghampiri istri tercintanya.


"Apa para penjahat itu sudah tertangkap mas? " tanya Anna.


"Sudah sayang. " jawab Sergio singkat.


"Syukurlah kalau begitu. " ucap Anna sambil tersenyum. Sergio melabuhkan kecupan manis di kening istrinya. Fokusnya kini beralih pada bayi cantik dalam gendongan Anna. Anna mengatakan apa saja kegiatannya tadi bersama si kecil.


Sergio menanggapinya dengan senyuman. Dia memiliki ide untuk mengajak istrinya untuk berlibur berduaan sekaligus honeymoon. Pria itu langsung menyampaikan idenya pada sang istri.


Anna tentu saja keberatan, dia tak tega meninggalkan baby Violet sementara. Sergio berusaha membujuk sang istri agar mau berlibur dengannya, hanya berdua.


Sementara penangkapan Devan dan Clara membuat gempar di sosial media. Nama baik keluarga Sastra tercoreng. Kedua orang tua Devan tentu saja terkejut hingga nyonya Sastra sendiri jatuh tak sadarkan diri.


Semua orang terus membicarakan mengenai Devan dan Clara. Masalah mereka menjadi trending topik yang panas di sosial media saat ini. Banyak hujatan dan cacian yang di terima Devan dan Clara saat ini.

__ADS_1


Tuan sastra merasa sangat malu dengan apa yang terjadi pada putranya. Pria paruh baya itu tampak panik, menunggu dokter yang tengah memeriksa istrinya.


beberapa jam kemudian dokter baru ke luar dari ruangan. Tuan Sastra langsung mendekati dokter.


"Bagaimana keadaan istri saya


dok? " tanya Tuan Sastra.


"Nyonya Sastra mengalami stroke Tuan." Tuan Sastra begitu syok dengan keadaan istrinya barusan. Pria paruh baya itu menangis tergugu. Suster dan lainnya segera memindahkan ruangan sang pasien.


Tuan Sastra langsung pergi ke ruangan sang istri. Paruh baya itu masuk ke dalam, menggenggam tangan sang istri. Pria itu kini menangis, meratapi keadaan istrinya saat ini.


"Keluarga kita telah hancur lebur mami. " gumam Tuan Sastra. Dia merasa Tuhan tengah menghukum keluarga mereka. Akibat keserakahan dan kesombongan yang mereka miliki membuat mereka lupa diri.


Saat ini hanya ada penyesalan dalam dirinya. Selama ini dia begitu kejam pada keponakan dia sendiri, Anna. Dia merenggut hak hak yang seharusnya keponakannya itu miliki.


"Huhu, maafin uncle, Anna! " Terlihat jelas ada gurat gurat penyesalan di wajah tuan Sastra. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Tuan Sastra begitu menyesali perbuatannya selama ini. Pria paruh baya itu berharap sang keponakan mau memaafkan keluarganya atas kejahatan dia selama ini pada Anna.


Beberapa menit berlalu nyonya Sastra membuka matanya. Tuan Sastra menjelaskan keadaan sang istri yang membuat wanita paruh baya itu menangis. Tuan Sastra mengungkapkan penyesalan, mengatakan keadaan keluarga mereka yang telah hancur lebur.


"Kita harus meminta maaf pada Anna, Mami. " gumam Tuan Sastra. Yang di tanya hanya mengangguk perlahan. Keadaannya sekarang membuat wanita itu hanya memiliki gerak terbatas.


Tuan Sastra membantu istrinya bersandar. Lalu mengusap air mata sang istri, sepertinya wanita itu juga merasakan penyesalan yang teramat dalam.


Nasi telah menjadi bubur sekarang!


Keduanya hanya bisa meratapi nasib mereka yang telah hancur. Mereka berdua berusaha menerima semuanya dengan lapang dada. Mungkin saja ini hukuman atas sikap mereka yang selama ini begitu angkuh. Tuan Sastra kembali duduk di kursi sambil menggenggam tangan istrinya.


"Mami mau makan? " tanya Tuan Sastra pada sang istri.


"Tidak Pi. " jawab Nyonya Sastra dengan pelan.

__ADS_1


__ADS_2