(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 89 Season 2 Chap 22 Perdebatan Keluarga


__ADS_3

Kini mereka semua berkumpul di ruang tamu. Ashley ingin meminta kejelasan dari orang tuanya.Bunda Anna dan Daddy Sergio pun turut hadir di sini.


"Mi, kenapa mami dan papi menjodohkan Alicia dengan Jarrel? " tanya Ashley tanpa basa basi.


"Kami memutuskan ini karena orang tua Jarrel dan Jarrel sendiri telah membantu mami dan papi selama ini sayang. " ujar Mami panjang lebar.


"Tapi hal itu bukan menjadikan alasan untuk mami dan papi mengorbankan Cia. " sahut Ashley.


"Apa mami dan papi sudah mencari tahu bagaimana kehidupan Jarrel dan sifatnya? "


"Sudahlah Ashley sayang, ini sudah menjadi keputusan mami dan papi. Lagipula beberapa hari lagi Alicia akan menikah dengan Jarrel. " tukas Mami.


Ashley pun hendak kembali menyanggahnya namun di tahan Felix. Wanita hamil itu memilih diam kala bunda Anna menyela obrolannya dengan sang mami.


Bunda Anna menghela nafas panjang, menatap kearah besannya sambil tersenyum.


"Bukannya saya tak ingin ikut campur mbak Serena, hanya saja keputusan Anda kali ini benar benar keliru. Anda sama saja memaksakan kehendak Anda pada putri Bungsu anda. " ujar Bunda Anna dengan lembut.


"Saya tahu apa yang terbaik buat Cia, Anna. Tolong jangan ikut campur dalam urusan keluarga


kami. " pinta nyonya Serena.


Bunda Anna sedikit memberikan nasehat pada besannya itu. Nyonya Serena seakan tidak terima dan justru berkata keras dan dengan nada tingginya.


Pasangan paruh baya itu langsung meninggalkan kediaman menantunya. Ashley merasa tak enak hati dengan sang mertua.


"Bunda, maafkan atas sikap mami barusan. " ujar Ashley dengan lembut.


"Tak apa sayang, bunda paham kok. Lain kali Bunda akan bicara lagi dengan mami kamu nak. " ungkapnya sambil tersenyum.


Ashley menghela nafas panjang,dia kecewa akan keputusan sang mami mengenai masa depan Alicia. Felix merangkul istrinya, dia berusaha menenangkan wanitanya.


"Kenapa mami dan papi sangat sulit untuk di beritahu sayang. Aku hanya tak ingin mami dan papi mengambil jalan yang salah dan berakhir penyesalan. " gumam Ashley.

__ADS_1


Felix sendiri tak mengatakan apapun. Dia hanya tak ingin menambah kekesalan sang istri mengenai mami dan papi. Bunda Anna sendiri menghela nafas panjang, dia paham dengan apa yang di rasakan menantunya.


Dering ponselnya menyita perhatiannya. Ashley langsung mengambil ponselnya.


"Halo Cia, kamu enggak papa 'kan dek? " tanya Ashley dengan nada paniknya.


"Aku enggak papa kak, hanya saja saat ini aku berada di apartemen Jarrel. " ungkap Alicia.


"Mami dan Papi justru membuatkan aku tinggal sama Jarrel kak, aku harus apa sekarang. " gumam Alicia dengan nada putus asa.


"Maaf ya Cia, kakak gagal membujuk mami dan papi untuk menghentikan perjodohan kamu dengan Jarrel. " sesal Ashley.


"Enggak papa kak, ya sudah aku tutup dulu. "


Tut


Ashley menaruh ponselnya di atas meja setelah sambungannya berakhir. Wanita hamil itu tak bisa tenang jika belum melihat sendiri keadaan sang adik. Dia langsung mengatakan keberadaan Alicia pada sang suami.


"Sayang bisakah kamu mengantarkan aku ke apartemen Jarrel. " pinta Ashley sambil memohon.


Dia memilih bangkit, meninggalkan ruang tami menuju ke kamarnya. Felix menghela nafas panjang melihat kepergian sang istri. Pria itu paham jika Ashley tengah marah padanya.



Ashley kini memilih pergi ke balkon menenangkan dirinya di sana. Sebagai seorang kakak, dia tak bisa melakukan sesuatu untuk adiknya. Dia memijit kepalanya yang terasa pusing kemudian memilih duduk bersandar di sofa.


Wanita itu menyentuh lembut perutnya yang masih rata. Dia mengajak bicara calon anaknya meski masih berbentuk janin. Dia kembali menyandarkan kepalanya di sofa dengan nyaman. Udara tampak cocok buatnya hingga lambat laun membuat Ashley tertidur di sana.


Felix menyusul istrinya, dia menghela nafas panjang melihat istrinya tertidur. Pria itu langsung membopongnya dan membaringkan ke atas ranjang. Dia mencium kening istrinya dengan lembut.


"Aku hanya tak ingin terjadi sesuatu sama kamu sayang, makanya aku menolak mengantarmu ke apartemen Jarrel. " gumam Felix.


Di kediaman keluarga nyonya Serena, paruh baya itu menyiapkan segala persiapan pernikahan putri bungsunya. Dia sama sekali tak mendengarkan nasehat putri sulungnya barusan. Wanita paruh baya itu sengaja menyiapkan pesta megah demi kebahagiaan putrinya. Nyonya Serena sangat yakin jika Alicia akan bahagia hidup bersama dengan Jarrel nantinya.

__ADS_1


"Mami kalau lelah untuk istirahat dulu. " tegur Papi. Mami Serena langsung menuruti perintah sang suami. Dering ponsel menyita perhatian wanita itu. Mami langsung mengeluarkan ponselnya, raut wajahnya kembali cerah.


"Halo nak Jarrel, ada apa? " tanya Mami Serena pada calon menantunya itu.


"Nanti malam saya akan mengajak Alicia pergi ke pesta tante, boleh kan? " tanya Jarrel dengan sopan.


"Tentu saja boleh, tante sangat yakin jika kamu bisa menjaga Alicia dengan baik. " ungkap Nyonya Serena sambil tersenyum.


Beberapa menit kemudian nyonya Serena menutup sambungannya. Dia mengatakan apa yang dia bicarakan dengan Jarrel barusan pada suaminya. Dia menyimpan ponselnya ke dalam tas kemudian bangkit dan pergi ke kamarnya.


Nyonya Serena tampak bahagia, dia tak sabar menyaksikan putri keduanya menikah. Seperti biasa mami melakukan aktivitas sorenya di kamar mandi setelah itu langsung berpakaian.


Tak lama papi menyusul, dia melihat istrinya tengah berbaring di atas ranjang. Nyonya Serena menggenggam figura photo berisi foto masa kecil Ashley dan Alicia.


"Ashley sudah menikah dan tak lama lagi aku akan punya cucu darinya. Beberapa hari Lagi Alicia menikah dengan Jarrel. " gumamnya sambil tersenyum lebar.


Huh


Nyonya Serena menghembuskan nafas panjang. Dia merasa terharu, kedua putrinya telah menemukan kebahagiaan masing masing. Tanpa dia sadari keputusannya itu justru menjaga boomerang untuk Alicia nantinya.


Cklek


Papi ke luar dari kamar mandi, segera berpakaian kemudian menghampiri sang istri. Dia lantas duduk di samping istrinya, menatap benda yang di pegang mami Serena.


"Tak menyangka ya Mi, waktu berlalu cepat. Kedua anak kita telah memiliki pasangan masing masing. " ujar Papi sambil tersenyum.


"Papi sangat benar sekali. " balasnya tersenyum tipis.


Keduanya kembali melihat foto masa kecil kedua putri mereka yang cantik cantik itu dengan seksama. Keduanya mengobrol dengan serius membahas kesiapan pernikahan Alicia dengan Jarrel.


Papi menggenggam tangan sang istri, kemudian merengkuhnya dari samping. Dia mencium kening mami dengan penuh kasih sayang.


Mami begitu menikmati ciuman di keningnya. Mereka jadi teringat dengan masa lalu, keduanya bersama karena perjodohan. Mami Serena berharap keputusannya menjodohkan Alicia dengan Jarrel sangatlah tepat dan berhasil nantinya.

__ADS_1


"Apapun yang terjadi Alicia harus menikah dengan Jarrel. " batin nyonya Serena.


__ADS_2