(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 30 Perdebatan


__ADS_3

Sorenya Sergio pulang bersama anak anak. Raut wajahnya tampak sangat kelelahan. Mereka pergi ke kamar masing masing.


"Sepertinya Venia belum pulang. " gumam Sergio. Pria itu lantas segera masuk ke dalam kamar mandi.


Tiga puluh menit berlalu pria itu ke luar dan segera mengganti pakaiannya. Si kembar masuk ke dalam kamar orang tuanya.



Kamar Venia dan Sergio


"Daddy. " panggil Felix.


Sergio menoleh, dia langsung duduk di sofa di susul kedua anaknya. Dia penasaran dengan apa yang ingin di bicarakan sang anak.


"Dad, mommy itu kalau bekerja kadang suka lupa waktu. " ceplos Felix.


"Nanti Daddy akan menegur mommy kalian. " sahut Sergio.


"Apa ada pria yang pernah mendekati mommy kalian boy? " tanya Sergio pada kedua putranya.


"Banyak Dad, tapi kami mengusir nya makanya mommy selalu pasrah saat kami berulah! " ceplos Finn dengan santai.


Sergio menghembuskan nafas lega. Dia paham jika sebenarnya kedua putranya menginginkan sang mommy berada di dekat mereka. Hot daddy itu berusaha memberi pengertian pada si kembar.


Double F saling melirik satu sama lain. Keduanya benar benar mengungkapkan isi hati mereka pada sang Daddy. Sergio mengusap kepala Finn dengan lembut.


"Lebih tak suka lagi jika mommy membahas uncle Shaka, Shaka itu. " celetuk Felix dengan muka datar nya.


Sergio langsung nyengir, dia ternyata memiliki kesamaan dengan putra sulungnya. Finn sendiri tertawa mendengar ucapan sang kakak barusan. Dan mereka bertiga tengah merencanakan sesuatu untuk menjauhkan mommy dari para pria yang hendak merebut mommy Venia dari mereka.


kompak sekali ayah dan anak anaknya ini?


Finn menyandarkan tubuh kecilnya di sofa sambil memainkan ponselnya. Sergio kini mengobrol dengan sang putra sulungnya Felix, keduanya masih membicarakan mengenai Venia.


"Kalian bermainlah, Daddy akan menghubungi mommy kalian. " ujar Sergio yang di acungi jempol oleh Felix. Sergio langsung bangkit, dia segera menyambar ponselnya kemudian menghubungi nomor istrinya.

__ADS_1


Pria itu dengan sabar sampai panggilannya di jawab sang istri. Sergio berdecak pelan dan kembali berusaha menghubungi istrinya. Tak mendapat jawaban membuat Sergio memilih menyerah.


Dia memilih bergabung bersama kedua anaknya. Ketiganya bermain game guna menghilangkan rasa jenuh yang mereka rasakan.


Setelah satu jam ketiganya memilih ke luar dan turun ke bawah. Mereka pergi ke ruang tamu. Sergio sempat memerintah pelayan untuk membuatkan camilan dan makanan untuk dirinya dan kedua anaknya.


Pelayan datang membawakan apa yang di inginkan Sergio. setelah menyajikannya sang pelayan langsung pergi. Si kembar menaruh ponsel merela, lalu mulai memakan keripik.


Beberapa menit berlalu


Venia baru pulang, wanita itu masuk ke dalam mansion. Raut muka wanita itu tampak menunjukkan kelelahan. Dia menyapa kedua anaknya serta sang suami setelah itu pergi ke kamarnya. Sergio menatap kepergian istrinya dalam diam.


"Sepertinya Vee sangat kelelahan. " gumam Sergio.


Satu jam kemudian hot mommy itu kembali, dia terlihat segar. Wanita itu bergabung bersama anak dan suaminya di ruang tamu. Venia pun menyandarkan tubuhnya di sofa, dia berusaha beristirahat.


"Kenapa ponsel kamu tidak aktif sayang? " tanya Sergio pada sang istri.


"Oh tadi aku silent,aku sibuk di


Sergio sendiri merasa heran tak biasanya sang istri mau mengubah penampilannya.


"Apa ada sesuatu yang membuat kamu merubah penampilan Vee? " tanya Sergio.


"Tak ada, aku hanya ingin saja. " jawab Venia dengan santai. Wanita itu turut memakan camilan sambil mengobrol dengan si kembar. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari mulut Sergio. Pria itu terus mengamati pergerakan istrinya dalam diam. Merasa di perhatikan Venia menoleh, dia mengerutkan kening melihat tatapan sang suami.


"Ehem Felix, Finn bisa tinggalkan mommy dan daddy sendiri dulu sayang. " pinta Venia pada kedua putranya.


"Oke mom. " jawab Felix langsung menarik adiknya pergi dari sana. Sepeninggal si kembar, fokus Venia kembali tertuju pada suaminya.


Kini suasana di antara suami istri tersebut tampak terasa dingin. Venia tengah menunggu apa yang ingin di bicarakan suaminya saat ini.


"Kau tidak merubah penampilanmu hanya karena pria lain bukan? " tebak Sergio pada istrinya.


"Bagaimana bisa kamu berpikiran seperti itu mas? " tanya Venia dengan nada tak percaya.

__ADS_1


"Tidak biasanya kamu mengubah penampilan, bukankah selama ini kamu tak peduli dengan omongan orang lain mengenai penampilan kamu Vee? "


Venia berdecak pelan. Dia merasa suaminya hanya membual dengan beralasan yang tak masuk akal itu. Wanita itu menatap jengah dengan tuduhan yang di layangkan suaminya saat ini.


"Kenapa kamu marah, aku merubah model rambutku karena keinginan aku sendiri. Kamu tuh aneh deh mas, baru bertemu aja sudah menuduh yang tidak tidak apalagi tinggal bersama bertahun tahun. " ujar Venia dengan sorot mata tajam nya.


"Aku bersyukur memilih berpisah dengan kamu selama lima tahun. " tekan Venia dengan nada menyindirnya. Sergio terhenyak mendengar pernyataan istrinya barusan.


Mood Venia yang awalnya bagus berubah down. Wanita itu hanya bisa merutuki suami nya dalam hati. Sergio sendiri tentu saja merasa sakit hati akan pernyataan istrinya barusan.


"Kamu egois Vee, anak anak menginginkan kamu bersama mereka. Biarkan aku saja yang bekerja, kamu cukup menemani si kembar. " ujar Sergio kembali mengemukakan pendaptanya.


"Butik ini impian aku lho mas dari dulu. Aku sudah bilang akan sibuk dengan butik, kenapa kamu justru melarang aku mas Gio? " sentak Venia dengan menaikkan nada bicaranya.


Sergio berdecak pelan, dia memilih bangkit dan ke luar begitu saja. Venia sendiri tak mencegah kepergian suaminya barusan. Wanita itu menghela nafas berat, dia tak menyangka akan berdebat dengan suaminya.


"Padahal aku sudah menanti impian aku ini sejak dulu. Membuka butik dengan kerja keras aku, kenapa mas Gio justru melarangku. " gumam Venia dengan lirih. Dia begitu kecewa dengan suaminya yang egois itu.


Tanpa dia sadari Venia juga sama egoisnya dengan Sergio. Keduanya sama sama tak ingin mengalah dengan keinginan masing masing. Si kembar melihat perdebatan kedua orang tuanya dari ujung tangga.


Felix dan Finn saling melirik satu sama lain. Keduanya tampak sedih melihat orang tuanya bertengkar.


"Kenapa masalah orang dewasa itu begitu rumit? " cetus Felix tak mengerti.


"Kau benar kak Felix. " sahut Finn dengan lesu. Felix merangkul bahu adiknya, mengajaknya kembali ke kamar mereka. Keduanya tak jadi berbicara dengan mommy dan daddy mereka itu.



Kamar Si kembar


Si kembar langsung naik ke ranjang masing masing yang letaknya bersisian. Keduanya benar benar tampak sedih, ingin sekali membuat orang tuanya berbaikkan.


"Finn, apa kau punya ide cemerlang saat ini? " tanya Felix pada adik kembarnya.


"Kita cari ide sama sama kak. " sahut Finn dengan malas. Felix mendengus pelan, dia menatap langit langit kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2