
Alicia datang ke rumah kakaknya, Ashley. Gadis itu langsung bergabung ke pelukan Ashley.
"Cia kamu kenapa dek? " tanya Ashley dengan raut paniknya. Terdengar suara isakan tangis, Ashley langsung mengajak adiknya ke ruangan tengah.
Wanita hamil itu membiarkan adiknya tenang lebih dulu. Setelah beberapa menit, Alicia melepaskan pelukannya.
"Katakan sama kakak, apa yang terjadi? " tanya Ashley.
"Mami dan Papi menjodohkan aku dengan Jarrel kak. " gumam Alicia sambil menangis sesegukan.
"Lalu? "
"Jarrel itu perokok, suka clubbing dan pergaulannya cukup bebas dia, suka bergonta ganti perempuan. " ungkap Alicia. Ashley tentu saja terkejut, bagaimana bisa orang tuanya menjodohkan Alicia dengan pemuda yang urakan seperti Jarrel.
"Kamu sudah bicarakan hal ini pada mami dan papi? "
"Sudah, tapi mami tak mau dengar. Justru mami menuduh aku hanya mengarang cerita. " ungkap Alicia dengan wajah sendunya.
Ashley kembali memeluk sang adik, dia turut bersedih melihat Alicia tertekan dengan desakan dari orang tua mereka. Alicia tentu saja takut bila Jarrel akan berbuat nekat padanya nanti.
Ashley melepaskan pelukannya, menghapus air mata adiknya. Dia langsung memanggil pelayan dan menyuruhnya membuatkan minuman untuk Alicia.
Pelayan datang mengantarkan minuman, di taruhnya di atas meja. Alicia langsung meminumnya dengan perlahan.
"Sepertinya aku perlu berbicara dengan mami dan papi. " gumam Ashley.
"Jangan kak, aku enggak mau kakak mendapat kemarahan dari mami dan papi. Ingat kakak sekarang sedang hamil anak kakak dan kak Felix. " tegur Alicia sambil menaruh cangkirnya di atas meja.
Dering ponselnya menyita perhatian dua wanita beda usia itu. Alicia mengambil ponselnya, terkejut melihat nama Jarrel menghubungi dirinya.
Tanpa banyak bicara gadis itu langsung memutus sambungannya, dia tak ingin berbicara dengan laki laki nakal seperti Jarrel.
"Siapa yang hubungi kamu Cia? " tanya Ashley.
"Jarrel kak. " jawabnya singkat.
Tring
__ADS_1
Ponsel Alicia kembali berdering, gadis itu langsung membuka pesan masuk.
From Jarrel
Ke luar sekarang atau aku akan menyakiti kakak kamu!
Alicia membulatkan mata, dia langsung menyimpan ponselnya di dalam tas. Gadis itu langsung pamit pada sang kakak, dia ke luar dari kediaman Felix.
Dia langsung menghampiri Jarrel yang tengah menunggunya di luar mobil. Jarrel tersenyum miring melihat kehadiran kekasihnya itu. Keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan pergi dari sana.
Visual Jarrel
Sepanjang perjalanan keduanya tak ada yang berbicara. Alicia memilih mengatupkan bibirnya rapat. Ternyata pemuda tampan itu membawa Alicia ke apartemen nya.
"Ayo Turun. " ujar Jarrel dengan wajah datar nya.
Alicia langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia merasa menyesal sempat mengagumi Jarrel dulu. Dia menaruh tasnya di atas meja, mengusap wajahnya dengan kasar. Gadis itu segera membersihkan diri lalu memakai pakaian sesuai perintah Jarrel.
Alicia benar benar kesal akan sikap arogan yang di tunjukkan oleh Jarrel padanya. Dia langsung ke luar dari kamar mengenakan gaun merah. Alicia menemui Jarrel yang bersantai di ruang tamu.
Jarrel terperangah melihat penampilan Alicia yang tampak berbeda. Dia berdehem, lalu memintanya untuk mendekat. Mau tak mau Alicia berjalan mendekatinya hingga berada di hadapan pemuda itu.
"Aku suka gadis yang penurut sepertimu Alicia. " Jarrel membawa Alicia ke atas pangkuannya. Alicia sendiri hanya diam, tak peduli dengan ucapan Jarrel yang tak penting sama sekali baginya.
Sret gadis itu mencekal tangan Jarrel yang hendak menyentuh tubuhnya. Raut wajah gadis itu berubah tajam kemudian menghempas tangan Jarrel.
"Untuk saat ini aku memang menurut, bukan berarti aku membiarkan kamu menyentuh tubuhku Jarrel! " tekan Alicia dengan tatapan datar nya.
__ADS_1
"Kau hanya perlu membayar wanita j4l4ng untuk memuaskan gairahmu yang murahan itu. " ujar Alicia dengan kasar. Gadis itu memilih menyingkir, duduk berjauhan dari Jarrel.
Jarrel justru tertawa, sepertinya pria itu sudah gila. Dia sama sekali tak tersinggung dengan sikap Alicia tadi.
"Wow ternyata aku tak menyangka jika kelinci manis sepertimu bisa berubah menjadi kucing betina galak. Tapi aku menyukai perubahan sikapmu itu Cia! "
"Rasanya aku tak sabar ingin menghujam kamu di atas ranjang, pasti sangat nikmat. " ujar Jarrel dengan frontal.
"Bastard. " maki Alicia lepas kendali. Selama ini dia menjaga sikap sesuai nasehat sang kakak. Namun sikap Jarrel kali ini membuat dirinya emosi.
"Dengar perusahaan orang tuamu berada di tanganku, jika kamu berbuat ulah maka aku akan membuat perusahaan papimu bangkrut! " Jarrel tersenyum licik menatap kearah Alicia.
Alicia mengepalkan tangannya. Jarrel benar benar sangat licik, dia merasa menyesal dan baru sadar melihat sisi lain dari pria urakan ini. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibir Alicia.
Jarrel langsung bangkit, dia memilih duduk di sebelah Alicia. Pria itu memeluk pinggang Alicia dengan posesif. Dia mulai mengendus hingga mencium leher gadisnya. Alicia merasakan geli, dia berusaha menghindar namun tak bisa.
"Aroma Strawberry. " gumam Jarrel yang mulai candu akan wangi dari tubuh calon istrinya.
Dering ponsel milik Jarrel menyita perhatian. Pria itu melepaskan pelukannya kemudian mengumpat. Dia langsung bangkit, menjauh dari ruang tengah. Alicia tak menyiakan kesempatan, dia langsung pergi ke kamarnya.
Alicia merasa jijik dengan ciuman Jarrel di lehernya. Sampai kapanpun dia tak akan pernah menyukai pria pembawa masalah seperti Jarrel Savio Argema.
Dia langsung mengambil ponselnya lalu mengirim pesan pada sang kakak. Alicia berharap kak Felix, kakak iparnya mau membantunya. Alicia menaruh kembali ponselnya di atas meja.
"Ya Tuhan, apa salahku. Kenapa aku harus berurusan dengan pria trouble maker seperti Jarrel. " gumam Alicia dengan lesu. Dia lantas mengganti pakaiannya dengan dress yang lebih manusiawi.
Alicia merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Dia hanya bisa menangis, gadis itu telah mengunci kamarnya agar Jarrel tak masuk. Gadis itu menyalahkan kedua orang tuanya, atas apa yang dia alami saat ini.
"Bagaimana caranya agar aku tak menikah dengan lelaki itu. Jika aku kabur, Jarrel akan berusaha mencelakai kak Ashley. " gumamnya frutsrasi.
Sementara itu Ashley langsung memberitahu suaminya mengenai keadaan Alicia saat ini. Felix tentu saja akan membantu sang adik ipar.
"Mami dan papi benar benar keterlaluan, aku akan bilang sama Bunda dan Daddy agar menasehati mami dan papi. " cetus Felix.
"Aku takut Jarrel berbuat sesuatu pada Cia, By. " gumam Ashley. Felix memeluk tubuh sang istri, berusaha menenangkan wanitanya. Dia sangat mengerti dengan ketakutan yang di rasakan Ashley.
"Tapi kamu tenang ya dan jangan terbawa emosi saat kamu bertemu mami dan papi nanti. Kita bicarakan hal ini dengan kepala dingin. " tegur Felix yang di angguki Ashley.
__ADS_1