(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 35 Shaka & Melisa Chap 2


__ADS_3

Melisa telah telah tersadar dari pingsannya. Dokter langsung menjelaskan keadaan wanita itu yang tampak drop.


"Banyak hal yang anda pikirkan 'hingga membuat Anda drop


nyonya. " ujar Dokter.


"Apa yang harus saya lakukan dokter? " tanya melisa dengan nada lemahnya.


"Hindari perdebatan dan jangan pikirkan apapun yang membuat Anda stress. Janin dalam kandungan Anda perlu di jaga. " ungkap Dokter yang membuat Melisa membulatkan mata.


Wanita itu meminta dokter untuk merahasiakan hal ini dari suaminya. Dokter terpaksa mengiyakan, lalu memberikan vitamin untuk nya setelah itu ke luar. Melisa sendiri hanya menangis tergugu sambil menyentuh perutnya. Dia tak menyangka jika dirinya akan kembali hamil.


Shaka masuk ke dalam, pria itu mendekati istrinya. Melisa memilih memalingkan wajahnya, enggan menatap suaminya.


"Maaf. " kalimat itu yang di ucapkan Shaka pada wanita yang telah dia lukai ini. Melisa sendiri hanya diam saja tak menanggapi permintaan maaf suaminya. Wanita itu memilih berbaring membelakangi suaminya.


Tak mendapat respon dari istrinya, membuat Shaka menghela nafas berat. Pria itu memilih bangkit dan ke luar dari kamar istrinya. Sepeninggal Anak, Melisa justru menangis terisak.


"Mami. " Karamel masuk ke dalam kamar sang mami. Bocah itu menghampirinya, Melisa langsung bangun. Dia bergerak memeluk sang anak namun tak terlalu erat. Dia berulang kali menciumi pucuk kepala putri tercintanya. Melisa melepaskan pelukannya, tersenyum di depan sang anak.


"Kok mami menangis? " tanya bocah cantik itu pada Melisa.


"Hehe iya sayang, tadi mami tadi mendengar hal lucu makanya tertawa sampai menangis. " elak Melisa. Wanita itu memilih membicarakan hal lain dengan putrinya.


Beberapa menit berlalu Karamel ke luar dari ruangan sang mami. Melisa sendiri langsung turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi sebentar.


drap


drap


Shaka datang ke kamar istrinya dengan wajah lesu. Melisa yang baru saja dari kamar mandi terkejut melihat kehadiran suaminya. Menekan egonya, dia memilih mendekati suaminya yang tampak lemas.


"Ada apa mas? "

__ADS_1


"Aku habis muntah muntah tadi, rasanya gak enak banget. " gumam Shaka dengan lirih. Melisa mengerutkan kening mendengar keluhan sang suami.


"Istirahat saja di kamar kamu mas, untuk apa kamu ke sini? " ketus Melisa dengan nada sinisnya. Shaka menggeleng, pria itu tiba tiba menggendongnya.


Lalu membaringkan ke atas ranjang, Shaka memeluk sang istri dari belakang. Dia sibuk mengendus aroma istrinya sambil sesekali menciumi leher Melisa.


"Mas. " Melisa merasakan geli, dia berupaya melepaskan diri namun tak bisa. Wanita cantik itu berbalik, memperhatikan sikap aneh suaminya saat ini.


"Apa mas Shaka mengalami sindrom couvade? " batinnya dalam hati.


Hot Daddy itu kini membenamkan wajahnya di dada sang istri. Dia tampak manja, membuat Melisa kewalahan menghadapi sikap suaminya.


"Apa mas lupa jika aku akan menggugat kamu mas? "


Shaka menggeleng, dia tak ingin bercerai dari istrinya. Pria itu melarang istrinya untuk tak mengatakan apapun saat ini.


"Aku enggak mau berjauhan dari kamu sayang, aku bisa mual. " keluh Shaka. Dia langsung membuka pakaian istrinya, hingga kaca mata Melisa.


Melisa mendesis sambil meremas rambut sang suami. Dia membiarkan prianya bermain di dua buah persiknya. Dalam hati dia tak bisa berbuat apa apa di saat suaminya mengalami sindrom kehamilan simpatik. Beberapa menit berlalu Shaka tersenyum lebar, tak merasakan mual lagi.


"Ya Halo? " sapa Melisa dengan lembut.


"Tawaran pekerjaan untuk Nada di terima nyonya, silakan anda datang besok. " ujar pihak HRD.


Shaka langsung merebutnya, dia berbicara dengan pihak HRD setelah itu mematikannya. Melisa memekik kesal kala suaminya bertindak sesuka hatinya. Setelah melempar ponsel istrinya, Shaka menatap tajam wanitanya.


"Kamu cukup diam di rumah, aku tak ingin kamu pergi kemanapun


Melisa. " tegas Shaka.


Raut muka Melisa langsung di tekuk. Mengingat kehamilannya, diapun memilih mengalah. Shaka sendiri melepaskan pakaiannya lalu masuk ke dalam selimut. Pria itu memeluk istrinya dari samping.


"Beri aku kesempatan sayang! "

__ADS_1


"Kita hanya akan saling menyakiti satu sama lain, lebih baik kita berpisah. Rasanya lelah jika bertahan pada seseorang yang tak mencintaiku! " tegas Melisa.


"Siapa bilang aku tak mencintaimu Mel, selama ini aku lebih suka melakukannya dengan tindakan. " ungkap Shaka. Pria itu terus berbicara, dia tak membiarkan. istrinya menyelanya sedikitpun.


Shaka kembali mencium istrinya, dia bangun dan memakai celana lebih dulu. Pria itu buru buru mengunci pintunya setelah itu membawa istrinya ke puncak kenikmatan.


Sore harinya mereka baru selesai berpakaian dan beres beres. Melisa berdiri di depan cermin sambil mengusap perutnya yang masih rata. Wanita itu masih ragu untuk memberitahu suaminya mengenai kehamilannya. Namun Shaka berhak tahu dengan kabar bahagia ini.


Melisa menghampiri sang suami, dia menarik tangan Shaka lalu menempatkan di atas perutnya. Shaka mengerutkan kening, dia tak mengerti dengan apa yang di lakukan istrinya.


"Dokter tadi bilang kalau aku hamil mas dan sepertinya kamu yang mengalami sindrom cauvade. " ucap Melisa panjang lebar menjelaskan pada sang suami.


Shaka tentu saja terkejut, bibirnya melengkung membentuk senyuman. Dia langsung menyentuh sisi samping pinggang istrinya lalu mendaratkan kecupan di perut Melisa.


Melisa sendiri mengusap kepala sang suami. Shaka memeluk pinggangnya sambil menciumi perut ratanya. Pria itu menarik wanitanya hingga jatuh ke atas pangkuan.


"Aku mohon sayang beri aku kesempatan kedua untukku untuk memperbaiki semuanya. Demi Karamel dan calon anak kita dalam perutmu. " kekeh Shaka sambil memohon.


"Aku takut terlalu banyak berharap hingga di kecewakan lagi dan lagi


mas. " jawab Melisa dengan nada lirihnya.


Shaka tertegun mendengar jawaban istrinya. Pria itu tentu saja merasa bersalah pada wanita yang menjadi ibu dari anak anaknya ini. Melisa mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Keduanya berusaha berbicara dari hati ke hati.


Dia langsung bangkit, menggendong istrinya ke luar dari kamar dan turun ke bawah. Shaka membawa istrinya ke ruang tamu lalu memanggil si kecil.


"Sayang, ke sini sebentar mommy ingin bicara. " ucap Shaka pada putrinya. Karamel langsung mendekati kedua orang tuanya.


"Delapan bulan lagi kamu bakal punya adik sayang, calon adiknya masih di dalam perut mommy. " ungkap Melisa dengan senyuman lebarnya.


"Benarkah mommy, lalu berapa adik yang akan Kara miliki nanti? " tanya Karamel penasaran.


"Mommy belum tahu sayang, lain kali kita pergi ke rumah sakit untuk periksa mommy. " ujar Melisa yang di angguki Karamel.

__ADS_1


Melisa bersandar di bahu sang suami, tangannya menyentuh perutnya rata nya. Shaka menciumi istri dan putrinya secara bergantian. Dia merasa menjadi pria yang paling bahagia saat ini.


__ADS_2