
Sepulang dari kantor Felix menepati janjinya untuk menjemput Ashley. Gadis itu masuk ke dalam mobil, Felix langsung menyalakan mobilnya dan melesat jauh. Sesekali pria itu menoleh, mendapati wajah kekasihnya terlihat masam.
"Sayang kenapa kamu diam saja hmm? " tanya Felix dengan nada lembutnya.
Felix segera menepikan mobilnya. Pria itu melepaskan sabuk pengamannya kemudian menoleh ke samping. Dia mengangkat Ashley ke atas pangkuan.
"Tadi pagi ada yang melabrak aku, dia adalah Irene. " Ashley menjelaskan apa yang terjadi pada kekasihnya. Felix mengepalkan tangannya, fokusnya kembali tertuju pada Ashley.
"Kau salah paham baby, selama ini Irene yang mengejar aku. Aku menerima dia menjadi kekasihku karena ******* orang tua. Hubungan kami berakhir karena aku tak bisa mencintai dia. " ujar Felix panjang lebar.
"Belum apa apa aku sudah di labrak, lebih kita tak memiliki hubungan apapun aja. " ujar Ashley dengan wajah datarnya.
"Tidak baby, please jangan ubah keputusanmu. Bukankah kamu mau memberikan kesempatan dan bersedia menikah denganku! " bujuk Felix.
Ashley hanya diam saja, gadis itu turun dari pangkuan Felix dan memalingkan wajahnya.
Felix mengusap wajahnya frustrasi, dia kembali memasang sabuk pengaman nya dan melaju kencang.
Sepanjang perjalanan tak ada obrolan apapun di antara mereka berdua. Ashley mendekatkan wajahnya ke kaca mobil, menatap lurus jalanan.
"Kenapa aku marah gak jelas kayak gini, aku tak terima saat ada gadis lain yang mengenal kak Felix lebih dulu. Apa aku cemburu? " batin Ashley dalam hatinya.
Ashley masih bingung dengan perasannya sendiri. Saat Irene merendahkan dirinya, tentu saja sebenarnya dia sakit hati. Namun Ashley tak bisa berbuat apa apa selain membalas ucapan Irene.
Beberapa saat berlalu, mobil mewah milik Felix memasuki halaman rumah panti. Ashley segera turun begitu juga dengan Felix.
"Ashley. " Seorang wanita paruh baya berusaha mendekat. Ashley justru menghindarinya, dia benar benar tak ingin memiliki hubungan dengan wanita yang telah membuang dirinya.
"Jangan mendekat nyonya! " Ashley segera berjalan menghampiri bu Lasmi. Gadis itu meminta Bu Lasmi untuk mengusir wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Tapi nak dia itu.. " ucapan Bu Lasmi terhenti kala Ashley menatapnya datar.
__ADS_1
"Apa Ibu ingin aku pergi dari sini daripada mengusir wanita itu. " tegas Ashley dengan wajah datarnya. Bu Lasmi menghela nafas panjang, dia memilih mengusir wanita kaya yang bernama Nyonya Serena.
Felix tampak penasaran dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Pria tampan itu menghampiri Ashley, langsung memeluknya.
"Maafin aku Ashley. " ujar nyonya Serena dengan nada penuh penyesalannya. Ashley hanya diam saja, dia melepaskan pelukannya dan memilih masuk ke dalam rumah. Gadis itu sama sekali tak menoleh ke belakang.
Felix kini beralih pada wanita paruh baya di sampingnya, dia mengajaknya mengobrol dengan Bu Lasmi.
"Sebenarnya anda siapa Nyonya? " tanya Felix.
"Aku Serena, ibu kandung Ashley. " ungkap Nyonya Serena yang menjelaskan apa yang terjadi selama ini pada Felix. Felix tak mampu berkata apapun saat ini. Nyonya Serena sendiri langsung pamit pulang dengan membawa kekecewaan.
Ashley baru selesai mandi dan berganti pakaian. Gadis itu kini merebahkan tubuhnya di atas ranjangnya. Dia menangis terisak, rasa benci itu masih menyelimuti hatinya.
"Buat apa muncul di hadapanku sekarang, harusnya dia selalu ada bersamaku sejak umur lima tahun atau aku masih bayi. " gumam Ashley lirih.
"Aku cemburu melihat kehidupan gadis lain bahagia dengan orang tuanya. Aku sendiri sejak bayi sudah tak diinginkan. " batin Ashley miris.
Moodnya hari ini benar benar down. Saat ini dia malas jika harus berbicara dengan siapapun. Ashley menaruh kembali ponselnya di atas meja.
Tok tok
"Ashley sayang, di luar ada teman kamu. " ucap Bu Lasmi dari luar pintu. Ashley menghela nafas panjang, dia lekas bangkit dan ke luar dari kamarnya.
"Ezra. " gumam Ashley yang berjalan menghampiri Ezra. Ezra pun menyapanya, lelaki itu membawakan buah untuknya. Ashley mengajaknya ke teras dan mengobrol di sana.
Ashley makan nasi goreng yang si belikan Ezra padanya. Diam diam pemuda tampan itu memperhatikan Ashley.
__ADS_1
"Kamu ada masalah Ash? " tanya Ezra dengan lembut sambil menyesap cappucino nya.
"Masalah pribadi Zra. " jawab Ashley sambil tersenyum tipis. Pandangannya tetap lurus ke depan, entah apa yang dia pikirkan saat ini.
"Kalau mau cerita, cerita aja Ashley. Aku mau kok jadi pendengar kamu, buka kah kita teman. " pungkas Ezra dengan senyuman manisnya
.Ashley sedikit mengungkapkan isi masalahnya pada Ezra. Ezra mengusap kepala Ashley dengan lembut. Pemuda itu memberikan sedikit masukan untuk Ashley. Selain itu Ezra juga menghibur Ashley dengan cerita konyolnya.
Gadis cantik itu tergelak kencang, dia menabok lengan Ezra. Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang menatap mereka dengan tatapan penuh kecemburuan.
"Ezra, kamu enggak malu berteman dengan gadis sepertiku yang hanya seorang pelayan rendahan? " tanya Ashley memastikan.
"Tidak, kenapa musti malu. Lagipula kita sama sama manusia bukan? " jawabnya nyeleneh. Ashley tertawa pelan mendengar jawaban Ezra. Dia cukup beruntung memiliki teman seperti Ezra yang baik dan peduli padanya.
Mereka kini menikmati potongan buah sambil mengobrol. Ezra memperhatikan wajah ceria Ashley sambil tersenyum. Hatinya menghangat melihat gadis yang dia sukai kembali ceria.
"Terimakasih ya Ezra, kamu sudah mau berteman denganku. Sekarang ini hidupku tak lagi kesepian seperti dulu dulu. " ungkap Ashley dengan senyuman manisnya.
"Sama sama cantik! "
Ashley hanya berkedip, gadis itu kembali menikmati jus strawberry nya. Dia merasakan sedikit lega dan tenang setelah mengobrol dengan Ezra. Ezra menanyakan perihal hubungan Ashley dengan Felix. Ashley menjawab dengan apa adanya.
"Kau harus selalu bahagia Ashley, jangan pernah takut dengan
apapun. " gumam Ezra.
"Apa aku bisa Ezra, sementara aku merasa tak percaya diri. " balasnya dengan tatapan sendunya.
Ezra meyakinkannya, dia harus percaya pada diri sendiri. Ashley mengangguk setuju dengan nasehat yang di berikan temannya itu. Meski hanya sebatas teman namun sudah membuat Ezra senang dan bahagia saat ini. Dia akan memastikan Ashley selalu tersenyum dan tertawa.
"Yuk lanjut makan. " ajak Ashley yang di angguki Ezra.Dia bersandar nyaman di kursi, menikmati pemandangan menyejukkan di sekitarnya.
__ADS_1
Sementara Felix memilih pergi dari sana. Dia tak ingin menganggu kebersamaan Ashley dengan Ezra. Pria itu pamit pada bu Lasmi, melajukan roda empat nya meninggalkan panti. Bayangan kebersamaan Ashley dengan Ezra membuat hatinya mendidih.
"Kali ini aku membiarkan kamu mengobrol dengan Ezra, Ash namun tidak dengan lain kali. " gumam Felix. Pria itu kembali fokus ke depan.