(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 36 Shaka & Melisa part 3


__ADS_3

Dan Shaka harus berada di dekat istrinya, jika tidak pria itu akan kembali mual seperti sebelum sebelumnya. Melisa sendiri sebenarnya merasa kasihan dengan sang suami. Namun mengingat bagaimana sikap menyebalkan Shaka membuatnya malas.


"Kau seperti anak itik yang takut kehilangan induknya mas? " sindir Melisa melirik kearah suaminya. Saat ini Wanita hamil itu berada di dapur, membuatkan makanan untuk dirinya dan sang suami.


Selesai membuatkan sarapan, Melisa langsung membawanya ke meja makan di bantu Shaka. Dia langsung memanggil anaknya untuk segera turun. Ketiganya kini sarapan bersama di meja makan. Melisa tersenyum saat putrinya tak henti hentinya berbicara.


"Sayang, kau ikut aku ke kantor ya? " pinta Shaka. Melisa tentu saja terpaksa menuruti keinginan suaminya. Mereka bertiga beranjak pergi dari meja makan. Ketiganya langsung masuk ke dalam mobil, Shaka melajukan roda empatnya dengan kecepatan sedang.


Sepanjang perjalanan pasangan suami istri itu mengobrol dengan ringan. Shaka mengantar putri kecilnya lebih dulu ke sekolah setelah itu baru pergi ke kantornya.


Skip


Brawijaya Corp


Shaka menggandeng istrinya dengan mesra memasuki perusahaan. Banyak karyawan yang di buat terkejut dengan perubahan sikap atasan mereka. Melisa sendiri merasa malu, dia langsung menarik suaminya hingga masuk ke lift.


"Risih kali kalau kamu ngikutin dan nempelin aku terus. " keluh Melisa.


"Sepertinya calon anak kedua kita punya dendam sama aku sayang. " balas Shaka dengan lesu. Melisa hanya mampu menghela nafas panjang.


Ting Lift terbuka keduanya langsung ke luar dan masuk ke ruangan Shaka. Wanita hamil itu langsung mendaratkan tubuhnya ke sofa. Dia menoleh, mengerutkan kening melihat suaminya hanya diam saja.


"Kemarilah mas! "


Shaka dengan pelan menghampiri istrinya lalu duduk d sebelah Melisa dengan kepala tertunduk. Wanita cantik itu menarik dagu suaminya, dia membulatkan mata melihat suaminya menangis.


"Kenapa kamu menangis mas? " cetus Melisa dengan kening berkerut.


"Kamu marah marah terus sama aku Yank, aku enggak mau jauh sama kamu karena ada alasannya. " balas Shaka dengan tangis sesegukan. Melisa melongo melihat suaminya yang galak berubah menjadi cengeng.

__ADS_1


Melisa menarik suaminya ke dalam pelukan. Shaka membenamkan wajahnya di buah persik istrinya. Wanita itu mengusap lembut kepala sang suami. Pria cengeng itu kini membelit pinggang ramping istrinya.


Melisa melepaskan pelukannya, dia menghapus air mata sang suami. Wanita hamil itu mencium kening sang suami lalu memintanya bekerja.


"Kamu jangan jauh jauh dari aku Yank. " ujar Shaka.


"Iya mas, kerja gih. " pinta Melisa dengan lembut. Shaka langsung beranjak pergi, pria itu duduk dibalik meja kerjanya. Melisa menghela nafas lega, dia berharap suaminya nanti akan berhenti mual mual.


Melisa sendiri mengeluarkan ponselnya, dia pun langsung menghubungi asistennya.


"Tolong cari tahu nomor Nona Venia, aku ingin bertemu dengannya nanti Lun! "


"Oke aku akan kirim nomornya ke kamu. " cetus Luna. Tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar, Melisa membukanya. Dia langsung menyimpan kontak nomor milik Venia lalu mengirimnya pesan. Dia pun langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.


Beberapa jam kemudian Shaka beranjak dari kursinya, pria itu menghampiri sang istri. asisten Damar masuk, mengantarkan pesanan sang atasan setelah itu pamit ke luar.


"Mas, aku nanti mau ketemuan sama nona Venia, boleh 'kan? " tanya Melisa meminta izin suaminya.


"Baiklah. " Melisa langsung fokus menyantap makan siangnya begitu juga dengan Shaka.


Selesai makan siang Melisa meminta suaminya kembali kerja namun di tolak Shaka. Melisa hanya bisa bersabar menghadapi tingkah manja sang suami.


Sore harinya setelah menjemput Karamel, mereka langsung pergi ke sebuah Cafe. Di sana keluarga kecil itu bertemu dengan Venia dan Sergio.


"Apa kalian menunggu lama? " tanya Melisa dengan nada tak enak hatinya.


"Santai aja Mel, lagipula kami juga baru datang kok. " jawab Venia. Melisa langsung mengenalkan putrinya pada Venia dan Sergio. Para wanita asyik mengobrol di sertai si kecil Karamel. Sementara dua hot daddy itu kini justru saling melempar tatapan sinis satu sama lain.


Venia tentu saja mengajak Melisa untuk piknik saat weekend nanti. Melisa tentu saja menanggapi tawaran itu dengan senang hati. Dia tampaknua tak lagi menunjukkan ke tidaksukaannya pada Venia.

__ADS_1


Wanita hamil itu hanya diam saat suaminya merengkuh pinggangnya posesif. Venia yang melihat kelakuan Shaka hanya bisa mengerutkan kening.


"Suami kamu kenapa Mel? " tanya Venia dengan nada penasaran.


"Mas Shaka mengalami sindrom cauvade, kalau jauh dari aku dia pasti akan mual mual. " ungkap Melisa dengan jelas. Venia tentu saja terkejut, dia langsung memberikan selamat pada keduanya atas kehamilan Melisa.


Sergio pun hanya diam saja, mendengarkan obrolan istrinya dengan Melisa dan Shaka. Dia merasa was was dan curiga pada rivalnya di depannya ini. Sergio tak akan membiarkan pria manapun merebut istri nya.


Venia segera memanggil pelayan, mereka memesan minuman masing masing. Setelah pelayan menyingkir, mereka kembali mengobrol dengan santai.


"Mel, apa kamu bahagia menikah dengan Shaka? " tanya Venia dengan hati hati. Melisa terdiam, entah apa yang tengah di pikirkan wanita hamil itu sekarang.


Shaka sendiri tampak khawatir jika sang istri tetap akan menggugat dirinya nanti. Dia hanya tak ingin masalah rumah tangga mereka di ketahui orang lain.


"I am happy Venia, terlelap masalah apapun di antara aku dan mas Shaka. Aku harus membahagiakan diriku sendiri serta janin dalam perutku serta Karamel. " jawabnya panjang lebar.


"Lalu bagaimana dengan suamimu nona Melisa? " sahut Sergio memancing.


"Kami saling mencintai satu sama lain Tuan. " jawab Melisa dengan tenang. Shaka yang mendengarnya merasa lega sekaligus hatinya tertampar dengan jawaban sang istri. Pria itu memeluk wanitanya dari samping tanpa mengatakan apapun.


Si kecil Karamel sendiri asyik makan nasi goreng. Melisa meminum jusnya sambil memperhatikan putrinya. Venia langsung menyikut perut sang suami. Sergio langsung menoleh, mengedikkan bagi acuh.


Selesai minum, Venia dan suaminya pamit pulang. Sepeninggal pasangan itu, Shaka langsung memeluk sang istri sambil meminta maaf.


"Maafkan aku sayang. " gumam Shaka dengan nada penyesalan.


Melisa mengusap punggung suaminya. Shaka melepaskan pelukannya, fokusnya kini tertuju pada putri mereka Karamel. Selesai makan dan minum, Shaka langsung meninggalkan uang setelah memanggil pelayan.


Ketiganya ke luar dari Kafe dan masuk ke mobil. Mobil mewah itu melesat kencang meninggalkan area Kafe. Sepanjang perjalanan hanya terdengar suara celotehan Karamel yang tampak meramaikan suasana.

__ADS_1


Melisa memutuskan memaafkan sang suami serta memberi kesempatan bagi Shaka. Dia sangat tahu jika Shaka benar benar bersungguh sungguh ingin berubah. Lagipula tak ada salahnya jika dirinya memberikan kesempatan kedua untuk Shaka.


__ADS_2