
Pagi harinya mereka semua baru selesai melakukan aktivitas rutin. Saat ini mereka bertiga berada di ruang tamu. Venia menghela nafas berat, sepertinya dia perlu berkata jujur di depan suami dan adiknya.
"Mas, Sergio aku akan menjelaskan sesuatu pada kamu, tak boleh menyela ucapan ku nanti. " tegur Venia.
"Aku memiliki riwayat penyakit kanker perut stadium akhir. " ungkap Venia dengan jujur.
Sergio membulatkan mata mendengar pengakuan istrinya. Hal yang sama kini di rasakan oleh Winna. Venia menjelaskan apa saja yang terjadi selama lima tahun belakangan ini. Penyakit itu ada setelah kelahiran si kembar.
"Aku telah mencari dokter yang bagus untuk menangani penyakitku namun tak ada yang bisa menyembuhkannya. Hanya melalui obat obatan aku bisa bertahan sampai sekarang. " pungkas Venia dengan nada sendunya.
Sergio langsung mendekap tubuh istrinya dan menangis. Dia merasa tak berguna sebagai seorang suami. Winna sendiri tak mampu berkata kata setelah mendengar rahasia milik sang kakak.
Venia melepaskan pelukannya, menggenggam tangan sang suami dengan erat. "Bisakah kamu menuruti permintaan aku ini mas. " pinta Venia sambil memohon.
"Katakan sayang? "
"Aku ingin kamu menikahi Winna. " cetus Venia dengan serius.
Deg
Sergio langsung melirik kearah adik iparnya. Pria itu tentu saja menolak keinginan gila istrinya. Venia terus membujuk sang suami agar mau menuruti keinginan wanita itu.
"Enggak sayang, enggak aku enggak setuju dengan permintaan tak masuk akal kamu itu. Aku akan mencarikan dokter terbaik atau perlu berobat ke luar negeri supaya kamu segera sembuh. " tegas Sergio.
Venia sendiri terus menangis sambil memohon pada Sergio dan Winna secara bergantian. Winna sendiri hanya diam membisu, enggan menjawab permintaan sang kakak.
"Sebaiknya cari wanita lain saja, aku tetap tidak mau. Bisa bisa aku malah jadi gila seperti kakak. " ungkap Winna dengan nada datarnya. Wanita itu lantas bangkit dan pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Venia kembali memohon pada sang suami. Sergio menghela nafas panjang, dia terpaksa mengiyakan permintaan sang istri. Tak lama Winna kembali dengan menarik kopernya.
"Aku mau bicara sama kamu Winna, tak ada penolakan. " ujar Sergio dengan nada datarnya.
Winna langsung mengumpat pelan, mereka memilih mengobrol di Gazebo. Venia sendiri menarik koper adiknya, menyembunyikan nya segera.
"Cepat katakan ada apa, aku mau pulang. " ketus Winna dengan malas.
"Kita buat perjanjian untuk pernikahan kontrak. " balas Sergio dengan muka datar nya.
"Kau sama gilanya seperti istrimu. " ceplos Winna yang mendapat tatapan tajam dari sang kakak ipar.
"Kalau menolak, aku akan menyebarkan aibmu nona. " geram Sergio. Winna tetap acuh mendengar ancaman dari pria menyebalkan seperti Sergio. Dia merasa menyesal menggoda kakak iparnya ini dulu.
"Sebarkan saja, lagipula nama baikku sudah hancur. Kalau perlu beritahu wanita yang mengejar ngejar aku kemarin, yang mengataiku pelakor. Aku bisa mencari sugar daddy yang kaya dan tampan lainnya. " ujarnya seraya tersenyum lebar.
"Sudahlah pikirkan saja cara untuk mencari dokter terbaik untuk kak Vee. Aku sudah besar, sebaiknya aku pulang saja see you kakak ipar. " sapa nya dengan santai. Winna langsung bangkit, berjalan santai sambil bersiul.
Terdengar suara umpatan dari belakang namun dia abaikan. Winna segera merebut kopernya, dia tak mempedulikan permohonan sang kakak. Setelah mendapatkan kopernya, dia langsung memanggil Tristan.
"Felix, Finn. Aunty dan uncle pamit pulang dulu ya, kalian bersenang senanglah dengan orang tua kalian. " ujar Winna sambil tersenyum.
"Ya gak seru dong Aunty. Biasanya kami suka menjahili aunty galak. " ceplos Finn. Winna langsung meliriknya tajam mendengar ucapan sang keponakan. Finn langsung nyengir seketika, bocah itu mendekat lalu memeluknya.
Winna menciumi Felix dan Finn secara bergantian. Lalu dia pamit pada sang kakak dan iparnya. Wanita itu terkekeh pelan melihat raut masam sang kakak ipar. Setelah itu keduanya langsung meninggalkan Villa sambil menarik koper masing masing.
__ADS_1
Si kembar kembali di mansion. Venia pun menghampiri sang suami, menyentuh lengan Sergio. Sergio menarik tangannya dengan cepat, pria itu lantas masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun pada sang istri.
"Mas Gio marah padaku. " gumam Venia dengan senyuman kecutnya. Wanita itu menghela nafas berat, menyusul ke dalam dan menghampiri si kembar di ruang tamu.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, kenapa semua orang tak menghargai keputusanku. " gumam Venia dengan nada kecewanya. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa, memijit keningnya yang terasa pusing.
Venia menyambar ponselnya, dia menghubungi salah satu temannya untuk meminta bantuan. Sepertinya dia perlu cara ekstrim untuk mencapai keinginannya kali ini. Dia berharap rencananya kali ini berhasil tanpa ada hambatan.
Di sisi lain
Sergio meninju tembok di depannya. Pria itu saat ini tengah berada di dalam kamar mandi. Kenyataan pahit yang dia terima mengenai keadaan istrinya tentu saja menghancurkan dirinya. Terlebih lagi dia begitu kecewa dengan sang istri yang memintanya untuk melakukan hal gila.
"Apa dia tak mencintaiku lagi hingga membuat keputusan gila seperti itu. " gumam Sergio dengan nada kesalnya. Pria itu memilih pergi ke balkon, menenangkan diri di sana. Diapun menghubungi dokter kenalannya dan menanyakan perihal penyakit istri tercintanya.
Sergio berharap ada solusi dalam masalah istrinya saat ini. Dia sangat ingin Venia sembuh dan bisa menghabiskan waktu dengan dirinya dan si kembar. Terdengar helaan nafas berat ke luar dari bibirnya. Dia menaruh ponselnya ke dalam saku celana.
Teringat obrolan mereka beberapa hari lalu membuatnya kehilangan kata kata. Jadi ini alasan sang istri menolak hamil lagi. Sergio hanya bisa mengusap wajahnya kasar.
"Mas. " Venia datang menghampiri sang suami. Wanita cantik itu lekas duduk di sebelah suaminya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu sang suami tercinta.
"Aku minta maaf telah merahasiakan hal besar ini sama kamu. " sesal Venia dengan tatapan bersalahnya.
"Apa kau sudah bosan denganku hingga kamu memintaku menikah lagi Vee? " ujar Sergio dengan nada dinginnya.
"Aku akan selalu mencintai kamu mas, sampai kapanpun itu. " sahut Venia sambil tersenyum miris. Tatapan keduanya bertemu, saling mengunci satu sama lain. Sergio kembali menatap lurus ke depan, pria itu masih kesal dengan sang istri.
Venia memeluk suaminya dari samping sambil mengumamkan kata maaf. Suasana kembali hening, mereka larut dalam pikiran masing masing. Sergio tak membalas pelukan dari sang istri. Dia hanya diam saja saat istrinya terus menerus berbicara, mengungkapkan keluh kesahnya.
__ADS_1
"Sekali lagi maafkan aku mas Gio, aku tahu kamu sangat marah akan keputusanku yang tak adil
untukmu. " gumam Venia.