
Venia mengajak si kembar dan suaminya datang ke apartemen mommy dan daddy. Tiba di sana mereka semua langsung masuk ke dalam.
"Winna kamu bersama siapa? " tanya Venia dengan nada was was nya.
"Kak Vee, kenalin ini Revan calon suami aku dan dua hari lagi kami akan menikah. " ujar Winna penuh penekanan di setiap kalimatnya.
Venia membulatkan mata mendengar pengakuan sang adik. Hot mommy itu seketika panik, dia tak akan membiarkan Winna menikah dengan pria lain.
"Aku Revan Axelle Tyson, calon suami Winna. " sapa Revan dengan senyum manisnya.
"Aku Venia kakaknya dan ini Sergio suamiku. " balas Venia. Setelah itu Venia mendengarkan obrolan adiknya bersama kedua orang tua mereka. Tampak jelas mommy dan daddy memberikan restunya untuk Winna dan Revan.
Sergio turut senang dengan kebahagiaan yang di rasakan adik iparnya. Winna langsung bangkit, dia pergi ke dapur untuk membuatkan minuman yang di bantu Venia.
Venia tampak memperhatikan adiknya asyik bersiul sambil membuat minuman. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir wanita cantik itu.
"Apa kau benar mencintai Revan Win? " tanya Venia.
"Iya, lagipula dialah yang merenggut kesucianku kak. " ceplos Winna dengan santai mengabaikan keterkejutan sang kakak. Selesai membuat minuman, mereka segera membawanya ke ruang tamu.
Winna kembali duduk di sebelah Revan, dia memperlihatkan kemesraannya dengan sang calon suami. Revan sendiri terkekeh pelan melihat tingkah kucing liarnya yang seperti ulat bulu. Dia mengusap kepala Winna, membuat wanita itu menoleh kearahnya.
Winna kembali menatap kearah orang tuanya lalu pamit pulang. Dia juga berpamitan pada kakak dan iparnya.
Setelah kepergian sang adik, Venia mencoba berbicara dengan orang tuanya. Tanggapan sang mommy begitu menyetujui hubungan Winna dengan Revan.
"Sayang, kenapa wajah kamu murung? " tanya mommy pada putri sulungnya.
"Enggak papa mom. " jawab Venia sambil tersenyum. Dia belum siap berbicara jujur pada kedua orang tuanya. Sergio menghela nafas berat, dia memilih tak mengatakan apa apa.
Sementara Winna dan Revan telah kembali ke villa. Winna pergi ke kamar lebih dulu untuk berganti pakaian lalu meminta pelayan untuk menyiapkan camilan. Wanita itu membiarkan Revan pergi ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
Pelayan datang membawakan camilan dan minuman lalu di taruh nya di atas meja lalu kembali ke dapur. Winna sendiri asyik berenang, menikmati suasana dengan santai.
"Kenapa kau tak memanggilku baby girl? " tanya Revan yang telah bertelanjang dada. Winna menoleh, mengigit bibir bawahnya mencoba menggoda sang calon suami.
Byur
Revan telah melompat ke dalam kolam, ikut berenang dan langsung menghampiri wanitanya. Pria itu langsung memeluk pinggang ramping Winna. Revan membawa nya ke sudut tepi kolam.
"Selama ini aku telah mencarimu ke manapun baby! "
"Oh ya, tapi aku tak percaya dengan ucapanmu Revan. " Winna pun mendorong tubuh sang kekasih lalu kembali berenang. Wanita itu tak jarang meledek calon suaminya itu.
Setelah puas berenang, keduanya segera naik ke atas, Winna memakai jubahnya lagi. Keduanya langsung duduk di sofa, menyesap jus nya dengan santai. Dia berinisiatif menyuapi Revan dengan potongan buah yang telah di kupas.
Selesai makan, keduanya bangkit dan kembali ke dalam. mereka segera mengganti pakaian setelah itu pergi ke ruang tengah.
Mereka berdua membahas konsep pernikahan. Revan meminta calon istrinya untuk memilih. Winna menginginkan pernikahan yang simple namun elegan. Tentu saja Revan menolak, dia ingin menggelar pesta megah untuk pernikahan dirinya dengan Winna.
"Like King and Queen, baby. Aku akan memberikan pernikahan yang luar biasa agar tak mudah di lupakan olehmu. " ucap Revan sambil tersenyum.
"Oh ya jangan lupa kamu juga harus membeli lingerie. " pinta Revan.
"Ya eh. " Winna menoleh, Revan tersenyum miring kearahnya. Winna langsung memukul calon suaminya yang berbicara sembarangan. Revan tergelak kencang melihat ekspresi kesal yang di tunjukkan calon istrinya.
Winna langsung mengumpat kasar pria di sampingnya saat ini. Revan justru merangkul wanitanya dari samping. Canda tawa mewarnai obrolan mereka berdua. Winna menanyakan perihal orang tua Revan.
"Kau ingin bertemu dengan mami? " tanya Revan.
"Bagaimana kalau besok saja Boo? " cetus Winna yang di angguki Revan. Revan menaruh ponselnya, lalu berbaring di pangkuan sang kekasih. Winna mengulas senyumnya, mengusap kepala prianya dengan lembut.
Obrolan keduanya terus berlanjut dan kini mereka membahas hal random. Winna mencubit gemas hidung Revan. Revan langsung bangkit, pria itu kembali menciumi Winna.
Dia langsung bangkit, menggendong Winna menuju ke kamarnya. Sebelumnya Revan menyimpan ponsel dirinya dan sang kekasih ke dalam saku.
Entah apa yang mereka lakukan di dalam. Yang pasti keduanya hendak menghabiskan waktu dengan berkeringat di atas ranjang.
__ADS_1
Tepat pukul tujuh malam keduanya bersiap siap. Revan mengajak calon istrinya untuk datang ke pesta reunian yang di adakan di hotel. Winna ke luar dengan mengenakan dress berwarna hitam yang du lapisi jaket berbulu, wanita itu tampak cantik dan seksi.
Mereka langsung masuk ke dalam mobil, meminta salah satu sopir untuk mengantar keduanya ke hotel. Sepanjang perjalanan Revan tampak berusaha menenangkan sang kekasih.
Skip
Hotel
Sepasang kekasih itu turun dari mobil. Winna menggandeng lengan Revan dan bersama sama memasuki hotel. Suasana tampak ramai, banyak tamu telah datang ke sana. Revan mengajak wanitanya menemui teman lamanya.
"Akhirnya kau datang juga Van. " ujar salah seorang pria dengan rambut di kuncirnya. Revan langsung menjabat tangan teman lamanya itu, lalu dia mengenalkan Winna pada beberapa temannya.
"Calon istrimu cantik juga Van, nemu di mana? " ceplos pria berambut kuncir itu.
"Panjang ceritanya. " ujar Revan dengan singkat.
Winna sendiri hanya diam, dia merapatkan tubuhnya ke tubuh sang kekasih. Namun sesekali dia ikut menanggapi obrolan calon suaminya bersama teman teman Revan yang lain.
Wanita itu menatap sekitarnya, manik matanya tertuju pada sosok kakaknya yang hadir. Winna langsung menghampiri Venia dan Sergio.
"Malam kak Vee, kak Gio. " sapa Winna dengan senyuman manis nya. Sergio dan istrinya menoleh, Venia memperhatikan penampilan sang adik.
"Kau juga datang Win? " tanya Venia.
"Revan yang mengajak aku ke sini kak. " ungkap Winna. Sergio memilih menghampiri calon adik iparnya. Venia langsung menarik adiknya ke sudut ruangan.
Winna mengerutkan kening, dia berharap sang kakak tak lagi membahas rencana gilanya itu. Dia tampak tegang namun Winna berusaha mengontrol dirinya saat ini.
"Kenapa kamu ingkar janji Win, bukankah kamu akan memenuhi keinginan kakak? " desak Venia dengan tatapan kecewanya.
"Maaf kak ini hidup aku, aku bebas menentukan pilihanku sendiri. Untuk masalah kakak, percayalah akan ada solusi dan kakak hanya perlu bersabar dan bertahan. " ujar Winna dengan lembut.
"Aku benar benar kecewa sama kamu Winna, dari dulu kau selalu egois. " ketus Venia. Setelah berbicara Venia berlalu menghampiri Sergio. Winna menghela nafas panjang, dia menyusul sang kakak.
Larut malam mereka semua langsung pulang dan meninggalkan hotel.
__ADS_1