(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 22 Kejadian tak terduga


__ADS_3

Hari demi hari kebahagiaan menyelimuti rumah tangga Sergio dan Venia. Kini kandungan wanita itu mulai menginjak bulan ke tiga. Selama beberapa bulan ini kehidupan mereka tampak tenang dan damai.


Wanita hamil itu berdiri di depan cermin sambil mengusap perut bulatnya. Venia mengepang rambutnya ke belakang, setelah itu berbalik dan melangkah ke luar dari kamar. Dia menuruni tangga dengan hati hati. Kini kediamannya tampak ramai, para keluarga besarnya telah datang begitu juga keluarga besar dari pihak suaminya.


Dia juga bertemu dengan Winna, adiknya. Venia sendiri tak menanggapi apa apa dengan kehadiran adiknya itu. Wanita hamil itu hanya bertegur sapa dengan sikap biasanya pada sang adik.


Winna memperhatikan keadaan sang kakak saat ini. Dia merasa iri dengan kehidupan bahagia yang di jalani Venia.


"Bukankah kehidupan kakak ini sangat menyenangkan, aku merasa menyesal sekarang. Harus nya aku yang menikah dengan kak Gio. " keluh Winna di depan kakaknya.


"Kenapa kamu baru sekarang menyesalinya Win, kenapa tidak dari kemarin kemarin? " sentak Venia. Winna menatap sang kakak sambil berkaca kaca. Dia langsung memohon pada kakaknya, Venia sendiri menarik tangan dirinya. Tanpa sengaja dia mendorong Winna.


Bruk


Orang tua mereka membulatkan mata. Keduanya langsung mendekati Winna yang jatuh tak sadarkan diri. Nyonya Kinara menatap tajam kearah putrinya.


"Vee kenapa kamu mendorong adik kamu hah? " bentak mommy pada putri sulungnya.


"Mom aku.. "


Plak


Nyonya Kinara melayangkan tangannya ke pipi sang anak. Semua orang tentu saja terkejut melihatnya. Venia sendiri menatap sang ibu dengan mata berkaca kaca.


"Mom, aku enggak sengaja mendorong Winna. Dia tadi meminta aku mengembalikan mas Gio padanya. " jerit Venia dengan emosi.

__ADS_1


"Kamu hanya alasan Vee, harusnya kamu jaga sikap hanya karena kamu tak suka akan kehadiran adikmu. " ketus mommy padanya. Nyonya Kinara langsung menyusul suaminya yanh membawa putri kedua mereka.


Venia hanya mampu menangis tergugu menatap kepergian orang tuanya. Diapun berusaha mencegah kepergian mereka, namun dia terlambat. Wanita hamil itu tentu saja sakit hati akan tuduhan yang di layangkan sang mommy padanya.


"Akh. " Venia menyentuh perut buncitnya. Dia berusaha mengusap perutnya sambil mengontrol dirinya. Diapun hanya mampu menangis sendirian di sana. Semua orang ternyata tak ada yang mempercayai dirinya.


Suara langkah kaki menghampiri wanita hamil itu. Venia menoleh ke belakang, dia hanya menangis dalam diam melihat ekspresi yang di tunjukkan sang suami.


"Kejadian tadi benar benar membuatku malu Vee. Sebenarnya apa yang membuat kamu berpikir untuk mendorong Winna? " ucap Sergio dengan wajah datarnya.


Venia menangis sesegukan mendapati suaminya juga tak mempercayai dirinya. Wanita hamil itu hendak berbicara namun Sergio justru memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dia memilih pergi ke teras dan menenangkan diri di sana. Sementara Sergio kembali ke dalam dan berusaha mencairkan suasana tegang di dalam.


Tepat pukul delapan malam pesta itu telah berakhir dan masing masing berada di kamarnya. Venia sendiri memilih membereskan pakaiannya sendiri, semua barang dari suaminya dia tinggalkan.


"Selamat tinggal. " gumamnya setelah ke luar dari mansion megah itu. Wanita itu memilih pergi membawa calon bayi dalam kandungannya. Dia memilih ingkar janji dengan perjanjiannya dengan Sergio.


Venia berjalan kaki sambil menyeret kopernya. Dia sempat memesan taksi, dan untungnya masih ada taksi yang beroperasi. Sebelum masuk ke dalam taksi Venia menoleh ke belakang sebentar setelah itu masuk ke taksi. Setelah menaruh barang penumpangnya, Sopir langsung melajukan taksinya dengan kecepatan sedang.


Sementara itu mommy Kinara masih menunggu Winna yang masuk ke rumah sakit. Wanita paruh baya itu masih kecewa dengan perbuatan putri sulungnya. Tanpa dia sadari sikapnya ini akan menjadi Boomerang untuk dirinya sendiri.


"Ini semua karena Venia Dad, Winna pasti akan sangat sedih sekali. " ujar Mommy Kinara emosi.


"Tahan emosimu mommy, sebaiknya kita istirahat saja. " ujar Tuan Rama pada istrinya.

__ADS_1


Di sisi lain Venia kini berada di kediaman sang bibi. Wanita hamil itu menjelaskan kebenarannya tanpa ada yang di tutupi. Bibi Rose tentu saja sakit hati melihat sang keponakan tampak rapuh seperti sekarang. Tadi Bibi dan paman memang belum sempat datang ke mansion Sergio karena ada urusan mendadak.


"Nak kamu tunggu di sini, bibi dan paman akan siap siap dulu. " seru Bibi Rose. Venia mengangguk, wanita hamil itu menunggu di ruang tamu.


Beberapa menit berlalu mereka kembali membawa koper. Ketiganya langsung ke luar, Paman menaruh barang barang ke dalam bagasi. Setelah siap mereka masuk ke dalam mobil, sopir mengantar mereka ke bandara malam ini juga.


"Apa memang aku anak pembawa sial Bi, kenapa mommy dan daddy tak percaya padaku? " gumam Venia dengan lirih.


"Jangan berbicara seperti itu sayang, bibi tak suka mendengarnya. " ungkap Bibi Rose dengan nada bergetar. Paman sendiri ikut sakit hati melihat sang keponakan di abaikan oleh Sergio dan keluarganya.


Sepanjang perjalanan Bibi Rose berusaha menenangkan sang keponakan. Venia hanya diam saat sang bibi menghapus air matanya dengan lembut. Hatinya benar benar hancur lebur mendapati suami dan kedua orang tuanya tak mempercayai dirinya.


Tiba di Bandara


Mereka turun dari mobil, menyeret koper dan segera melakukan check in penerbangan. Paman Andrew sudah meminta asistennya untuk menutup akses mereka. Ketiganya langsung masuk ke dalam pesawat.


Bibi Rose pun menemani Venia beristirahat. Mereka akan memulai kehidupan baru di negara lain.


Paman Andrew sendiri memastikan kehidupan sang keponakan dan calon cucunya akan terjamin. Dia tak akan membiarkan siapapun menyakiti Venia lagi termasuk Sergio. Paman Andrew akan membuat pria itu menderita nantinya.


Venia menghela nafas panjang. Dia mengusap perut buncitnya sambil meminta maaf pada baby twins. Dia tak bermaksud memisahkan kedua anaknya dari ayah kandung mereka namun keadaan yang memaksa.


"Buat apa aku berada di sisinya jika mas Gio sendiri tak percaya denganku! "


Venia terpaksa mengingkari perjanjiannya dengan sang suami. Hanya si kembar yang dia punya saat ini, apapun akan aku lakukan untuk menjaga keduanya dan membahagiakan mereka nantinya.

__ADS_1


"Semoga kalian kelak paham ya sayang, mommy melakukan ini terpaksa. Kalian adalah belahan jiwa mommy, sehat sehat dalam perut mommy ya. " gumamnya sambil tersenyum. Wanita hamil itu kembali berbaring, dia segera memejamkan mata dan beristirahat. Bibi Rose sendiri telah tidur lebih dulu daripada dia. Venia berharap setelah ini semuanya akan bahagia tanpa hadirnya.


__ADS_2