(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 34 Tentang Shaka & Melisa chap 1 Cemburu?


__ADS_3

Setelah mengantarkan sang anak ke sekolahnya. Melisa kembali ke dalam mobil, dia melajukan roda empatnya meninggalkan area sekolah. Wanita itu memilih pergi ke taman kota, dia perlu menenangkan diri di sana.



Setelah memarkirkan mobilnya, Melisa segera turun dan berjalan menuju ke bangku taman. Dia pun menikmati udara segar di sana, suasana di sekitar membuatnya nyaman untuk menyendiri.


"Haruskah aku melepaskan mas Shaka. " gumamnya entah pada siapa. Melisa begitu tersiksa dengan pernikahannya yang tak kunjung membaik. Shaka benar benar acuh padanya, dia merasa suaminya itu sepertinya belum move on.


"Enggak, aku enggak boleh menyerah. Aku harus bertahan dan memberikan keluarga yang lengkap untuk Karamel! "


Karamel masih membutuhkan kasih sayang lengkap dari kedua orang tuanya. Mengingat putrinya, kedua manik mata Melisa mengembun. Wanita itu menangis sendirian di sana. Dia merasa suaminya hanya menjadikan dirinya sebagai partner ranjang.


"Kau harus kuat Mel, pasti bisa melewati ini semua. " gumam Melisa pada dirinya sendirian. Dia segera menghapus air matanya, berusaha mengontrol dirinya.


"Kenapa kau menangis sendirian di sini nona! " Suara serak seorang pria membuat Melisa menoleh. Pria berambut hitam cepak itu menghampirinya, lalu duduk di dekat Melisa.


"Hai aku Frederick. " sapa pria itu.


"Melisa Jane. " jawabnya singkat. Melisa sedikit mengatakan mengenai masalahnya pada Frederick. Frederick manggut manggut setelah mendengar inti masalah dari wanita di sebelahnya.


"Rubahlah penampilan kamu Mel dengan gaya seksi, aku yakin suamimu akan bereaksi berlebihan nantinya. " cetus Fred. Melisa tak yakin dengan ide yang di berikan pria yang baru saja di kenal nya saat ini.


Wanita itu tentu saja mengeluarkan pendapatnya mengenai ide yang di berikan Fred padanya. Fred memilih membahas hal lain, entah apa yang dia ucapkan hingga mampu membuat Melisa tertawa.


Tanpa mereka sadari keduanya di perhatikan oleh seorang pria. Pria itu langsung menghubungi atasan nya.


"Maaf Tuan, nyonya Melisa saat ini tengah mengobrol dengan seorang pria di taman. " ujar pria itu yang merupakan bodyguard kiriman Shaka. Setelah melaporkan pada sang atasan, pria itu segera menghampiri istri dari majikannya.


"Permisi tuan, nyonya. Untuk Tuan sebaiknya anda pergi dari sini, atasan saya tak lama lagi akan ke sini. " ujar pria itu dengan wajah datarnya. Fred pun langsung bangkit, dia pamit pada Melisa.


Setelah kepergian Fred, Melisa langsung bertanya pada pria di depannya ini.


"Jadi kamu di minta mas Shaka untuk mengawasiku? " tanya Mslisa yang mendapat anggukan.

__ADS_1


Tin


tin


Mobil Shaka telah sampai, tak lama pria itu langsung ke luar dan berjalan menghampiri istrinya. Sang bodyguard sendiri segera menyingkir dari sana. Raut wajah Shaka tampak datar dan aura nya sangat dingin.


"Bisa bisa nya kamu bertemu selingkuhan kamu di saat aku pergi ke kantor? " ucap Shaka dengan nada sinisnya.


Plak Melisa melayangkan tamparan kerasnya ke pipi sang suami. Dia pun merasa jengah akan kelakuan suaminya yang keterlaluan. Shaka tentu saja terkejut akan tindakan istrinya barusan.


"Dengarkan ini baik baik mas, aku dan Fred baru saling mengenal. Dia berusaha menghiburku tadi dan tarik kata kata kamu yang menuduh aku selingkuh! "


"Jika aku selingkuh, sudah kulakukan sejak awal pernikahan kita mas Shaka. Aku di sini bertahan hanya demi Karamel. " tegas Melisa.


"Sebaiknya mas kembali saja ke kantor, kehadiran kamu hanya akan membuat moodku semakin buruk. " ketusnya sambil memalingkan wajahnya kearah lain.


Shaka diam diam nengepalkan tangannya. Pria itu menganggap istrinya hanya menginginkan kehadiran Fred di sisi wanita itu.


Tubuh Melisa langsung lemas setelah kepergian suaminya. Wanita itu menarik nafas panjang, lalu menghembuskan secara perlahan. Melisa merasa aneh dengan sikap suaminya yang marah marah padanya.


"Buat apa kita bertahan jika kita hanya akan saling menyakiti satu sama lainnya. " gumam Melisa pelan. Wanita cantik itu lekas bangkit, masuk ke dalam mobil dan pergi ke sekolah putrinya.


Kini dia telah sampai di sekolah putrinya, Melisa langsung turun dan menjemput Karamel. Wanita cantik itu memeluk sang anak, berusaha tegar untuk tak menangis setelah itu membawanya masuk ke dalam mobil.


"Sayang, kita langsung pulang apa jalan jalan dulu? " tanya Melisa pada putrinya.


"Mau es krim. " jawab Karamel yang di angguki oleh Melisa. Dia pun menyalakan mobilnya dan meluncur jauh. Sesuai keinginan Karamel, mereka membeli es krim lebih dulu setelah itu baru pulang ke mansion.



Ibu dan Anak itu kini saling bergandengan tangan memasuki mansion. Ternyata Shaka telah menunggu mereka di ruang tamu. Melihat suaminya di ruang tamu Melisa justru berlalu begitu saja. Dia mengajak sang anak pergi ke kamar, sebelumnya dia memanggil Mei untuk mengurus putrinya.


Shaka menggeram rendah, pria itu lantas berdiri dan segera naik ke lantai dua. Brak pria itu membanting pintunya dengan keras, Melisa terkejut dengan tindakan suaminya barusan.

__ADS_1


"Apa ada yang ingin di bicarakan? " tanya Melisa dengan wajah datarnya.


"Tak ada aku hanya ingin mandi denganmu. " ujar Shaka tanpa basi.


"Kau tak bisa bilang cinta sama aku tapi kau menginginkan tubuhku begitu mas. Kamu kira aku wanita bayaran yang bisa kamu gunakan seenak jidat kamu? " sahut Melisa dengan sinis.


"Aku akan menyiapkan perceraian kita, tunggu saja suratnya. " Melisa langsung ke luar dari kamar suaminya. Wanita itu memilih kamar lain, dia enggan tinggal sekamar dengan pria yang menjadi suaminya itu.


Shaka tertampar dengan ucapan istrinya barusan. Tangannya terkepal kuat saat mendengar kata perceraian dari mulut istrinya. Pria itu memiliki ego dan gengsi yang tinggi, dia merasa geli jika mengucapkan kata cinta. Shaka juga merasa harga dirinya di injak injak sang istri.


"Berani beraninya dia menolak memberikan hakku sebagai suami? " geram Shaka. Pria itu mengejar istrinya hingga ke kamar samping.


Dan terjadi pertengkaran di dalam kamar. Melisa hanya bisa menangis saat dirinya di paksa untuk melayani suaminya. Shaka menghujam wanitanya dengan liar dan kasar. Dan pria itu berhasil mendapatkan haknya sebagai suami.


Usai berbagi keringat, Melisa mendorong suaminya menjauh. Rasa cintanya pada sang suami kian surut berganti dengan kebencian.


"Aku tetap akan menggugat kamu mas, aku memilih menyerah. " gumam Melisa dengan nada lirihnya. Shaka menatap nanar istrinya, dia segera mengenakan celananya kemudian menarik istrinya ke dalam dekapan.


Melisa terus memberontak dalam pelukan suaminya. Dia meminta suaminya untuk melepaskan dirinya. Dia tak sanggup lagi menjalani rumah tangga dengan Shaka.


Sudah cukup Lima tahun dia bertahan dalam pernikahan semu di antara dirinya dan Shaka. Shaka menghela nafas berat, dia berusaha menenangkan sang istri.


"Maaf karena pernikahan ini membuatmu tersiksa mas. Sekarang aku akan melepaskan kamu, kita hanya akan menjadi orang tua bagi Karamel namun tidak lagi menjadi pasangan. " ucap Melisa menyesali semuanya yang terjadi.


"Dengarkan aku Mel! "


"Lepas mas. " Melisa berusaha melepaskan diri dari dekapan Shaka.


"Aku bilang diam! " bentak Shaka membuat Melisa menangis tergugu. Keheningan melanda di antara pasangan suami istri ini. Hanya terdengar suara isakan tangis yang menyayat hati.


Kepalanya terasa pusing, pandangan nya mulai buram. Melisa langsung memejamkan mata, tak sadarkan diri dalam pelukan suaminya. Shaka yang melihatnya langsung panik, dia menepuk nepuk pipi wanitanya.


Dia langsung membersihkan diri mereka, Shaka memakai pakaiannya lalu memakaikan sang istri pakaian. Seletelah selesai dia langsung menghubungi dokter untuk datang.

__ADS_1


__ADS_2