
Di kediaman Sergio, pria itu telah mencari babysitter untuk membantu istri nya. Pagi ini Anna tampak selesai memandikan baby Violet di bantu oleh pengasuh barunya.
"Luna, kamu bawa baby Violet berjemur ya. " pinta Anna.
"Iya nyonya. " jawab Luna membawa pergi baby Violet ke teras bawah. Anna sendiri menyiapkan pakaian kerja untuk suami tercintanya.
Luna sendiri tersenyum miring memperhatikan bayi dalam gendongannya saat ini. Entah apa yang akan di lakukan gadis itu sekarang. Dia mengusap halus pipi lembut bayi cantik dalam gendongan dirinya saat ini.
"Halo Baby Violet, mulai sekarang aku yang akan merawatmu, memandikan kamu dan mungkin saja akan membuatmu tertidur selamanya. " gumam Luna asal.
Prot
"Ugh sialan dia kentut. " batin Luna dengan kesal. Gadis itu langsung mencubit hidungnya sendiri, menahan rasa bau dari baby Violet. Bayi cantik itu tertawa sambil bertepuk tangan. Sepertinya bayi itu paham akan aura negatif yang di miliki Luna.
Luna segera berpindah posisi, dia merasa jengkel dengan Violet. Terdengar suara helaan nafas berat, jika bukan karena uang. Dia mana sudi melakukan pekerjaan ini.
Sementara Anna berusaha membangunkan sang suami. Sergio pun justru menarik istrinya ke pelukannya.
"Mas Gio ayo bangun, ini sudah
pagi. " bisik Anna sambil menciumi pipi suaminya. Sergio tentu saja terusik, pria itu membuka matanya. Dia langsung memagut bibir sang istri dengan liar lalu melepaskan tautan bibir mereka.
"Baby Vio mana sayang? "
"Putri kecil kita bersama Luna di teras. " jawab Anna sambil tersenyum. Sergio melepaskan pelukannya, keduanya langsung duduk dengan tegap.
"Ya sudah kamu turun duluan aja, aku nanti nyusul. " Anna pun mengangguk, wanita itu ke luar dari kamarnya. Sergio sendiri melesat ke kamar mandi. Dia mengulas senyumnya melihat si kembar telah rapi dengan seragam sekolah.
Tak lama Sergio datang menyusul, mereka bertiga sarapan bersama. Lima belas menit berlalu, si kembar menciumi wajah bundanya lalu pamit. Sergio turut memberi ciuman pada sang istri.
"Sayang aku antar anak anak ke sekolah lebih dulu ya, baru ke
__ADS_1
kantor. " pamit Sergio.
"Jangan ngebut ya mas. " tegur Anna dengan senyuman manisnya. Sergio mengajak kedua anak anaknya ke luar. Pelayan datang membereskan meja makan, Anna sendiri pergi ke teras.
Dia ingin tahu dengan apa yang di lakukan Luna saat ini. Tiba di sana wanita itu membulatkan mata, melihat Luna duduk di dekat kolam renang.
"Luna. " teriak Anna. Anna berjalan cepat menghampiri baby sitter barunya itu. Dia langsung mengambil alih baby Vio dari tangan Luna.
"Sebenarnya kamu ini bisa kerja enggak sih, putriku bisa jatuh jika kamu teledor nanti. " pekik Anna dengan nada tinggi. Luna tampak gemetaran mendapat bentakan dari sang majikan.
"Maafkan saya nyonya, saya tadi hanya ingin mengambil gelang saya yang jatuh ke kolam. " elak Luna.
"Kembali ke kamar kamu sana, renungkan kesalahanmu hari ini. " usir Anna emosi. Luna langsung pamit pergi, Anna berusaha menenangkan putri kecilnya. Baby Violet tampak berceloteh khas bayi dalam gendongan sang bunda.
Hot mommy itu begitu ketakutan jika princess kecilnya terjatuh. Anna menghela nafas berat, lalu membawa si kecil ke ruang tengah. Dia memperhatikan Baby Violet dalam gendongannya. "Maafin Bunda ya sayang, tadi bunda berteriak di depan kamu. " gumam Anna menyesal.
Wanita cantik itu mengusap sayang putri kecilnya. Dia masih tampak panik dan takut akan kejadian tadi. Untungnya dirinya masih bisa memergoki Luna jika tidak, baby Vio pasti akan terjatuh. Tepat pukul sepuluh siang, Anna mengajak si kecil pergi ke perusahaan sang suami.
"Nyonya Anna ke mana? " tanya Luna.
"Pergi ke perusahaan Tuan Sergio. " jawab salah satu pelayan. Luna hanya beroh ria, dia memilih pergi dari sana dan naik ke lantai atas sambil menatap sekitarnya.
"Rencana pertama telah gagal, tapi aku takkan menyerah begitu saja. " batin Luna. Gadis itu dengan berani masuk ke dalam ruangan Anna. Entah apa yang tengah di lakukan gadis itu saat ini. Diapun mencari sesuatu di meja, fokusnya tertuju pada sebuah botol.
Luna tersenyum licik, dia mengambil botol salep itu kemudian menggantinya dengan botol yang dia bawa. Setelah selesai dia langsung ke luar dari sana sebelum ketahuan pelayan.
Gadis itu berharap rencananya kali ini akan berhasil. Dia kembali ke kamarnya sambil bersiul. Tanpa dia sadari ada satu pelayan yang melihatnya menuruni tangga.
Skip
Sergio tentu saja senang dengan kehadiran istri dan putri kecilnya. Anna memperhatikan sang suami yang telah selesai memperhatikan makanan Sergio telah habis.
__ADS_1
"Sayang, kenapa wajah kamu terlihat masam. Apa terjadi sesuatu di mansion tadi? " tebak Sergio pada sang istri.
"Aku memarahi Luna mas. " Anna menjelaskan kejadian tadi pada sang suami.
"Mungkin Luna memang lupa jika tengah menggendong baby Vio, sayang. " ujar Sergio. Anna berdecak pelan mendengar jawaban sang suami yang kian membuatnya kesal.
"Dia pikir baby Vio itu boneka, dasarnya aja dia tak punya pengalaman mas. Lagian harusnya kamu cari baby sitter yang berpengalaman bukan yang masih muda. " omel Anna.
Wanita itu meluapkan kekesalan dan kemarahannya pada sang suami. Sergio menghela nafas panjang, dia pasrah kala dirimu di jadikan pelampiasan kekesalan istrinya. Anna menggendong princess kecilnya sambil menepuk halus bokong sang anak.
Kini suasana menjadi hening. Tak ada lagi obrolan di antara pasangan suami istri ini. Anna menghela nafas pelan, fokusnya kembali tertuju pada baby Violet.
"Maafkan aku sayang, aku tak bermaksud membela Luna. Hanya saja mungkin gadis itu memang benar benar lupa. " gumam Sergio.
"Baiklah, maafkan aku juga mas. Aku larut dalam ketakutanku sendiri, baby Violet adalah segalanya untukku begitu juga si kembar.
Sergio memeluk istrinya dari samping. Pria itu mengajak bicara putri kecilnya dalam pelukan Anna. Anna tertawa pelan saat sang suami berusaha menjahili si kecil. Wanita itu bersandar nyaman di dada sang suami sambil menggendong Violet.
"Untuk kali ini aku memaafkan Luna mas, namun tidak untuk lain kali. " ucap Anna dengan tegas.
"Aku setuju dengan keputusan kamu sayang. " sahut Sergio sambil memperhatikan putri kecilnya. Tanpa mereka sadari mungkin saja akan ada badai di antara mereka berdua lagi. Sergio juga beberapa kali menciumi dahi sang istri dan baby Violet secara bergantian.
Dering ponselnya menyita perhatian mereka. Sergio lekas melepaskan pelukannya, lalu mengeluarkan benda canggih itu dari saku celana. Anna membiarkannya, memilih berbicara dengan si kecil. Wanita itu paham jika suaminya sangatlah sibuk.
Setelah selesai Sergio kembali fokus pada sang istri tercinta. Pria itu tampak ragu ingin mengatakan. sesuatu pada Anna.
"Ada apa mas Gio? "
"Besokaku harus pergi ke luar kota sayang selama satu minggu, kamu enggak papa aku tinggal sendirian? " tanya Sergio melihat istrinya diam saja.
"Nanti kita bicarakan di mansion mas. " jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1