(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 48 Bisik bisik tetangga


__ADS_3

Di Negara Z


Venia mulai menjalani kemoterapi di sebuah rumah sakit ternama di sana. Sergio dengan setia mendampingi sang istri menjalani serangkaian pengobatan.


Di hari pertamanya menjalani kemoterapi, Venia merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Wanita itu keras menangis, Sergio tentu saja terus memberikan dukungan untuk sang istri tercinta.


Beberapa jam berlalu Venia selesai melakukan kemoterapi pertamanya. Saat ini wanita itu tampak mengeluhkan pusing dan mual pada dokter. Hal seperti itu wajar untuk pasien penderita kanker seusai melakukan kemoterapi. Sergio membantu istrinya berkumur setelah itu kembali berbaring di atas ranjang.


Dokter Petter dan dokter Sena yang menangani penyakit Venia. Sergio tentu saja ikut merasakan sakitnya melihat keadaan sang istri. Dia tak kuasa menahan tangisnya saat wanitanya kesakitan. Dia pun menggenggam erat tangan sang istri sambil memperhatikan wajah pucat Venia.


"I love you sayang, kita berjuang sama sama. Aku akan selalu menemani kamu sampai kamu benar benar sembuh nantinya. " ucap Sergio sambil tersenyum. Veniapun menangis terisak melihat kesungguhan dari sang suami.


Pria itu tak berhenti mendukung istrinya agar tetap bersemangat. Venia sendiri merasa telah menyusahkan sang suami dengan kondisinya saat ini.


Tangannya terulur mengusap kepala sang suami. Dia benar benar beruntung memiliki suami yang benar benar mencintai dirinya dengan tulus.


Huwek


Sergio segera membopong sang istri menuju ke kamar mandi. Dia memijit leher sang istri, Venia terus memuntahkan cairan bening.Setelah beberapa menit, wanita itu segera berkumur.


Venia kembali menangis sambil meremas kaos sang suami dengan erat. Sergio langsung memeluk sang istri, mengusap punggung bergetar Venia.



Sergio kembali membantu istrinya berbaring di atas ranjangnya. Tak lama suster datang membawakan makanan untuk sang pasien.


"Biar saya saja yang menyuapi istri saya suster! "


"Baik Tuan. " Setelah mengantarkan makanan dan minuman, susternya langsung ke luar. Sergio dengan sabar menyuapi sang istri tercinta. Venia menerima suapan demi suapan dari Sergio hingga makanan habis.


Dia juga membantu wanitanya meminum segelas air putih. Venia kembali bersandar di headboard dengan tenang.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat ya sayang, biar aku temani kamu sampai tidur. " ucap Sergio dengan lembut. Venia tersenyum, dia sedikit mengobrol dengan suaminya hingga tertidur.


Sergio mengulas senyumnya melihat sang istri telah tertidur. Dering ponsel membuat pria itu beranjak dan memilih ke luar dari ruangan rawat sang istri. Pria itu pergi ke balkon rumah sakit sambil mengobrol dengan seseorang di telepon.


"Doakan saja Dad, semoga semuanya berjalan lancar dan kesehatan istriku segera pulih. " ucap Sergio.


"Iya Nak, kalau begitu Dad tutup dulu. " sahut Daddy Daffa pada sang anak.


Tut


Sergio menyimpan ponselnya ke dalam saku, dan berjalan lurus melewati sekumpulan dokter wanita dan suster. Para wanita itu berdecak kagum akan ketampanan yang di miliki Sergio.


"Aku dengar tuan tampan itu memiliki seorang istri yang mempunyai penyakit berbahaya. " cetus suster wanita di antara mereka.


"Ya, kasihan sekali ya pria tampan itu. Dia harus merawat wanita yang penyakitan seperti itu. Lebih baik sama aku aja yang jadi istri pria itu, aku bisa melakukan apapun kok. " ceplosnya.


"Sst jangan keras keras nanti ada yang dengar. " tegur salah satu dari mana. Dia langsung membubarkan rombongan. Tak peduli dengan teguran temannya, salah satu dari dokter wanita di sana langsung menyusul Sergio berada.


"Ehem maaf tuan, bolehkah saya bergabung bersama Anda? " tanya wanita itu dengan senyuman manisnya.


"Kenalkan nama saya Farah. " sapa Farah dengan basa basi.


Sergio pun mendongak, menatap penampilan wanita di hadapan nya ini dengan seringai miringnya.


"Seorang dokter, apa begini tugas seorang dokter di luar jam


kerjanya? " tanya Sergio dengan nada datar nya. Farah menelan salivanya merasakan aura dingin dari pria di hadapannya ini.


"Tugas kamu mengurus pasien, bukan bersikap murahan pada suami pasien. " pekik Sergio dengan keras membuat pengunjung menoleh dan menggunjingkan Farah. Dia langsung mengumpat keras dan memberikan ancaman untuk Saras.


Sergio memilih kembali ke rumah sakit mengabaikan teriakan Farah. Pria tampan itu menemui direksi rumah sakit dan mengungkapkan kelakuan Farah. Setelah selesai dia segera pergi ke ruangan sang istri.

__ADS_1


Dan kebetulan Venia mengajak sang suami untuk pulang. Sergio tentu saja mengiyakan, dia telah mengurus izin dokter. Setelah mengganti pakaiannya, Sergio merangkul bahu sang suami dan ke luar dari rumah sakit.


"Kok heboh kenapa sih mas? " tanya Venia tak mengerti.


"Biasalah para wanita yang bergosip mendapat teguran dari pimpinan. " jawab Sergio dengan santai.


"Tapi aku dengar ada yang membicarakan kita mas. " seru Venia dengan sendu. Sergio menghentikan langkahnya, memegang bahu sang istri dengan erat.


"Enggak usah di dengerin omongan tetangga sayang, hanya kamu yang aku cintai sampai kapanpun. " tegas Sergio. Dia langsung membawa istrinya menuju ke parkiran. Mereka masuk ke mobil dan melesat pergi meninggalkan area rumah sakit.


Skip


Kini mereka telah sampai di penthouse. Keduanya langsung turun dan masuk ke dalam. Sergio membawa istrinya ke ruang tamu sesuai permintaan Venia.


"Sudah jangan kau pikirkan omongan orang sayang. Aku sudah berjanji di hadapannya Tuhan saat pertama kali kita menikah waktu itu akan selalu menemani kamu dalam keadaan apapun. " pungkas Sergio.


"Terimakasih mas Gio." ucap Venia sambil tersenyum manis. Apa yang di katakan suaminya benar, dia tak perlu memikirkan omongan orang lain.


Sebisa mungkin dia akan berjuang untuk sembuh. Jika Tuhan berkehendak lain, Venia memilih pasrah dan memilih menerimanya dengan lapang dada. Untuk saat ini dia akan berjuang bersama sang suami, sudah cukup dirinya selama ini mengecewakan keluarganya.


"Aku benar benar beruntung memiliki kamu mas Gio. " batin Venia dalam hatinya. Sergio mengulas senyumnya melihat senyuman di wajah sang istri. Wanita cantik itu menyenderkan kepalanya d bahu sang suami. Tangan keduanya saling bertautan satu sama lain.


Sergio menciumi pucuk kepala istrinya dengan lembut. Venia menjauhkan kepalanya, menoleh ke samping. Dia meminta sang suami menghubungi mommy, Venia ingin berbicara dengan si kembar.


Tentu saja Sergio melakukan apa yang di minta oleh istrinya. Dia melakukan panggilan video call, lalu menyerahkan ponselnya pada Venia. Wanita itu langsung mengobrol pada kedua putranya, melepaskan rindu pada Felix dan Finn.


"Mommy sangat menyayangi kalian boys, kalian tak boleh nakal selama mommy dan daddy belum kembali. Ingat nasehat mommy ya sayang, mommy tak ingin kalian bertengkar. " ucap Venia dengan lembut.


"Iya mommy kami mengerti, we love you mom. " ucap si kembar secara bersamaan.


"Mommy juga mencintai kalian sayang. " cetus Venia dengan senyuman manisnya. Setengah jam berlalu dia mengakhiri obrolannya dengan si kembar. Venia mengembalikan ponselnya pada sang suami.

__ADS_1


__ADS_2