(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 37 Masalah lain Winna


__ADS_3

Sepulang dari Cafe, Venia meminta di buatkan minuman oleh Winna. Sementara dirinya mengobrol dengan sang suami di ruang tamu. Tak lama wanita itu kembali, membawakan minuman yag di minta Venia.


Venia dan Sergio langsung menyesal minuman masing masing. Venia menyemburkan minumannya, dia melirik suaminya yang tampak biasa biasa saja. Wanita itu lantas bangkit, menghampiri pelayan kurang ajar nya itu.


Byur


Venia dengan nekat menyiramkan minuman tehnya pada Winna. Sergio terkejut dengan tindakan istrinya barusan.


"Kenapa tehku rasanya pahit hah, apa kau sengaja Winna. " ujar Venia dengan nada tingginya.


Winna menelan salivanya kasar, diapun hanya bisa diam. Karena kesal tanpa sengaja dia hanya memberikan sedikit gula di minuman Venia, berbanding terbalik dengan kopi milik Sergio yang terasa manis.


"Are you Stupid? " ucap Venia dengan aksen inggrisnya.


"Cukup kak, bisakah kakak sekali saja bersikap baik padaku. Kamu enggak perlu terus terusan merendahkan aku. " pekik Winna dengan emosi meledak ledak.


Venia mengatupkan bibirnya rapat. Winna terus mengamuk di hadapan sang kakak, meluapkan keluh kesahnya. Dia juga membicarakan mengenai keadaan Daddy pada sang kakak.


Winna mengatur nafasnya yang tersengal, tangannya terkepal kuat. Dia menatap penuh kebencian kearah sang kakak.


"Masih untung aku tidak meracuni kakak. Kakak menilai aku rendahan, lalu bagaimana dengan sikap kakak sendiri. Begitu sombong, angkuh dan seakan menjadi wanita suci yang tak memilih salah sedikitpun. " ujar Winna dengan telak.


Winna langsung pergi dari sana meninggalkan sang kakak yang diam mematung. Venia berdecak pelan, dia kembali duduk di sebelah sang suami.


"Vee sayang, aku tahu kamu masih menyimpan benci pada Winna. Tapi seharusnya kamu tak perlu terus merendahkannya sayang. " tegur Sergio.


"Kenapa kamu justru membelanya sayang? " protes Venia tak terima.


"Aku enggak membelanya, hanya saja kau cukup memberinya pelajaran itu saja. " ucap Sergio penuh penekanan. Pria itu pun memberikan nasehat pada sang istri agar tak salah langkah. Venia hanya diam saja tak mengomentari nasehat dari sang suami.

__ADS_1


Venia menghela nafas berat, dia lantas bangkit dan pergi ke lantai dua. Sergio pun hanya bisa menghembuskan nafas panjang. Dia hanya perlu bersabar menghadapi sikap keras kepala istrinya.


Pria itu mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi detektif untuk mencari tahu keadaan kedua mertuanya saat ini. Setelah itu menyandarkan tubuhnya di sofa.


Di sisi lain


Winna tampak menangis di dalam kamarnya. Wanita itu kini terduduk di lantai sambil memeluk kedua kakinya. Ucapan Venia yang terus merendahkannya, berputar dalam ingatannya. Dia mengaku salah telah menyusahkan semua orang.


"Kenapa kak Vee enggak ngertiin perasaan aku sama sekali? " gumam Winna lirih. Terdengar suara isakan tangis yang ke luar dari bibir Winna. Saat ini dia merasa sendirian, tak memiliki siapapun yang bisa dia handalkan.


Dering ponsel menyita perhatiannya. Winna langsung bangun, dia pun mengambil ponselnya yang tergelatak di atas ranjang.


"Halo Mom? "


"Nak, Daddy kamu masuk rumah sakit dan perlu di operasi. " ucap Mommy Kinara sambil menangis.


"Winna akan ke sana mom. " Winna memutus sambungannya.Dia segera mengganti pakaiannya, mengambil tas kemudian ke luar. Wanita itu turun dengan terburu buru, melewati kakak iparnya yang masih di ruang tamu.


Skip


Di rumah sakit


Winna menghampiri sang mommy, keduanya lantas berpelukan. Mommy Kinara pun mengatakan keadaan Daddy yang kritis. Winna tentu saja menangis, dia tak memiliki uang untuk membayar biaya operasi sang daddy.


"Mom, apa kita minta bantuan kak Venia aja? " tanya Winna asal.


"Venia? "


Winna mengangguk, dia pun menjelaskan di mana dia tinggal selama ini pada sang mommy. Mommy Kinara terkejut dengan pengakuan dari putri keduanya. Terdengar suara helaan nafas berat ke luar dari bibir nyonya Kinara.

__ADS_1


"Sepertinya jangan nak, mommy merasa malu pada kakak kamu. " gumam Nyonya Kinara dengan tatapan sendunya. Winna pun membenarkan ucapan sang mommy.


Winna pun memikirkan cara lain begitu dengan Nyonya Kinara. Suara derap langkah kaki membuat keduanya menoleh ke samping. Winna terkejut melihat kehadiran Sergio di sekitar dirinya dan sang mommy.


"Aku akan membantu kalian membiayai daddy Rama! " ujar Sergio dengan nada datarnya.


Dokter datang menghampiri mereka. Sergio langsung meminta dokter untuk mengoperasi mertuanya. Lalu dia langsung pergi ke ruangan administrasi. Sementara Winna dan ibunya hanya bisa saling melirik satu sama lain.


Winna sendiri memijit kepalanya yang terasa pusing. Wanita itu hanya ingin menghindar dari masalah yang di sebabkan dirinya sendiri. Tak lama Sergio kembali, pria itu berbincang dengan sang mertua sambil duduk di ruang tunggu.


"Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan sekarang. " batin Winna.


Hingga sore harinya


Dokter ke luar dan menjelaskan jika pasien telah berhasil melewati masa kritis dan berhasil melakukan operasi. Winna merasa lega mendengar keadaan sang Daddy. Hal yang sama juga di rasakan oleh mommy Kinara.


Setelah di pindahkan ruangannya, Winna langsung pergi ke ruangan daddy. Wanita itu masuk ke dalam, menghampiri sosok ayahnya yang terbaring lemah di atas ranjang pasien.


"Maafkan aku Dad, selama ini aku hanya menyusahkan mommy dan daddy. Karena aku kalian harus di benci oleh kak Venia. "gumam Winna dengan lirih. Sergio sendiri hanya diam, diapun langsung pamit pada mereka untuk segera pulang.


Mommy Kinara mendekati sang anak, merangkulnya dari samping. Dia telah memaafkan kesalahan putri ya selama ini. Mereka sama sama salah membuat keluarga mereka renggang seperti sekarang. Ego masing masing yang membuat mereka terpisah.


Winna langsung menangis terisak, memperhatikan sang mommy yang tampak menangis sambil menggenggam tangan Daddy. Dia berharap hubungan keluarganya kembali sepertu dulu. Dia juga berharap Venia mau memaafkan dirinya dan kedua orang tua mereka.


Huh


Winna menghela nafas berat, mengusap air matanya sebentar. Lalu dia kembali memperhatikan wajah pucat sang daddy. Dia pun berbalik, berjalan kearah sofa lalu duduk di sana.


Hatinya kembali resah, memikirkan rumah tangga sang kakak. Dirinya tak ingin menghancurkan kebahagiaan kakaknya lagi. Haruskah dia menghilang saja, lalu bagaimana dengan kedua orang tuanya nanti??

__ADS_1


"Aku ingin memperbaiki keadaan, aku tak ingin kak Vee terus membenci mommy dan daddy! " gumam Winna pelan. Wanita itu lekas bangkit, dia pamit sebentar pada sang mommy. Lalu ke luar dari ruangan sang daddy dengan langkah cepat.


Winna perlu berbicara dengan Venia sekaligus meminta maaf. Dia ingin menyelesaikan permasalahan yang terjadi di keluarga mereka. Wanita itu tengah menunggu taksi saat ini. Setelah taksi sampai, dia masuk ke dalam dan meluncur dengan cepat.


__ADS_2