(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 78 Season 2 Chap 11 Irene & Henry


__ADS_3

Sementara Irene sendiri tampak mengurung dirinya di dalam kamar. Semenjak pertengkaran dirinya dengan sang mami kemarin gadis itu memilih berada di kamar.


Merasa bosan Irene ke luar dari kamarnya. Dia mengambil tas kemudian menuruni tangga dan bergegas pergi. Gadis itu mengabaikan sapaan sang mami yang berada di ruang tamu.


Tepat pukul tujuh malam Irene pergi ke Club. Dia datang bersama dua sahabatnya. Mereka bertiga tengah asyik minum wine di bar hingga mabuk. Gadis itu terus meminum Wine tanpa memikirkan akibatnya kedepannya nanti.


Beberapa jam berlalu kedua temannya langsung memapah Irene. Irene menolak, dia berjalan sempoyongan ke luar dari club. Tanpa sengaja dia menabrak seorang pria dan menciumnya.


Pria itu membawa Irene pergi dari sana menuju ke mansion.


Malam ini menjadi malam yang panjang untuk Irene dan pria asing itu.


Keesokan harinya



Irene membuka mata, menatap sekelilingnya yang terasa asing baginya. Gadis itu merasakan tubuhnya terasa sakit, dia menunduk ke bawah.


Deg


"Tidak. " gumamnya tak percaya. Irene langsung menoleh, mendapati seorang pria tidur di sampingnya dalam keadaan polos.


"Aaakh. " teriakan Irene begitu kencang hingga kamu membangunkan pria di sebelahnya. Wanita itu menangis tergugu, dia kehilangan kesuciannya karena pria asing.


"Berisik! " ketus pria itu. Irene langsung memukulinya dengan brutal, pria asing tersebut lalu mencekal tangannya dengan erat.


"Semuanya sudah terjadi, hentikan tangisanmu itu nona. " suara serak pria itu membuat tangis Irene kian kencang


Irene menghempas tangan pria itu, dia hendak turun namun tak bisa bergerak. Wanita itu hanya bisa kembali berbaring, sementara pria di sebelahnya yang tak lain adalah Henry hanya diam saja.


Sret


Henry menarik Irene ke dalam dekapannya. Dia mengabaikan penolakan yang di lakukan Irene saat ini.


"Semalam kau duluan yang menciumiku nona, tentu saja aku tak menyiakan kesempatan. " ujar Henry sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


"Tutup mulutmu brengshake. " umpat Irene dengan kasar. Henry tersenyum, dia eratkan pelukannya pada tubuh Irene. Pria itu menarik dagu wanitanya, menatap lekat wajah cantik Irene.


"Aku Henry, siapa nama kamu


hmm? " tanya Henry penasaran.


Irene justru memalingkan wajahnya. Dia tak sudi menyebut namanya pada pria yang merenggut kehormatannya. Henry tentu saja tak menyerah begitu saja, tangan pria itu masuk ke dalam selimut.


"Ssh. " Irene berusaha tetap tenang namun sentuhan Henry membuatnya lupa diri.


"Ugh. " Wanita itu meloloskan suara merdu yang membuat Henry tersenyum licik. Saat ini pria itu memeluknya dari belakang.


"Namaku Irene. " ujarnya dengan nafas tersengal. Henry tersenyum puas, dia telah membuat Irene takluk padanya. Pagi ini keduanya kembali mengulang percintaan panas mereka seperti semalam.


Satu jam berlalu Irene telah memakai pakaian yang baru. Wanita itu merasakan sakit dan merutuki kebodohannya sendiri. Henry datang, pria itu mengenakan kemeja dan celana hitam panjang.


Pria itu mengajaknya turun ke bawah. Kini mereka berada di meja makan untuk sarapan bersama. Selesai sarapan, Irene langsung pergi dari sana begitu saja.


Henry tentu saja mengejar wanita itu namun terlambat, Irene pergi dengan menaiki taksi. Dia mengutus anak buahnya untuk mencari informasi mengenai Irene.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang. " gumam Irene sambil menangis tergugu. Wanita cantik itu memilih pulang ke rumah orang tuanya.


Penthouse keluarga Wayne


Irene langsung turun dari taksi, wanita itu lantas masuk ke dalam. Mami Ivy datang dan menghampiri sang anak dengan raut paniknya.


"Kenapa kemarin tak pulang sayang, kamu ke mana saja? " tanya Mami Ivy dengan raut cemas nya.


"Menginap di apartemen temanku Mam, aku mau ke kamar. " balas Irene. Mami Ivy membiarkan putrinya pergi ke kamarnya. Wanita paruh baya itu bernafas lega mendapati putrinya dalam keadaan baik baik saja.



Irene menaruh tasnya di atas meja. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Dia kembali menangis, teringat kejadian di mansion pria brengshake itu tadi.


"Huhu apa yang harus aku

__ADS_1


sekarang. " gumam Irene dengan nada putus asanya. Dia kini menyembunyikan wajahnya di atas bantal.


Dering ponselnya menyita perhatian Irene. Wanita itu lekas bangun, Irene langsung meraih ponselnya dan membaca pesan dari Karamel. Dadanya berdenyut nyeri, mendapati Felix telah menikah dengan Ashley.


"Sepertinya tak ada lagi kesempatan aku untuk kembali dengan kak


Felix. " gumam Irene lirih.


Tok tok


Irene buru buru menghapus air matanya kemudian menaruh ponsel di sebelahnya. Tak lama Mami Ivy masuk ke dalam sambil membawakan segelas susu untuknya. Mami menyerahkan segelas susu pada sang anak, Irene segera meminumnya.


Irene menaruh gelasnya di atas meja. Mami mengerutkan kening melihat putrinya yang tampak pendiam kali ini. Wanita paruh baya itu menyentuh tangan sang anak.


"Apa kamu masih marah sama mami nak? " tanya Mami Ivy memastikan.


"Enggak mam. " jawab Irene singkat. Mami semakin di buat heran dengan kelakuan putrinya yang tampak pendiam hari ini.


"Apa kamu sakit sayang? " tanya Mami lagi yang di tanggapi dengan gelengan.


Mami Ivy menghela nafas panjang, dia mengusap kepala putrinya dengan lembut. Dia juga meminta maaf pada sang anak atas sikapnya kemarin. Irene sendiri kembali berbaring di sebelah sang mami.


Mami Ivy menawarkan mengajak Irene jalan jalan. Namun Irene menolak, Mami tak menyerah begitu saja. Irene mau tak mau setuju, dia pekas bangun dan mengganti pakaiannya. Setelah siap keduanya segera turun ke bawah setelah mami mengambil tasnya.


Keduanya meminta sopir untuk mengantar mereka. Ibu dan anak itu langsung masuk ke mobil dan melesat jauh. Mami Ivy menatap khawatir kearah suaminya putrinya yang tak banyak bicara hari ini.


"Sayang kalau ada masalah bilang sama mami! "


"Kak Felix telah menikahi Ashley mam. " gumam Irene yang masih bisa di dengar mami nya. Mami Ivy mengerti perasaan sang anak, dia mengusap kepala putrinya dengan lembut.


"Kamu harus merelakan nya nak. " tegur Mami dengan nada lembutnya. Irene hanya mengangguk, tak membantah seperti biasanya.


Turun dari mobil keduanya langsung masuk ke dalam spa langganan mami. Mami Ivy ingin merilekskan tubuhnya sekaligus berusaha menghibur sang anak.


Berada di tempat Spa membutuhkan waktu satu jam lebih setelah itu berpindah ke tempat lain yaitu Salon. Siang itu Irene merasa moodnya sedikit membaik, dia menghargai usaha yang di lakukan sang mami.

__ADS_1


"Teirmakaish telah mengajakku jalan jalan mami. " ucap Irene sambil tersenyum. Wanita itu lantas memeluk sang mami kemudian mengajaknya kembali ke mobil.


Mami Ivy merasa lega melihat putrinya kembali ceria. Dia tak akan memaksa sang anak untuk mengatakan apa yang dia pikirkan saat ini. Sepanjang perjalanan kali ini ada obrolan ringan di antara keduanya.


__ADS_2