
Kini Irene dan keluarganya telah kembali ke negara X. Jerome sendiri telah membuat perusahaan Henry rugi besar hingga mengalami di ambang kebangkrutan.
Kini pria tampan itu mengajak Irene keliling kota sekaligus menghibur Irene. Mereka berdua kini berhenti Flower Garden Park, keduanya langsung turun dan masuk ke taman bunga.
Mereka duduk di dekat air mancur. Jerome menatap Irene dalam diam. Lalu dia kembali menatap lurus ke depan.
"Sekarang apa yang akan kau lakukan Irene? " tanya Jerome membuka obrolan lebih dulu.
"Bekerja, mungkin dengan bekerja aku bisa melupakan semuanya secara perlahan." gumam Irene.
"Kau bisa bekerja di kantorku Irene. " ujar Jerome menawarinya pekerjaan.
"Baiklah aku akan mencobanya besok. " jawab Irene. Jerome tentu saja senang mendengar keputusan Irene sekarang. Irene menghela nafas panjang, berharap keputusannya ini sangatlah tepat.
Keduanya kembali berdiri dan melanjutkan berkeliling. Jerome mengenggam tangan Irene, keduanya juga sempat.membeli minuman lalu duduk di sebuah bangku.
"Nanti malam ikutlah denganku Rene, temani aku datang ke pesta reuni. " cetus Jerome.
"Malas kak. " jawab Irene singkat. Bukan Jerome namanya kalau tak bisa membujuk Irene hingga setuju dengan ajakannya. Wanita cantik itu pada akhirnya mengalah dan mengangguk setuju.
Setelah selesai keduanya ke luar dari taman dan kembali ke mobil. Irene langsung menyandarkan kepalanya di sofa. Pria itu mengantar Irene pulang ke mansion Wayne.
Pukul delapan malam
Kini Irene dan Jerome telah sampai di hotel bintang lima. Keduanya lantas masuk ke dalam, bergabung bersama teman teman Jerome.
Setelah berkenalan dengan teman dari Jerome, Irene memilih pergi ke balkon.
"Ternyata kamu di sini. " cetus Jerome sambil membawakan vodka dan menyerahkan pada Irene. Irene langsung menerimanya, kemudian meneguknya.
Wanita itu berbalik, membelakangi Jerome. Jerome sendiri merebut gelas yang di genggam Irene kemudian menaruhnya di sebuah meja kecil. Pria tampan itu langsung memeluk pinggang ramping Irene dari belakang.
"Tawaranku tempo hari masih berlaku lho Rene! " bisik Jerome.
__ADS_1
Irene menepis tangan Jerome yang memeluk perutnya. Wanita itu lantas menghindari si duda tampan.
"Pergilah jangan mengangguku
kak. " ujar Irene tanpa menoleh kebelakang. Jerome terkekeh pelan, tentu saja dia enggan menuruti perintah Irene.
Pria itu mengawasi Irene dengan manik mata hitamnya. Ada rasa khawatir dalam dirinya jika Irene berbuat nekat nantinya. Irene sendiri menghembuskan nafas panjang, ini adalah awal kehidupannya yang baru.
Jerome langsung menggandengnya masuk ke dalam. Dia mengajak Irene berdansa bersama pasangan yang lain. Pria itu merengkuh posesif pinggang Irene.
Irene hanya menjawab singkat saat Jerome bertanya padanya. Sepertinya wanita itu memang menjaga jarak dari para pria.
Larut malam pesta telah usai kedua pasangan itu langsung pamit pulang. Tiba di kediaman Wayne, Irene langsung turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam.
Keesokan harinya Irene telah siap dengan pakaian kerjanya. Wanita itu mengatakan pada kedua orang tuanya. Kini ketiganya sarapan bersama dengan tenang.
"Mami, Papi aku berangkat dulu ya. " ujar Irene.
"Iya sayang kamu hati hati. " jawab mami Ivy. Irene langsung mengambil berkas dan tasnya kemudian meninggalkan meja makan. Wanita itu memilih menaiki taksi hingga sampai di perusahaan Tyson.
Skip
"Silakan masuk nona, Tuan Jerome sendiri yang akan mewawancarai anda. " ujar Jeff dengan sopan.
"Iya terimakasih. " Irene masuk ke dalam ruangan Jerome. Wanita itu lantas duduk di kursi berhadapan dengan sang atasan.
"Ini berkas saya tuan Duda. " ujar Irene dengan wajah datar nya.
Jerome mendengus geli mendengar panggilan yang Irene sematkan padanya. Pria itu sedikit memberikan pertanyaan kemudian menunjukkan ruangan Irene yang ada di sebelahnya.
"Kau suka dengan ruangannya Rene, kalau kurang biar aku suruh orang untuk mengubah interiornya. " ujar Jerome.
"Enggak usah Pak, ruangan ini sudah cukup bagus. " Irene berjalan menuju ke meja kerjanya, dia langsung menaruh tasnya di atas meja.
Wanita cantik itu langsung mempelajari berkas berkas yang di tunjukkan Jerome padanya. Jerome sendiri duduk di kursi sambil bertopang dagu.
__ADS_1
"Jika kamu mau jadi istriku, kau tak perlu bekerja Irene baby! " ucap
Jerome sambil tersenyum.
"Tolong bersikaplah profesional Pak Jero dan hentikan memanggil saya dengan panggilan menggelikan itu. " tegas Irene. Irene kembali mempelajari berkas yang dia pegang.
Jerome menghela nafas panjang melihat sikap formal yang di tunjukkan Irene di depannya. Pria itu tahu jika Irene tengah menjaga jarak dari para pria termasuk dirinya sekarang. Dia langsung berlalu pergi dari ruangan Irene.
Irene menghela nafas panjang. Dia merasa lega setelah kepergian bos dudanya itu. Dia mengusap wajahnya kasar, kembali mempelajari berkas nya.
Irene begitu serius untuk bekerja dengan profesional dengan Jerome. Dia tak menggunakan masalah pribadi untuk mendekati sang atasan.
Satu jam berlalu, Irene memilih bangkit. Dia ke luar dari ruangan dan pergi ke pantry. Wanita itu lantas membuatkan dua kopi untuk dirinya dan sang atasan. Setelah selesai dia langsung membawanya ke dalam ruangan.
Di sisi lain Jerome begitu menikmati kopi buatan Irene yang cocok di lidahnya. Pria itu menaruh cangkirnya di atas meja kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Bagaimana? "
"Perusahaan tuan Henry telah bangkrut tuan namun pria itu masih memiliki beberapa persen sahamnya. " ujar Aska.
"Beli saja saham pria itu, tetap awasi apa saja yang di lakukan pria itu sekarang. " ujar Jerome dengan wajah datar nya.
Tut
Jerome menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku celana. Dia cukup puas dengan kabar yang di sampaikan anak buahnya. Dia tak perlu turun tangan, seperti janjinya jika dia akan menghancurkan pria bernama Henry itu.
"Semua pria tak sama dengan pria brengshake itu Irene, harusnya kau tahu itu. " gumam Jerome. Terdengar suara helaan nafas panjang ke luar dari bibirnya. Dia memilih stay di dalam ruangannya untuk sementara sampai mood Irene kembali bagus.
Jerome diam diam mengepalkan tangan. Irene nya telah berubah, ini semua karena perbuatan pria bedebah itu. Dia hanya bisa membalas pria itu dengan kejam agar Henry merasakan hancur seperti yang di rasakan Irene.
Tok
tok
Irene datang menemuinya, wanita itu memberitahu jika Klien ada yang ingin bertemu dengan Jerome.
"Kita ke ruangan meeting sekarang, kamu siapkan berkas nya. " ujar Jerome.
__ADS_1
"Iya Tuan. " Irene kembali ke ruangannya, dengan cekatan dia mengambil berkas yang di perlukan. Setelah itu dia langsung menyusul Jerome ke luar dan mengikutinya dari belakang.
Di ruangan meeting, Irene melakukan tugasnya dengan baik. Ketenangann nya dalam menyampaikan pendapat mendapat pujian dari para klien. Jerome tentu saja cukup senang dengan kepintaran Irene.