
Bagaikan mimpi buruk bagi Alicia. Hari ini hari pernikahan dirinya dengan lelaki yang tak dia cintai.
Kedua orang tua nya masuk ke dalam dan mengajak sang anak ke luar. Mereka berjalan menuju ke altar pernikahan.
Raut wajah Alicia tampak tak menunjukkan bahagia sama sekali. Dia merasa sangat tertekan dengan pernikahan yang tak dia inginkan ini.
"Nak Jarrel, Papi minta kamu jaga putri papi dengan baik. " ujar Papi.
"Iya Papi. " jawab Jarrel. Lelaki itu menggenggam tangan pengantin perempuannya. Kini mereka berdiri berhadapan dengan pendeta. Keluarga mereka turut hadir termasuk keluarga besar Cullen.
Alicia menghempas tangan Jarrel dengan kasar. Jarrel terkejut dengan aksi yang di lakukan calon istrinya barusan.
"Aku tidak menerima pernikahan ini, aku di paksa untuk memilih. " ungkap Alicia. Gadis itu juga membeberkan mengenai siapa calon suaminya di depan umum.
"Buat kamu tuan Jarrel, saya bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu. " geram Alicia. Alicia berlalu pergi, kedua orang tuanya menghadang.
Plak
Mami Serena menampar pipi putri bungsunya itu. Alicia tersenyum sinis, dia menatap tajam wanita yang melahirkan dirinya.
"Kenapa bukan mami saja yang menikah dengan pria brengshake seperti Jarrel. Pria yang suka mencelup lubang sana sini alias sasimo? " ujar Alicia dengan nada sarkasnya.
"Kamu kurang ajar Cia. " Mami Serena hendak melayangkan tangannya, namun tangannya tak sampai ke pipi Alicia. Dia mendapati seorang pria mencekal tangan sang mami.
Pria itu Steven Brawijaya. Tatapannya menghunus tajam kearah wanita paruh baya di depannya ini. Dia langsung menghempas tangan nyonya Serena.
"Ikut aku. " Steven membawa Alicia ke hadapan pendeta. Dia telah meminta bodyguard mencekal Jarrel.
"Nikah 'kan kami sekarang juga. " ujar Steven. Alicia membulatkan mata mendengar pengakuan Steven barusan. Pria itu menjelaskan siapa namanya dan mendesak pendeta untuk mengikuti perintahnya.
"Saudara Steven Brawijaya bersediakah engkau menerima nona Alicia sebagai istri Anda dalam keadaan apapun. "
"Ya saya bersedia. "
"Saudari Alicia bersediakah engkau menerima saudara Steven sebagai suami anda dalam keadaan
__ADS_1
apapun? "
Alicia terdiam, dia mengontrol dirinya. Dia berusaha tetap tenang kala mendengar suara makian dari sang mami.
"Ya saya bersedia. "
"Mulai sekarang kalian resmi menjadi suami istri. Pasangkan cincinnya, anda bisa mencium pasangan
anda. " ujar sang pendeta.
Ashley maju ke depan menyerahkan dua cincin pada mempelainya. Setelah itu dia menyaksikan Steven dan Alicia saling bertukar cincin. Jarrel sendiri tampak membulatkan mata, pria itu memaki semua orang yang ada di sana.
Alicia melenguh pelan kala suaminya menciumnya lebih dalam. Steven mengakhiri ciumannya, pria itu mengusap bibir sang istri. Suara tepuk tangan memeriahkan pesta.
Pesta saat ini di adakan di hotel megah. Ashley merasa lega, dia tak bisa membayangkan jika sang adik jadi menikah dengan Jarrel.
"Alicia. " Mami dan Papi tampak marah besar. Kedua paruh baya itu begitu kecewa dengan putri bungsu mereka itu.
"Terserah mami mau berkata apa, aku tak peduli. Lagipula bukankah mami menjual Cia hanya demi perusahaan papi? " ujar Alicia dengan wajah datar nya.
Alicia mengepalkan tangannya, gadis itu berusaha menahan tangisan nya. Steven mengeratkan pelukannya ke pinggang sang istri.
"Sebaiknya mami dan papi pulang saja, bukankah kalian kecewa sama Cia! "
Pengantin baru itu memilih menyalami para tamu yang memberikan selamat. Ashley dan lainnya turut memberikan selamat untuk Alicia. Kedua kakak adik itu saling berpelukan satu sama lain.
Kedua orang tua Alicia dan Ashley meninggalkan hotel. Ashley mengusap air mata sang adik, dia berusaha menyakinkan Alicia jika semuanya hanya akan baik baik saja.
"Kak Ash, sebenarnya kak Steven siapa? "
"Dia anak kedua dari keluarga Brawijaya dek sekaligus teman dari suami kakak. " ungkap Ashley sambil tersenyum.
Alicia mencuri pandang kearah pria yang menjadi suaminya sekarang. Steven kini tengah mengontrol dengan Felix, Finn dan lainnya. Terdengar suara helaan nafas panjang, entah apa yang akan terjadi kedepannya.
Pesta terus berlanjut hingga malam harinya. Gadis itu telah mengganti gaunnya dengan warna merah senada dengan tuxedo Steven.
__ADS_1
Alicia menyambut hangat uluran tangan sang suami. Kini mereka berdansa di tengah ruangan di iringi musik romantis.
"Maaf karena kamu harus terlihat kak Steven? " sesal Alicia.
"Tak masalah, lagipula aku juga tengah mencari istri. Tak perlu memanggilku kakak, usia kita tak terlalu jauh. " ungkap Steven.
Alicia mengangguk, keduanya kembali fokus berdansa. Beberapa menit berlalu mereka berhenti berdansa. Gadis cantik itu menemui kakak dan iparnya bersama sang suami.
Banyak hadiah yang dia terima dari saudara dan sepupu keluarga kakak iparnya. Meski bahagia namun di sisi lain dia telah membuat kecewa kedua orang tuanya. Alicia menghela nafas panjang, dia berusaha mengontrol dirinya tenang tetap tenang saat ini.
Larut malam pesta telah usai, Steven mengajak istrinya pulang. Keduanya masuk ke dalam mobil, mobil mewah itu melesat kencang meninggalkan hotel tempat pernikahan di adakan.
Mereka lekas turun dari mobil, Steven mengajak Alicia masuk ke dalam dan menunjukkan kamar mereka berdua. Keduanya lekas mengganti pakaian masing masing, kemudian merebahkan diri di atas ranjang.
Alicia masih belum terbiasa tidur dengan seorang pria. Gadis itu tidur membelakangi Steven, merasa lelah dia dengan mudahnya tertidur. Steven memperhatikan istrinya yang terlelap, dia menarik tubuh Alicia kemudian memeluknya dari belakang.
"Aaa.. " Alicia terjaga di tengah malam. Gadis itu tampak memimpikan hal buruk. Steven ikut terbangun mendengar teriakan istrinya.
"Ada apa hm? " tanya Steven.
"Aku mimpi buruk. " gumam Alicia. Dia membiarkan suaminya mengusap peluh di dahinya. Gadis itu langsung memeluk tubuh Steven dengan erat.
Steven membawanya berbaring, pria itu memeluk istrinya dengan erat. Berulang kali dia mencium kening dan bibir Alicia dengan lembut. Alicia sendiri membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami.
Keesokan harinya Alicia membuka matanya. Gadis itu menatap lurus kearah sang suami yang masih tertidur. Dia berusaha melepaskan diri namun Steven mempererat pelukannya.
"Morning Steven. " sapa Alicia kala suaminya membuka mata.
"Morning. " Steven mencium bibir istrinya dengan lembut.
"Biarkan aku mandi dulu. " ujar Alicia dengan canggung. Steven melepaskan pelukannya, gadis itu turun dari ranjangnya. Pria tampan iti menghubungi pelayan untuk mengantarkan pakaian istrinya.
Steven bergegas membuka pintu dan mengambil paperbagnya. Dia menaruh paperbag itu di atas ranjang, dia sendiri memilih mandi di kamar mandi lain.
__ADS_1
Setelah selesai berpakaian Alicia langsung turun ke bawah dan bergabung dengan suaminya di meja makan. Hanya obrolan kecil di antara pasangan suami istri tersebut. Selesai sarapan, Steven pamit pergi ke kantor. Pria itu lebih dulu mencium kening dan bibir Alicia sebagai vitamin paginya.
"Aku pergi dulu, nanti aku jemput kita belanja bareng. " ujar Steven yang di angguki Alicia. Dia mengantarkan suaminya hingga ke depan.