(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 53 Kepergian Venia


__ADS_3

Melihat keadaan Venia yang kembali kritis membuat Anna meradang. Wanita itu tampak kalut dan khawatir dengan keadaan kakak angkatnya itu.


Semua orang tampak menangis dan berharap ada keajaiban untuk Venia. Anna sendiri memperhatikan suaminya yang tampak mondar mandir.


Beberapa jam berlalu Dokter ke luar dengan raut wajah sedihnya. Sergio langsung menghampiri dan menanyakan perihal keadaan Venia saat ini.


"Maaf Tuan, saya telah berusaha sekuat mungkin namun takdir Tuhan berkata lain. Nyonya Venia tak bisa di selamatkan nyawanya. " ujar Dokter dengan nada penuh penyesalan.


Sontak tangis mereka langsung pecah. Sergio hatinya begitu hancur mendapati wanita yang dia cintai telah meninggalkan dirinya. Mereka langsung menengk jenazah Venia. Tak lama si kembar datang bersama kedua opa dan omanya.


Anna langsung memberitahu apa yang terjadi. Si kembar langsung menangis histeris, mereka segera melihat tubuh Venia yang terbaring kaku dan dingin.


Duka kini menyelimuti kediaman Cullen dan Dawson. Mereka semua ke luar dari ruangan dan membiarkan jenazah Venia di bersihkan. Tatapan Sergio tampak kosong, tubuhnya langsung luruh ke lantai.


Anna langsung mendekati suaminya, memeluknya dari samping. Sergio menangis dalam pelukan istri keduanya itu.


Skip


Di pemakaman


Semua orang kini menaruh buket bunga di atas makam mendiang Venia. Sergio dan si kembar tampak terpukul akan kepergian Venia gari ini. Mereka sangat sakit kehilangan wanita terpenting dalam kehidupan mereka bertiga. Anna berusaha memberikan kekuatan pada si kembar.


Para orang tua segera membawa pulang si kembar dengan perasaan hancur mereka. Anna sendiri memilih menemani suaminya, dia paham jika Sergio saat ini memerlukan teman untuk berbagi kesedihan.


"Kau lihat An, Venia justru memilih pergi dari pada bertahan di sisiku. Apa dia ingin membuatku larut dalam penyesalan. " gumam Sergio lirih.


Anna diam diam menangis, dia tak kuasa menahan sesak dalam dadanya. Dia merasa gagal membantu Venia untuk tetap bertahan menghadapi penyakitnya.


Sergio terus mencurahkan isi hatinya di depan makam mendiang istri pertamanya. Dia juga meminta maaf atas kesalahannya selama menjadi suami dari wanita hebat seperti mendiang Venia.


Sorenya mereka baru pulang ke Villa. Mengenai pemakaman Venia yang di tempatkan di negara Z, itu sesuai dengan permintaan Venia sendiri. Keduanya langsung pergi ke kamar si kembar.


"Bunda, bunda. Mommy jahat meninggalkan kami dan daddy. " ungkap Felix dengan mata sembabnya. Finn turut mencurahkan kesedihannya pada Anna. Anna tak kuasa menahan tangisnya melihat kerapuhan si kembar.

__ADS_1


"Coba kalian lupakan kepergian mommy Venia dengan pelan pelan ya sayang. " ucap Anna dengan lembut.


Felix menatap wajah bundanya dengan lekat. Entah apa yang di pikirkan bocah tampan itu saat ini.


"Apa bunda juga akan meninggalkan kami dan daddy? " ceplos Felix yang membuat Anna bungkam. Sergio bisa merasakan kesedihan yang di rasakan kedua putranya.


Anna sendiri langsung memeluk double F, menciumi kepala Felix dan Finn secara bergantian. Dia tak mampu menjawab pertanyaan yang nantinya justru akan menyakiti hati si kembar.


"Baiklah kalian mandi ya setelah itu istirahat bentar. " ucap Anna melepaskan pelukannya.


"Tapi Bunda belum menjawab pertanyaanku? " protes Felix.


"Bunda tak akan meninggalkan kalian. " jawabnya sambil tersenyum. Felix dan Finn segera pergi ke kamar mandi. Anna dan Sergio ke luar dari kamar si kembar dan kembali ke kamar mereka.



Anna mengambil ponselnya yang berdering. Dia tampak menghela nafas berat setelah tahu siapa yang menghubungi dirinya.


"Halo kak Devan! " sapa Anna dengan suara seraknya.


Tut sambungan terputus begitu saja. Dia menaruh ponselnya di atas meja kemudian duduk sofa sambil mengusap perutnya. Sergio pun langsung duduk di sebelahnya tanpa menoleh.


"Kau mau ingkar janji Anna, apa kamu lupa jika barusan kamu telah berjanji pada si kembar! "


"Tapi kak Devan enggak mungkin membawaku pergi, apa mas lupa bagaimana marahnya dia tadi pagi. " sela Anna.


Sergio menghela nafas berat, dia memilih mengalah dan tak melanjutkan obrolan keduanya.


Pria itu memilih pergi ke kamar mandi dan membersihkan diri di sana. Sementara Anna memilih di kamar mandi lain dan mengganti pakaiannya. Lalu dia kembali ke kamar, bersandar di headboard.


Pria tampan itu mengusap rambutnya mengunakan handuk. Sergio saat ini bertelanjang dada, kemudian naik ke atas ranjang dan berbaring telungkup di pangkuan Anna.


Merasa bosan, dia langsung bangun dan turut bersandar di headboard sambil mengusap perut Anna.

__ADS_1


"Mas, sebaiknya kita pisah kamar saja. Lagipula kak Venia tak akan marah lagi, dia telah tenang di atas sana dan tak merasakan sakit. " gumam Anna dengan mata menggembun penuh cairan bening.


"Hm aku setuju, anggap saja apa yang terjadi di antara kita tak ada apapun hanya sebatas orang tua calon bayi dalam perutmu. " ujar Sergio dengan nada datar nya.


Pria itu beranjak dari ranjang dan hendak ke luar. Anna membekap mulutnya lalu segera pergi ke kamar mandi.


Hoek


hoek


"Sayang kenapa tiba tiba mual sih. " gumamnya sambil membasuh bibir. Dia mengusap perutnya dan kembali mual mual. Sergio mengurungkan niatnya dan justru menghampiri Anna.


Setelah selesai Sergio langsung menggendongnya dan membawanya ke atas ranjang. Dia merebahkan istri mudanya ke atas ranjang.


"Apa masih mual? " tanya Sergio dengan nada datarnya.


"Sepertinya enggak mas. " jawab Anna sambil merengut. Dia sangat kesal, sepertinya calon bayinya ingin selalu dekat dengan Sergio. Sang calon bayi tak bisa di ajak kerjasama sepertinya.


Wanita itu meminta Sergio berbaring di sebelahnya. Keduanya mengobrol membahas tentang mendiang Venia. Anna memberikan sedikit nasehat pada sang suami. Wanita cantik itu memperhatikan wajah sendu suaminya. Dia paham akan perasaan Sergio saat ini yang begitu kehilangan.


"Mungkin raga kak Vee tak bisa kamu peluk lagi mas, namun kenangan kalian masih tersimpan dalam ingatan. Selain itu kamu juga bisa melihat foto mendiang kak Venia! " cetus Anna.


Sergio menghela nafas panjang, apa yang di katakan Anna ada benarnya. Anna sendiri memilih berbaring, berusaha menenangkan dirinya. Hari ini hari yang melelahkan untuk dirinya dan semua orang.


Dia mengerti jika tak mudah untuk melupakan seseorang yang di sayang dan berarti dalam hidup kita. Sama halnya saat dirinya dulu kehilangan kedua orang tuanya.


Dan malam harinya Anna berusaha memaksa suaminya untuk makan. Dia hanya sekedar mengingatkan tanpa berniat menggantikan posisi Venia di hidup Sergio. Keduanya kembali berdebat hingga menjadi tontonan gratis untuk si kembar.


"Untung kamu cuma suami sementara aku mas jika tidak aku mungkin sudah stress. " omel Anna.


"Hm. " gumam Sergio acuh. Anna memilih duduk dan melanjutkan makannya dengan tenang. Si kembar terkikik pelan melihat perdebatan bunda mereka dengan Daddy.


Selesai makan malam, Anna segera memanggil pelayan. Dia menemani si kembar di kamarnya sambil membacakan dongeng. Dari balik pintu Sergio memperhatikan mereka dalam diam.

__ADS_1


Merasa lama Sergio memilih pergi ke kamarnya duluan. Dia membiarkan Anna menghabiskan waktu bersama si kembar.


__ADS_2