
Sergio tengah menyiapkan pesta untuk meresmikan pernikahan dirinya dengan Anna. Kali ini dia akan memperketat pengamanan, demi pesta pernikahan dirinya dan Anna berjalan lancar hari ini.
Dan saat ini mereka berada di sebuah Gereja. Keduanya sama sama mengenakan pakaian pengantin. Sergio mengadakan pesta sederhana sesuai keinginan Anna.
Setelah mengungkapkan janji suci, mereka saling bertukar cincin. Sergio langsung mencium pasangannya di depan para keluarga. Anna pun tersenyum di depan para tamu yang hadir.
Tak jarang dia mendapatkan gunjingan dari orang lain mengenai status dirinya. Semua orang mengenal siapa Sergio Cullen dan mendiang Venia.
Para orang tua mereka langsung memberikan selamat untuk mereka berdua. Sergio mengusap perut sang istri lalu mengiringnya untuk duduk di sebuah kursi.
Nyonya Kinara menghampiri Anna, mengajaknya mengobrol. Wanita paruh baya itu telah mengikhlaskan kepergian putri sulungnya yang tiada.
"Panggil saja mommy seperti biasanya. Semuanya tak perlu saling menyalahkan apa yang terjadi, kepergian Venia sudah takdirnya. " gumam nyonya Kinara dengan bijak.
Anna terisak pelan mendengar nasehat dari nyonya Kinara padanya. Wanita hamil itu langsung memeluknya, dia jadi teringat dengan mendiang orang tuanya. Nyonya Kinara mengusap kepala Anna dengan lembut.
"Apa yang terjadi pada kamu, syukuri lah nak. Biarkan orang orang berkata apapun padamu, asalkan kamu berusaha menjalani takdirmu ini dengan lapang dada. " ucapnya dengan nada lembut.
Anna melepaskan pelukannya, dia menerima nasehat yang di berikan wanita paruh baya di depannya ini. Si kembar datang, memeluk sang bunda tak terlalu erat. Anna menghapus air matanya, tersenyum melihat kedua putra sambungnya menciumi pipi chubby miliknya.
"Sudah dong boys, giliran Daddy yang cium bunda kalian. " sahut Sergio namun di halangi si kembar. Suara tawa memenuhi obrolan mereka. Mereka semua lantas ke luar dari sana setelah acara selesai. Si kembar memilih ikut mobil opa dan oma.
Suami istri itu duduk di belakang, sopir menyalakan mobilnya lalu jalan. Sergio tak berhenti mengusap perut Anna, dia merasakan ada tendangan dari dalam perut sang istri.
"Oh ya mas, mendiang kak Venia sempat bilang agar aku mengunakan nama yang di berikan olehnya untuk baby kita nanti. " ungkap Anna.
"Kalau cewek Violet dan untuk cowok Samuel. " ungkap Anna sambil tersenyum lebar.
"Namanya sangat bagus sayang! " ucap Sergio.
Skip
__ADS_1
Mereka telah sampai di Villa, Sergio dengan sigap membantu istrinya turun. Keduanya langsung masuk ke dalam di susul yang lainnya. Sergio mengajak sang istri pergi ke kamar, mengganti pakaian mereka.
Anna saat ini mengenakan daster, menguncir rambutnya agar nyaman. Kini wanita itu pergi ke balkon, berdiri di sana sambil mengusap perutnya. Sergio datang, memeluknya dari belakang.
"Besok temani aku ya mas, aku ingin periksa kandungan. " pinta Anna mengingatkan.
"Iya sayang, besok akan ku temani! " gumam Sergio. Dia mengajak istrinya duduk di sofa, pandangan keduanya tetap lurus ke depan.
"Mas, aku kemarin sempat baca pesan masuk dalam ponsel kamu. Apa benar perusahaan kamu ada masalah hingga membuat kamu harus pulang ke negara X? " tanya Anna memastikan.
Sergio terdiam, dia menghela nafas berat lalu mengangguk. Anna menyentuh tangan suaminya, mengenggamnya dengan erat. "Kenapa kamu enggak terus terang saja mas Gio, perusahaan kamu jauh lebih penting dan kamu boleh pergi! " ucap Anna dengan lembut.
"Lalu bagaimana dengan kamu, aku justru tak tenang meninggalkan kamu sendirian di sini dan si
kembar? " ujar Sergio dengan tatapan khawatirnya.
percayalah! " Anna berusaha meyakinkan sang suami. Sergio terdiam, sepertinya dia memilih jalan tengah untuk masalah ini.
"Baiklah sebaiknya kita semua pulang saja ke negara X. Si kembar bisa melanjutkan sekolah mereka yang tertunda. " ujar Sergio dengan keputusan finalnya.
"Tapi mas? "
"Ini sudah keputusanku sayang. " sahut Sergio. Anna hanya pasrah akan keputusan suaminya. Sergio sendiri segera mengirim pesan pada Revan.
"Ya sudah aku mau memberitahu si kembar dan mommy daddy, kamu ikut tidak? " tanya Sergio. Anna menggelengkan kepalanya, Sergio menciumnya sebentar lalu ke luar dari kamar.
Dering ponselnya menyita perhatian Anna. Wanita itu meraih ponselnya yang tergeletak di sebelahnya.
From xxx xxx
__ADS_1
Wanita murahan sepertimu tak pantas bahagia Anna. **Kau hanya benalu, perusak rumah tangga orang.
Pelakor sepertimu tak pantas menjadi nyonya muda Cullen**!
Tubuh Anna langsung bergetar setelah membaca pesan berisi makian tersebut. Dia berusaha menghubungi nomor baru itu namun tak bisa. Anna langsung menaruh ponselnya begitu saja. Dia berusaha tak menggubris pesan itu namun tetap saja membuatnya kepikiran.
"Mas Gio sepertinya enggak perlu tahu hal ini. Cukup aku saja yang mendapatkan makian ini. " gumam Anna berusaha mengontrol dirinya agar tetap tenang.
Terdengar hembusan nafas berat ke luar dari bibirnya. Dia mengusap perut buncit nya dengan penuh kasih sayang. "Bantu bunda sayang, bantu bunda untuk tetap kuat dan bertahan! "
"Kamu juga harus selalu sehat dalam perut Bunda apapun yang terjadi! " gumam Anna. Wanita hamil itu kembali menatap lurus ke depan, menikmati keindahan di depannya.
Masih ada yang sayang padanya suami, kedua putra sambungnya dan kedua mertuanya yang peduli. Dirinya harus mampu melewati setiap kerikil yang menghadang.
Nasi telah menjadi bubur
Anna hanya perlu menguatkan mental di depan semua orang. Selain itu dia juga perlu menjaga kesehatan dirinya beserta calon bayi dalam perutnya.
"Aku enggak ingin membuat susah mas Gio, sudah cukup banyak masalah yang dia hadapi saat ini. " batin Anna dalam hati.
Meski dirinya percaya diri jika semuanya akan baik baik saja. Namun ternyata masih ada keraguan dalam hati Anna. Dia tak ingin mencemarkan nama baik keluarga sang suami karena kehadiran dirinya yang kembali muncul.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? " tanya Anna dengan gusar.
Wanita hamil itu kembali mengusap perut buncitnya penuh kasih sayang. bibirnya melengkung membentuk senyuman samar.
"Bunda sangat sayang sama kamu dan kedua kakak kembarmu. Apapun yang terjadi ke depannya nanti, tolong jangan benci bunda sayang saat kamu lahir kelak. " gumam Anna. Wanita itu terus berbicara dengan calon bayinya, Anna kembali merasakan pergerakan dari dalam perut.
Entah apa yang Anna rencanakan saat ini. Namun yang pasti kelak akan terjadi hal besar yang terjadi dalam kehidupan keluarga kecilnya. Dia begitu bahagia memiliki keluarga seperti sekarang, bisa mengenal mendiang Venia, Sergio dan keluarganya. Anna bisa merasakan hangatnya dekapan seorang ibu, meski hanya seorang ibu mertua.
"Terimakasih kak Vee, aku bisa merasakan kasih sayang seorang Ibu di sini. " gumam Anna menatap kearah langit yang tampak cerah hari ini. Wanita hamil itu bangkit dengan hati hati, mengambil ponselnya lalu menaruhnya di nakas. Dia memilih ke luar dari kamar, menuruni tangga dengan hati hati.
Anna berjalan menuju ke ruang tamu bergabung dengan yang lainnya di sana.
__ADS_1