
Sore harinya tepat pukul lima sore terjadi keributan di kediaman Sergio. Sergio meminta istri dan kedua anaknya berada di dalam kamar.
Bug
Pria itu menghajar Devan, meluapkan emosinya selama ini. Revan tentu saja berusaha menenangkan sang kakak ipar. Sergio mendorong Revan, dia kembali menghajar Devan dengan puas.
"Kehancuranmu sekarang, ini semua karena ulahmu sendiri Devan. Pakai otakmu itu sebelum berniat mengusik orang lain. "gumam Sergio menjeda ucapannya.
"Anna istriku sekarang, aku tak akan membiarkan siapapun menyakitinya termasuk pria brengshake
sepertimu. " ucap Sergio dengan tatapan penuh amarah menatap kearah Devan yang terkapar. Tak lupa dia juga membuat tangan Devan retak. Asisten Devan datang dan membawa pergi tuannya itu.
Devan langsung di larikan ke rumah sakit oleh asisten Devan. Sergio tentu saja tak peduli jika harus berhadapan dengan orang tua pria brengshake itu. Dia memilih menenangkan dirinya di sofa.
Revan menghela nafas berat, duduk berhadapan dengan kakak iparnya itu. Dia mencoba meredakan kemarahan Sergio saat ini.
"Seharusnya kau cukup menjebloskan pria itu ke dalam penjara. Kejadian tadi justru akan mengancam dirimu Gio. " ujat Revan sedikit memberi nasehat.
"Aku tak peduli Van, pria sialan itu memang perlu di beri pelajaran atas ulahnya sendiri. " sahut Sergio dengan wajah santainya. Revan hanya bisa menghela nafas panjang, melihat kekeras kepalaan Sergio.
Di rumah sakit
Orang tua Devan dan Clara datang, mereka semua tampak panik dan cemas dengan keadaan Devan sekarang. Asisten dari Devan menjelaskan yang terjadi membuat ketiganya marah besar.
"Ini pasti ulah Sergio Papi, Papi harus menuntut pada Sergio atas keadaan Devan saat ini . " ujar Mami dengan nada geramnya.
"Clara setuju dengan ide mami. " sahut Clara sambil tersenyum. Papipun mengangguk setuju, mereka begitu cemas menunggu dokter ke luar.
Dua jam kemudian
Dokter ke luar dan memberitahu keadaan Devan yang cukup parah. Mami tampak menangis, Clara tentu saja terkejut dengan penjelasan dokter.
__ADS_1
"Tangan tuan Devan mengalami retak nyonya dan perlu waktu tiga sampai enam minggu untuk penyembuhannya " jelas Dokter panjang lebar.
Tak lama Suster ke luar, mendorong brangkar Devan di bantu petugas lain menuju ke ruangan VIP. Mami langsung menangis dalam dekapan suaminya. Mereka semua langsung menyusul dan masuk ke dalam ruangan Devan.
Clara langsung mendekati Devan, dia tentu saja menangisi keadaan sang suami saat ini. Namun di balik tangisannya, diam diam dia menyeringai miring. Wanita itu akan memanfaatkan keadaan panas antara pihak mertuanya dengan keluarga Cullen.
Dia kembali menampilkan wajah sedihnya di depan sang mertua. Clara untuk saat ini akan berperan sebagai istri dan menantu yang patuh dan bisa di andalkan.
"Mami, Papi, mengenai keluarga Cullen biar aku yang mengurusnya. Aku akan membuat mereka merasakan hal yang sama di rasakan Devan saat ini. " ujar Clara dengan tatapan penuh amarah.
"Baiklah sayang, papi serahkan urusan ini sama kamu. " ujar Papi pada sang menantu. Clara mengangguk, dia kembali fokus pada suaminya yang terbaring lemah di ranjang pasien.
Kedua orang tua Devan memilih duduk di sofa. Clara menarik kursi, duduk diam memperhatikan sang suami yang belum sadarkan diri. Diam diam dia mengeluarkan ponselnya, dia segera mengirimkan chat pada seseorang.
Beberapa menit berlalu, Devan membuka kedua matanya. Mengedarkan sekelilingnya kemudian menyentuh tangannya yang di gips.
"Awh Ssh. " Devanpun meringis kesakitan kala hendak menggerakkan tangannya. Pria itu kini kembali berbaring di atas ranjangnya.
"Sayang kamu jangan bangun dulu, tangan kamu retak dan ini semua ulah Sergio. " ujar Clara. Devan terdiam, dia teringat dengan perkelahiannya dengan Sergio tadi.
Clara juga mengatakan penjelasan dokter tadi pada sang suami. Devan tampak jelas merasa marah dengan keadaan dirinya saat ini. Untuk saat ini dia perlu menyembuhkan tangannya lebih dulu setelah itu membuat perhitungan dengan Sergio.
"Aku enggak mau makanan rumah sakit Cla, bisakah kamu membelikan makanan di restauran untukku sayang? " pinta Devan.
"Baiklah aku akan ke luar. " Clara lekas bangkit, dia mencium suaminya lalu ke luar dari ruangan. Mami datang mendekati sang anak, wanita paruh baya itu duduk di sebelah Devan.
Mami merasa kasihan dengan keadaan sang anak saat ini. Dia menghela nafas panjang, sedikit memberikan nasehat pada sang putra.
"Aku akan membalas Sergio nanti saat tanganku sudah sembuh
Mam. " gumam Devan.
__ADS_1
"Mami sudah pernah bilang, berurusan dengan Anna hanya akan menjadi sial. Bagaimana bisa kamu dulunya tergila gila pada perempuan rendahan itu Devan. " ungkap Mami dengan nada kesalnya.
"Stop Mi, jangan mengungkitnya terus menerus. " sahut Devan dengan nada kesalnya. Mami berdecak pelan hingga Clara kembali. Wanita itu membiarkan sang menantu menyuapi Devan makan.
Mami dan Papi pamit pulang. Selesai menyuapi sang suami, Clara terus memberikan kata provokasi agar Devan semakin membenci sosok Anna dan Sergio.
"Kamu tenang saja sayang, aku pasti akan membantu kamu menghancurkan kehidupan Anna dan suami wanita itu nantinya. " ujar Clara sambil tersenyum.
"Kau yakin? " tanya Devan memastikan istrinya. Clara langsung mengangguk mantap sebagai jawaban. Devan tentu saja sangat senang, saat ini dia memiliki partner yang tak lain istrinya untuk menghancurkan kehidupan Anna.
Clara membantu suaminya bersandar di headboard ranjang. Setelah itu dia kembali duduk di kursi. Keduanya tengah merencanakan sesuatu yang licik untuk membalas Sergio dan Anna.
"Oh ya sayang, aku telah meminta seseorang untuk menjadi penengah dari rencana kita. " ucap Clara dengan seringai liciknya.
"Siapa dia? " tanya Devan dengan kening berkerut. Diapun begitu penasaran dengan siapa yang di maksud oleh Clara.
"Nanti kau pasti akan tahu. Besok aku akan mengajaknya bertemu denganmu dan kita susun rencana dengan matang. " pungkas Clara. Devan mengangguk saja, dia setuju dengan ide yang di berikan sang istri.
Devan tak sabar menyaksikan kehancuran keluarga Cullen. Anna harus merasakan apa yang dia rasakan akibat kebodohan wanita itu yang memilih Sergio. Jika dirinya tak bisa memiliki Anna, Sergio juga tak akan bisa.
"Lihat saja Anna, aku tak sabar membayangkan jika kamu putus asa dan frustrasi. Tak ada pilihan membuat kamu memohon padaku suatu saat nantinya. " batin Devan dalam hati.
Devan kembali berbaring dengan hati hati. Pria itupun memejamkan mata dan tak lama terlelap. Clara yang melihat suaminya tidur, memilih beranjak dan beralih duduk di sofa. Wanita cantik itu mengeluarkan ponselnya, lalu mengirim pesan pada
seseorang. Entah apa yang membuatnya senang, tapi yang pasti Clara seperti merahasiakan sesuatu dari Devan.
Me :
Aku tunggu nanti malam, akan ku pasti kan malam nanti kau akan puas baby!
Setelah selesai dia langsung menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas.
__ADS_1