
Sementara itu di Negara X
Winna tengah berbincang dengan Revan suaminya. Wanita itu tentu saja meluapkan unek unek nya mengenai kehadiran Anna dalam rumah tangga sang kakak.
"Kapan kita akan ke sana Boo, aku ingin ke makam kak Venia? " desak Winna pada sang suami.
"Sabar sayang, aku mau menyelesaikan pekerjaanku dulu di sini. " gumam Revan sambil mengusap kepala istrinya.
"Ya sudah gimana kalau aku ke sana sendirian aja? " celetuk Winna yang mendapat pelototan dari sang suami. Wanita hamil itu langsung cemberut masam. Revan mengangkat istrinya je atas pangkuan. Dia langsung menciumi wanitanya dengan gemas. Semenjak hamil Winna tambah banyak bicara dan selalu mengidam sesuatu yang aneh.
"Sayang mengenai kehadiran Anna, semuanya sudah terjadi dan kamu tak perlu mengjudgenya lagi. " tegur Revan dengan bijak.
"Maafkan aku Boo. " ucap Winna dengan sungguh sungguh. Revan menciumnya bibirnya lembut, menyentuh perut sang istri dengan lembut. Usia kandungan Winna saat ini memasuki bulan ketiga.
Revan langsung bangkit, membawa istrinya menuju ke kamar. Wanita itu mengalungkan tangannya ke leher sang suami. Keduanya masuk ke dalam kamar, pria tampan itu membaringkan wanitanya di atas ranjang. Tak lupa Revan juga mengunci pintu kamar mereka.
Tak lama terdengar suara suara dari dalam kamar mereka. Saat ini keduanya tengah berbagi keringat di atas ranjang.
Huh
Winna bersandar di dada sang suami. Tangan Revan mengusap perut wanitanya, di mana calon buah hati mereka tumbuh di sana. Keduanya kini tampak kelelahan namun sekaligus puas.
Wanita hamil itu mencium sudut bibir suaminya. Dia begitu bahagia memiliki suami yang pengertian. Revan mengerutkan kening, melihat istrinya terus menerus menatap dirinya. "Sayang apa kamu baru sadar jika suamimu ini begitu tampan dan perkasa? " ucap Revan dengan rasa percaya dirinya.
"Iya aku baru sadar. " Winna tersenyum penuh arti. Tangannya masuk ke dalam selimut. Revan menggeram rendah, dia merasa istrinya semakin nakal. Dia menyibak selimut dan kembali menghukum istri cantiknya.
Terdengar suara pekikan namun Revan mengabaikannya. Dia begitu candu akan rasa nikmat yang dia dapatkan dari sang istri.
Selang beberapa saat kemudian, Revan membawa istrinya ke kamar mandi. Mereka di d lama sana hanya mandi tanpa melakukan aktivitas plus plus. Setelah selesai keduanya ke luar dan memakai pakaian. Revan dengan sigap membantu istrinya mengeringkan rambut.
"Done! " Revan mengecup pipi chubby istrinya, lalu mengajaknya ke luar. Dia meminta pelayan membawakan makanan ke ruang tengah. Lalu pria itu memapah wanitanya menuju ke ruang tamu.
__ADS_1
Winna sendiri mencari posisi nyaman bersandar di sofa. Dia kembali mengobrol dengan sang suami mengenai rencana mereka nanti untuk ke negara Z. Pelayan datang membawakan pesanan mereka setelah itu pamit ke belakang.
Dering ponsel milik Revan berbunyi, pria itu langsung mengeluarkan dari saku celana.
"Ya Halo kak? " ujar Revan pada Sergio.
"Aku ingin kamu memberikan ancaman untuk Devan Arbian
Sastra. " ujar Sergio. Pria itu langsung menjelaskan apa yang terjadi pada si kembar kemarin.
"Oke. " Revan langsung menghubungi asistennya untuk membatalkan niatnya bekerja sama dengan perusahaan Sastra corp.
Setelah selesai Revan menyimpan kembali ponselnya dalam saku. Dia memberitahu istrinya mengenai apa yang di lakukan Devan.
Winna tentu saja terkejut dan hampir menyalahkan Anna namun Revan memperingati nya.
"Aku bilang jangan menyalahkan siapapun, Anna juga belum tentu menginginkan hal ini terjadi. " tegas Revan berusaha netral. Winna menghela nafas panjang, berusaha menenangkan diri. Dia berdoa semoga masalahnya cepat selesai.
"Satu minggu lagi kita akan ke sana sayang, bersabarlah! " ucap Revan dengan lembut.
"Iya Boo, aku paham kalau kamu sangatlah sibuk saat ini. " ujar Winna merasa bersalah pada sang suami. Revan kembali mengecup lembut kening sang istri.
"Ayo makan lagi sayang biar gemuk kayak sapi. " ceplosnya yang mendapat geplakan dari istrinya. Winna tentu saja tak terima dirinya di samakan dengan sapi. Revan tergelak kencang melihat istrinya yang tampak kesal.
Diapun menciumi wajah chubby wanitanya dengan gemas. Winna mendengus pelan, dia kembali meminum jusnya dan mengabaikan sang suami. Mami dan Papi datang berkunjung ke penthouse mereka.
Winna langsung bangkit, memilih duduk di sebelah mami mertua. Mami tampak khawatir melihat menantunya menangis.
"Kenapa nak? "
"Mi, Revan menyamakan aku dengan sapi. " adunya dengan bibir manyun. Mami langsung melirik putranya, menatap tajam kearah Revan. Revan langsung nyengir dan meminta maaf.
__ADS_1
"Aku 'kan cuma bercanda Mami! " elaknya. Papi langsung memukul kepala sang anak agar berhenti bercanda. Winna diam diam menjulurkan lidah kearah sang suami, berniat mengejek Revan.
Revan berdecak pasrah, kala dirinya di jahili istri seksinya itu. Winna tertawa pelan melihat wajah pasrah suaminya. Mami menyerahkan puding rasa leci cocopandan buatannya pada sang menantu.
"Cobalah sayang! "
"Iya Mi! "
"Awas kayak sapi. " cetus Revan dengan senyum jahilnya.
"Mami, Revan mi. " rengek Winna pada sang mertua.
"Revan ya ampun, biarkan istrimu makan dengan tenang. " omel Mami pada putranya. Revan tergelak kencang, dia sangat suka menjahili bumil.
Winna menghentikan makannya setelah perutnya terasa kenyang. Dia mengusap perutnya, mengadu kelakuan Revan pada calon buah hati mereka. Papi sendiri hanya terkekeh melihat kelakuan putra dan menantunya itu.
"Boo, sebaiknya nanti malam enggak usah minta jatah sampai satu minggu. Aku lagi malas dan gak mood! "
"What?? "
"Sayang jangan dong, aku minta maaf. " sesal Revan. Mami tertawa melihat wajah nelangsa anaknya. Winna sendiri hanya cuek, dia memilih mengobrol dengan mami dengan santai.
Tubuh Revan seketika lemas, Papi hanya bisa menepuk pundak anaknya dan memberi semangat. Revan langsung merajuk, dia berharap sang istri mau membujuknya. Dia terus menatap kearah Winna namun wanita hamil itu tak menoleh sama sekali.
"Benar benar hari yang apes untukku. " gerutu Revan kesal. Dia memilih menyodorkan potongan puding ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya. Dia terus melirik kearah sang istri yang tertawa bersama sang mami.
"Di ngambek beneran sama aku! "
Namun Revan tak menyerah begitu saja. Dia tengah memikirkan cara agar sang istri mau memaafkan dirinya. Winna sendiri sesekali melirik suaminya, dia berusaha menahan tawa melihat wajah memelas sang suami.
__ADS_1
"Salah siapa nyamain aku dengan sapi! " batin Winna dalam hati. Dia masih dongkol dengan kelakuan jahil suaminya itu. Winna menghela nafas panjang, melanjutkan obrolannya dengan mami dan papi. Revan sendiri merasa di abaikan oleh keluarganya.