(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 82 Season 2 Chap 15 Firasat seorang ibu


__ADS_3

Nyonya Ivy merasakan sesuatu telah terjadi pada putrinya. Wanita paruh baya itu memilih mengatakannya pada sang suami.


"Pi, sebaiknya kita temui Irene sekarang. Entah kenapa perasaan mami mengatakan jika Irene tidak baik baik saja sekarang. " ungkap Mami Ivy pada sang suami.


"Mungkin itu hanya perasaan mami saja mi. " sahut Papi dengan tenang.


Mami Ivy kembali diam, dia menyambar ponselnya kemudian menghubungi sang anak. Wanita itu tak bisa hanya tinggal diam saja, dia kembali membujuk suaminya.


Papi Trevor langsung menghubungi sang asisten. Mereka segera bangkit dan bersiap siap. Setelah selesai keduanya lekas ke luar dari mansion. Sopir menaruh koper mereka kemudian melajukan roda empatnya.


Skip setelah menempuh jalur langit, pasangan suami istri itu sampai di kota Casillas, negara Y. Keduanya di antar sang sopir menuju ke penthouse milik sang anak.


Tiba di sana mereka langsung ke luar dan mengetuk pintu. Tak lama seorang pelayan ke luar, mengatakan keberadaan Irene saat ini.


Kedua paruh baya itu langsung pergi ke rumah sakit. Mami Ivy tampak menangis histeris dalam pelukan sang suami.


rumah sakit


Ruang rawat Irene



Keduanya langsung menuju ke ruangan sang anak. Mereka masuk ke dalam dengan perasaan hancurnya.


"Irene. " Mami Ivy begitu hancur melihat putrinya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Irene membuka matanya, terkejut melihat kehadiran orang tuanya.


"Mami, Papi. " Tangis wanita itu langsung pecah. Mami memeluk erat tubuh sang anak. Irene meminta maaf pada kedua orang tuanya. Papi Trevor tampak hancur mendapati putrinya dalam keadaan rapuh seperti ini.


Beberapa menit kemudian mami Ivy baru melepaskan pelukannya. Dia mengusap kepala putrinya dengan mata berkaca kaca.


"Katakan siapa pria itu nak? " tanya Mami Ivy pada sang anak. Irene menangis tergugu mendengar pertanyaan sang anak. Papi mengusap pundak sang istri agar tak bertanya apapun mengenai siapa pria yang menghancurkan hidup anaknya.


"Dia Henry Mi, tapi aku tak mengatakan padanya mengenai janin dalam perutku. " gumam Irene. Wanita hancur akan janin nya yang telah gugur, padahal dia telah menerima janin itu sepenuh hatinya.

__ADS_1


Mami dan Papi hanya bisa saling melirik satu sama lain. Irene kembali berbaring, mengusap air matanya. Sekali lagi dia meminta maaf pada kedua orang tuanya.


"Kenapa kamu tak bilang pada kami nak, mami dan papi ini orang tua kandung kamu sayang. " Mami Ivy menangis sambil menatap sendu kearah putrinya.


Hanya suara isak tangis yang terdengar. Papi menghela nafas panjang, berusaha menghalau rasa sesak dalam dadanya. Pria paruh baya itu memilih ke luar, dia menghubungi salah satu asistennya.


"Cepat cari tahu pria bernama Henry yang berada di kota ini secepatnya. " ujar Tuan Trevor dengan tegas.


Pria paruh baya itu menyimpan ponselnya dalam saku. Dia mengusap wajahnya kasar, rasanya tak sanggup melihat putrinya menderita.


Suster masuk ke dalam ruangan mengantarkan makanan. Mami Ivy langsung sigap mengambilnya, mulai menyuapi sang anak.


"Sayang, ayo makan dulu agar kondisi kamu cepat pulih. " bujuk Mami Ivy dengan sabar.


"Aku enggak mau makan mi. " tolak Irene. Mami Ivy menghela nafas panjang, berusaha membujuk sang anak dengan sabar.


Irene menatap lekat wajah sang mami, lagi lagi dia hanya bisa menyusahkan kedua orang tuanya. Sebagai seorang anak, Irene merasa tak berguna dan hanya bisa membuat nama keluarga tercemar.


"Pria sialan itu harus bertanggung jawab sama kamu Irene. " ujar mami. Irene menggeleng, mana mungkin pria brengshake seperti Henry mau bertanggung jawab padanya. Dia masih ingat bagaimana pria itu merendahkan dirinya dengan kejam.


"Please mami, aku tak ingin membicarakan pria itu. " ujar Irene dengan wajah datar nya.


"Maafin mami sayang, ya sudah kamu istirahat saja ya. " sahut Mami yang di angguki Irene. Dering ponselnya menyita perhatiannya, Mami langsung pamit ke luar dari


ruangan sang anak.


Sore harinya seorang pria masuk ke dalam ruangan Irene. Irene menoleh, raut wajahnya tetap datar dan tak ada senyum di bibirnya.


"Kau butuh bantuan Rene? " tanya Pria bernama Jerome Shankara Tyson, putra dari Winna dan Revan.


"Tak perlu, ini bukan urusanmu Tuan Jerome! "


Jerome menarik kursi, menatap lekat wanita di depannya ini. Entah apa yang tengah dia pikirkan sekarang. Dia langsung memberitahukan informasi mengenai Henry pada Irene.

__ADS_1


Irene hanya diam saja setelah mendengar informasi mengenai Henry. Tangannya terkepal kuat,sepertinya dia perlu membalas dendam pada pria brengshake seperti Henry.


"Aku ada tawaran bagus untukmu! " ujar Jerome sungguh sungguh.


"Tawaran apa? "


"Menikah denganku, lagipula banyak wanita di luaran sana ingin menikah dengan duda tampan sepertiku Irene. " ucap Jerome dengan narsis.


Irene merotasi bola matanya mendengar pernyataan Jerome barusan. Jerome terkekeh pelan melihat ekspresi yang di tunjukkan Irene saat ini.


Wanita cantik itu mengambil bantal kemudian melemparnya. Jerome dengan sigap mengambilnya lalu menaruhnya di belakang kepala Irene.


"Aku tidak akan mempan dengan gombalan recehmu itu Tuan duda. " ketus Irene.


"Haha baiklah, bagaimana kalau aku mencium bibir nakalmu itu dan membuktikannya. " cetus Jerome dengan seringai liciknya.


"Bastard. " maki Irene jengkel akan kelakuan Jerome. Tawa Jerome langsung pecah seketika. Irene mendengus jengkel, moodnya naik turun jika berhadapan dengan pria seperti Jerome.


Wanita cantik itu kembali berbaring, dia berbaring membelakangi Jerome. Tak lama terdengar suara dengkuran halus. Jerome lekas bangkit, mengusap wajah Irene dengan lembut sambil tersenyum.


"Tanpa kau minta, aku akan membalas rasa sakit hatimu pada pria brengshake itu Rene! " batin Jerome dalam hati. Pria tampan dengan rambut sedikit panjang itu mencium kening Irene dengan lembut.


Jerome kembali menegakkan tubuhnya, dia memilih duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Saat ini dia tengah menjalankan rencananya untuk menghancurkan Henry. Sampai kapanpun dia tak akan pernah rela jika pria yang menyakiti Irene bahagia dengan mudahnya.


"Aku harap kamu mau meminta tolong padaku Irene. " gumam Jerome. Pria itu menginginkan Irene bergantung padanya, dia sangat tahu jika perasaan Irene begitu hancur dan rapuh saat ini.


Setiap air mata yang di keluarkan Irene harus di rasakan oleh Henry. Jerome tentu saja akan membuat Henry hancur berkeping keping nantinya. Terdengar suara helaan nafas panjang, dia berusaha mengontrol dirinya agar tak lepas kendali.


Jerome segera menghubungi asistennya untuk mengawasi Henry ke manapun. Dia ingin tahu apa saja yang tengah si brengshake itu lakukan saat ini.


"Ini awal permainan, tunggulah pembalasan dariku Henry. Pria brengshake sepertimu tak pantas mendapatkan kebahagiaan! "


"Cih! "

__ADS_1


__ADS_2