
Esok harinya Sergio mendapati sebelah sisinya kosong. Pria itu menghela nafas berat, dia mengusap wajahnya kasar. Pria itu segera turun dari kamar, bergegas pergi ke kamar mandi.
"Vee siapkan pakaian kerjaku. " teriak Sergio memanggil nama sang istri.
Beberapa menit berlalu dia ke luar, tak mendapati sosok istrinya masuk ke dalam kamar mereka. Dia teringat kejadian kemarin membuatnya merutuki kebodohannya. Sergio segera mengenakan pakaiannya, lalu ke luar dari kamar. Pria tampan itu pergi ke kamar sebelah.
Tok
Tok
"Vee ke luar 'lah aku ingin bicara dengan kamu! "
Hening tak ada sahutan apapun dari dalam kamar.
"Aku akan semakin marah jika kamu tak ke luar Vee! " tegas Sergio. Merasa tak mendapat jawaban pria itu masuk begitu saja ke dalam kamar istrinya. Sergio mencari kemanapun sosok istrinya namun tak ada tanda tanda Venia di dalam kamar mandi.
"Vee. " gumamnya panik. Pria itu membuka lemari pakaian, matanya membulat melihat sebagian pakaian istrinya tak ada. Hanya pakaian yang dia berikan masih tergantung rapi.
Deg
Sergio menepis pemikirannya mengenai istrinya yang pergi dari sisinya. Diapun mencari petunjuk di sana hingga manik matanya tertuju pada selembar surat di atas meja. Sergio langsung mendekat, mengambil surat itu dengan tangan bergetar.
Untuk suamiku
Maafkan aku mas, aku memilih menyerah. Suamiku sendiri tak percaya dengan kejujuran yang aku katakan. Aku memutuskan ke luar dari kehidupan kamu membawa si kembar dalam perutku. Untuk apa kita bersama jika kepercayaan di antara kita masihlah tipis. Jangan mencariku mas, biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri. Mulai sekarang aku membebaskan kamu mas Gio, tunggu saja surat cerai dariku.
From Venia.
Tes
Tes
Sergio langsung menangis setelah membaca surat dari istrinya. Tubuhnya langsung luruh ke lantai. Hatinya hancur mendapati istrinya pergi meninggalkannya, ini semua karena kebodohan dirinya.
"Kenapa kamu pergi begitu saja Vee, kenapa. " gumam Sergio dengan perasaan hancurnya. Pria itu langsung bangkit, dia segera memeriksa cctv melalui ruangan kerjanya.
__ADS_1
Melihat dan mendengar percakapan istrinya dan Winna melalui rekaman cctv membuat pria itu hanya bisa menyesal. Sergio begitu marah pada dirinya sendiri.
"Maafkan aku Vee, maaf. " gumam Sergio dengan nada penyesalan. Dia menangis tergugu mendapati wanita yang dia cintai telah pergi meninggalkannya. Hidupnya kini hancur sekarang di karena 'kan kebodohannya.
Sergio lantas menghubungi anak buahnya untuk menyebar. Dia menyuruh pengawal mencari keberadaan sang istri.
Tok
Tok
"Permisi tuan, di bawah ada Tuan dan nyonya Dawson. " ujar pelayan di luar pintu ruangan kerja majikannya.
Sergio segera menyalin rekaman tersebut ke dalam ponselnya. Setengah jam berlalu pria itu baru ke luar dan menemui kedua mertuanya. Pria itu tiba di ruang tamu dan langsung duduk berhadapan dengan mertuanya.
"Untuk apa mommy dan daddy ke sini? " tanya Sergio dengan wajah datarnya.
"Tolong nasehati istrimu untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. " ujar Mommy Kinara pada sang menantu.
"Kalau mommy hanya ingin mengatakan hal itu sebaiknya kalian pergi. Dan aku harap kalian tak menyesal setelah ini. " ujar Sergio mengusir kedua mertuanya dengan halus. Nyonya Kinara dan Tuan Rama mengerutkan kening tak paham dengan maksud menantu mereka.
Bug
Sergio menggebrak meja di depannya. Dia tak hanya marah pada dirinya sendiri, Sergio juga marah pada kedua mertuanya. Pria itu benar benar menyesali perbuatannya yang bodoh hingga membuat istrinya pergi.
Pria tampan itu mengeluarkan ponselnya. Dia kembali menangis dalam diam sambil memandang foto istrinya yang ada di dalam ponsel. Sergio kembali ke kamar, dia mengambil sesuatu dari dalam laci meja nya.
Srak
Srak
Dia merobek perjanjian di antara dirinya dan Venia lalu membuangnya ke tong sampah. Sergio tak menginginkan hal ini terjadi namun nasi telah menjadi bubur. Saat ini dia berharap pada pengawal bisa menemukan keberadaan istrinya itu.
Drt
Drt
__ADS_1
Sergio langsung mengeluarkan ponselnya. Dia tampak tak sabar menantikan kabar mengenai istrinya.
"Bagaimana? "
"Maaf tuan, akses mengenai nyonya Venia sepertinya di tutup dengan sengaja dan kami tak bisa melacaknya. " ujar salah satu pengawal kiriman Sergio.
Sergio langsung mengumpat, dia meminta mereka untuk terus berusaha. Pria itu mematikan sambungan begitu saja. Dia mengambil kalung dan cincin yang di letakkan sang istri di dalam laci. Hatinya hancur melihat bagaimana wanitanya menginginkan perpisahan.
"Aku enggak mau berpisah denganmu Vee, maafkan atas kebodohan aku yang tak percaya dengan kamu. Harusnya aku melihat cctv terlebih dulu bukannya malah menuduh kamu sayang! "
Sergio hanya bisa menangisi penyesalannya. Dia merasa sangat bersalah pada sang istri saat ini.
Di belahan negara lain siang itu Venia duduk di balkon sambil menikmati pemandangan. Wanita hamil itu mengusap perutnya, wajahnya tampak sembab setelah menangis sejak tadi. Perpisahan ini memang begitu menyakitkan untuknya sekaligus terbaik baik semua orang terutama Sergio.
"Seperti yang di minta Winna, aku telah mengembalikan Sergio padanya. Aku tak ingin berhubungan dengan orang orang yang menyakitiku terus
menerus. " gumam Venia lirih.
Venia mengulas senyumnya merasakan pergerakan dari dalam perut. Mungkin si kembar merasakan apa yang di rasakan mommy mereka. Dia buru buru menghapus air matanya, Venia tak ingin memikirkan sesuatu yang justru membuatnya stres.
Cklek
Bibi Rose masuk ke dalam kamar. wanita paruh baya itu mengantarkan makanan untuk sang keponakan. "Sayang ayo makan dulu Vee, kamu dan bagimu perlu nutrisi. " cetus Bibi Rose.
"Aku enggak selera Bi. " tolak Venia dengan halus.
"Jangan egois nak, pikirkan si kembar dalam perut kamu. Kau harus jaga kesehatan kamu dan calon bagimu. " tegas Bibi yang segera menyuapi sang keponakan.
Venia mengalah, dia menerima suapan demi suapan dari sang bibi. Selesai makan siang, bibi Rose menyerahkan ponsel baru pada sang keponakan.
"Ini ponsel baru kamu dan di dalamnya sudah ada nomor kamu, paman dan bibi. " ucap Bibi Rose sambil tersenyum.
"Terimakasih bibi, maaf Vee merepotkan paman dan bibi. " ujarnya sambil tersenyum tipis. Wanita hamil itu menerima ponsel barunya. Bibi Rose sendiri mengusap lembut kepala sang keponakan.
Mereka mengobrol sebentar lalu Bibi bangkit dan ke luar dari kamar sang keponakan. Venia sendiri kembali menatap lurus ke depan menikmati suasana baru di tempat tinggalnya. Perempuan itu memilih memutar musik yang mewakili perasaannya saat ini.
__ADS_1
"Welcome to the new life Venia! " gumamnya pada diri sendiri.