(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 39 Rencana Awal


__ADS_3

Dua hari kemudian


Setelah selesai mengerjakan pekerjaan di kantor. Sergio langsung memboyong keluarga kecilnya untuk pergi berlibur. Kini mereka berlibur di luar kota, lebih tepatnya di negara Y.


Kini mereka semua telah sampai di Villa megah milih Sergio. Winna langsung pergi ke kamarnya sambil menyeret koper milik wanita itu. Selesai mandi dan beberes lainnya, Winna menghampiri sang kakak.


"Kak Vee, aku ingin mengajak Tristan jalan jalan. " cetus Winna yang di angguki Venia.


Keduanya langsung meninggalkan Villa sebentar setelah Sergio memberitahu jalan. Venia sendiri langsung ke kamar sambil menyentuh perutnya.


Cklek


"Kenapa harus kumat lagi sih. " keluh Venia sambil mengobrol abrik laci mencari obatnya. Wanita itu langsung menelan satu butir obat kemudian meneguk air putih. Setelah itu dia memilih duduk sebentar di atas ranjang.


tok


tok.


"Sayang, apa yang kamu lakukan di dalam kenapa kamu mengunci pintunya? " tanya Sergio sambil mengetuk pintunya.


Venia lekas bangkit, dia buru buru mencuci muka lebih dulu baru membuka pintu. Dia mengatakan dirinya baik baik saja pada sang suami. Dia mengajak suaminya kembali turun ke bawah, mereka bersantai di ruang tamu.


"Mas Gio, menurut kamu Winna sekarang bagaimana? " tanya Venia.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu padaku sayang? " tanya Sergio justru berbalik bertanya pada sang istri. Venia berusaha menghilangkan kegugupannya di depan sang suami.


"Aku hanya ingin tahu tentang pendapat kamu. " ucapnya mengelak.


"Sikapnya lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. " ungkap Sergio dengan wajah datar nya.Dia pun berharap adik iparnya itu tak memiliki rencana tersembunyi. Bukan Winna yang memiliki rencana jahat namun justru istrimu yang memiliki rencana besar nantinya.


Melihat bagaimana respon yang di tunjukkan suaminya membuat Venia cukup senang. Namun wanita itu tak akan menyerah begitu saja. Dia merasa suaminya mulai menerima kehadiran Winna.


"Sayang, aku ingin melihat kamu kembali hamil lagi. " ucap Sergio penuh harap. Venia yang mendengarnya tersenyum nanar. Sampai kapanpun dia tak akan bisa mengabulkan permintaan suaminya barusan.

__ADS_1


"Aku ingin menginginkan satu anak lagi dari kamu. " ungkap Sergio dengan antusias.


Venia terdiam, diam meremas dress bagian bawahnya setelah mendengar keinginan sang suami barusan. Melihat istrinya yang diam saja sejak tadi membuat pikiran Sergio ke mana mana.


"Maaf mas aku belum siap untuk hamil lagi. " ucap Venia dengan nada bersalahnya. Harapan Sergio seketika sirna mendengar pernyataan sang istri. Pria itu menekan egonya dengan kuat, berusaha memaklumi keputusan istrinya.


"Pasti kamu masih trauma dengan kehamilan pertamamu saat mengandung si kembar 'kan? " tanya Sergio yang di angguki istrinya.


Venia sendiri merasa bersalah, dia terpaksa berbohong pada sang suami. Dia memilih mengalihkan pembicaraan. Sergio mengajak istrinya dan si kembar pergi ke tempat air terjun berada.


Membutuhkan waktu tigapuluh menit untuk berjalan kaki menuju tempat yang di maksud Sergio.



"Mom, aku ingin berenang. " rengek Finn pada sang mommy.


"Baiklah, kalian boleh berenang asalkan jangan sampai ke tengah okey. " tegur Venia pada si kembar. Si kembar mengangguk, kedua bocah itu langsung melepaskan kaos mereka lalu masuk ke dalam danau.


Tristan dan Winna menyusul mereka setelah di hubungi Venia. Winna memilih menjauh memperhatikan kedua keponakannya yang asyik berenang.


"Biar aku antarkan saja sayang. " ujar Sergio pada sang istri.


"Enggak usah sayang, aku bareng Tristan kok please. " sahut Venia sambil memohon. Sergio mengangguk, dia meminta Tristan untuk menjaga Venia dengan hati hati.


Keduanya langsung pamit ke Villa. Winna belum sempat bicara pada kakak nya itu namun Venia sudah pergi duluan. Dia merasa aneh dengan tingkah sang kakak yang justru mengajak Tristan.


"Tristan itu gimana sih, malah ninggalin aku. " keluh Winna dengan nada jengkelnya. Wanita itu tentu saja kesal, dia meminta di temani Tristan agar tak berduaan dengan Sergio namun sekarang semuanya usahanya sia sia.


Byur


"Aunty, kenapa Aunty Winna melamun. " pekik Felix membuat lamunan Winna buyar. Wanita itu merasa gemas dengan si kembar yang menyiratkan air kearahnya. Dia langsung melompat ke dalam air lalu mengejar si kembar.


Hup

__ADS_1


"Kena kalian. " Dan mereka bertiga perang air, saling menyipratkan air kearah masing masing. Canda dan tawa mewarnai obrolan random bibi dan kedua keponakannya itu.


Sergio tertawa pelan melihat kedua putranya yang menjahili Winna. Wanita itu lantas membantu kedua keponakannya naik ke atas, setelah itu kini giliran dirinya.


"Aduh. " Kaki Winna tergelincir hingga kembali terjebur ke dalam air. Si kembar menertawakan aunty mereka itu. Sergio langsung bangun dan mengulurkan tangan pada sang adik ipar.


Winna memilih berusaha naik sendiri tanpa bantuan kakak iparnya. Cukup sudah dia memiliki image buruk, Winna tak ingin di cap sebagai pelakor lagi. Sergio yang melihat sikap keras kepala Winna hanya berdecak pelan.


"Kalian jalan duluan saja, aku yang akan menyusul di belakang. " ucap Winna. Sergio langsung mengajak anak anaknya jalan. Winna mengikuti ketiganya dari belakang. Dia perlu memberi pelajaran pada Tristan yang meninggalkan dirinya.


Skip


Di Villa


Winna langsung pergi ke kamarnya, mengganti pakaiannya dengan cepat. Setelah selesai dia turun ke bawah mencari keberadaan sosok Tristan.


"Hei kenapa kamu malah ninggalin aku tadi Tristan. " omel Winna sambil berkacak pinggang. Tristan langsung nyengir pada sahabatnya ini. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Winna langsung duduk di sebelah Tristan. Entah apa yang mereka obrolkan satu sama lain. Tristan sendiri terus mencari alasan agar alasan sebenarnya tak di ketahui Winna. Wanita itu kembali menatap lekat kearah Tristan.


"Oh ya Tris, aku pengen buka lembaran baru di kota lain bagaimana menurutmu? " tanya Winna pada sang sahabat.


"Kenapa kamu ingin pindah Win? " tanya Tristan dengan kening berkerut.


"Aku hanya tak ingin mendapat cap pelakor lagi Tristan, bukankah kamu selama ini tahu bagaimana jalan hidupku? " pungkas Winna. Tristan mengangguk, dia menepuk kepala Winna dengan lembut. Terdengar hembusan nafas berat ke luar dari bibir Winna.


Tanpa sengaja Venia mendengarkan secara diam diam obrolan Tristan dan Winna. Setelah itu dia pergi dari sana dan kembali bergabung dengan Sergio dan si kembar. Sergio memperhatikan wajah muram sang istri.


"Sayang ada apa kenapa kamu trlrihat begitu sedih? " tanya Sergio pada istrinya.


"Enggak papa mas, mata aku tadi kelilipan. " elak Venia sambil tersenyum. Sebenarnya Sergio tak percaya namun pria itu memilih tak bertanya memperpanjang masalah. Dia kembali menemani kedua putranya bermain.


Venia meremas dress-nya, dia merasa bersalah pada sang suami. Mau sampai kapan dirimu terus menerus membohongi semua orang terutama suaminya sendiri. Dia harus segera merancang rencana selanjutnya untuk memuliakan keinginan dirinya.

__ADS_1


"Aku tak akan membiarkan kamu pergi Winna. " batinnya dalam hati.


__ADS_2