
Sudah dua bulan ini Venia menjalani pengobatan namun hasilnya tetap sama saja. Wanita itu memilih pasrah akan keadaannya saat ini. Namun di sisi lain Dia juga tampak bahagia setelah mengetahui Anna saat ini tengah hamil.
Anna menghampiri pria yang menjadi suami kontraknya. Dia menghela nafas berat, berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Mas, izinkan aku pergi dari sini. Aku janji setelah anak ini lahir, aku akan kembali dan menyerahkannya pada kamu dan kak Vee. " pinta Anna sambil memohon.
Suara ketukan pintu menghentikan obrolan keduanya. Mereka langsung ke luar dari kamar, menuruni anak tangga dan pergi ke ruang tamu. Seorang pria hadir di sana, melihat sosok pria itu membuat perasaan Anna berkecamuk.
"Kak Devan. " gumam Anna.
Anna berniat menghampiri Devan namun tangannya di cekal Sergio. Wanita itu berusaha melepaskan tangan suami kontraknya.
"Apa kamu lupa dengan perjanjian kita kemarin mas? " ujar Anna dengan kesal. Sergio tetap mencekal tangan istri keduanya. Fokusnya beralih pada pria di depannya saat ini.
"Kau tahu Anna saat ini mengandung calon anakku. " ujar Sergio. Devan terkejut mendengarnya, tangannya terkepal kuat mendapati kenyataan ini. Pria itu langsung melirik kearah Anna, Anna berusaha ingin menjelaskan apa yang terjadi. Dia berhasil melepaskan cekalan tangan Sergio, dia langsung mendekati Devan.
Mereka langsung duduk di sofa, Anna berada di samping Devan dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Wanita itu terisak pelan melihat Devan yang tampak kecewa dengan keputusan dirinya.
"Maafkan aku kak, tolong lupakan aku. Aku wanita yang tak pantas untuk kak Devan, apalagi kita ini sepupuan. " gumam Anna dengan berlinang air mata.
"Lalu kau berniat hidup bersama pria yang merupakan suami orang begitu An. Apa kamu begitu murahan hingga merebut suami orang? " sarkas Devan.
Anna hanya mampu menangis melihat nada bicara Devan yang begitu kasar. Wanita itu terus mengumamkan kata maaf pada Devan. Devan sendiri lekas bangkit dan pergi meninggalkan ruang tamu.
Anna tentu saja mengejarnya, dia mengejar Devan. Namun Devan lebih dulu pergi membawa kemarahan di dalamnya. Sementara keluarga Sergio dan Venia dalam perjalanan ke negara Z. Sergio telah menjelaskan kebenaran di antara dirinya dan Anna pada keluarganya.
Sepeninggal Devan, Anna berbalik dan menatap penuh kebencian pada pria yang menjadi suaminya.
"Kenapa kamu harus berbicara pada kak Devan seperti itu tuan Sergio. Aku sangat sadar jika kehadiran aku membuat rumah tangga kamu dan kak Vee berantakan. Harusnya kamu juga menepati janji yang telah di sepakati bersama beberapa waktu lalu. " pekik Anna emosi.
"Awh. " Anna merasa kram pada perutnya. Sergio segera membantu mengelus perut Anna. Namun wanita itu langsung menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
Suasana berubah hening, Sergio memperhatikan wajah Anna dengan lekat tanpa mengatakan apapun.
Sore harinya keluarga besarnya datang ke Villa setelah menempuh jarak panjang. Mertua dan kedua orang tuanya tentu saja marah pada Sergio atas apa yang terjadi. Anna langsung memberanikan diri meminta maaf dan meminta untuk di lepaskan dari ikatan pernikahan ini.
"Saya mohon izinkan saya pergi nyonya, tuan. " pinta Anna sambil memohon. Nyonya Kinara melirik kearah besannya.
"Semuanya sudah terjadi Anna, sebaiknya kamu jaga bayi dalam kandungan kamu saja. Itu lebih baik agar kami tidak semakin marah sama kamu! "
Suara Suster menginterupsi mereka. Para orang tua lekas pergi ke ruangan Venia di susul Venia. Si kembar sendiri menghampiri Anna, menatap wanita itu dengan lekat.
"Aunty eh Bunda Anna kenapa bunda sedih? " tanya Felix.
"Bunda enggak papa sayang. " jawab Anna sambil tersenyum.
"Tapi wajah bunda tampak sembab, apa bunda baru saja menangis. " sahut Finn yang di angguki Anna. Wanita itu memberikan alasan lain agar si kembar tak bertanya lagi. Melihat kedua bocah kembar ini membuat rasa bersalahnya pada Venia semakin besar.
"Maafin bunda sayang, kehadiran bunda membuat hubungan mommy dan daddy kamu renggang. " batin Anna dalam hati. Selama ini Venia begitu baik padanya.
Tak lama mereka ke luar dan terlihat sangat panik. Anna tentu saja ikut sementara si kembar tinggal bersama opa dan omanya. Mereka kini dalam perjalanan ke rumah sakit.
Rumah sakit
Saat ini para dokter tengah menangani keadaan Venia yang semakin parah setiap harinya. Sergio sendiri tampak gelisah, dia terus berdoa semoga Venia baik baik saja.
Hal sama di rasakan Anna, dia terus mengusap perutnya yang terlihat menonjol. Wanita itu begitu khawatir dengan kesehatan Venia saat ini. Mommy Kinara menepuk pundak sang menantu dan berbisik pelan.
Sergio langsung mendekati Anna lalu memintanya untuk duduk. Wanita itu menarik tangannya dari genggaman suami kontraknya.
"Saat ini kamu sedang hamil, mengenai perjanjian kita sebelumnya aku akan mengabulkan. Kamu boleh pergi setelah Venia di nyatakan
pulih. " tegas Sergio dengan wajah datar nya. Anna mengigit bibirnya dapat, jujur dalam beberapa bulan ini dia merasakan ke nyaman berada di dekat Sergio namun dia selalu menyangkalnya.
__ADS_1
Anna sangat berharap semoga Vemia segera pulih agar dirinya cepat pergi dari kehidupan Sergio dan Venia.
Beberapa jam berlalu dokter ke luar dan menjelaskan mengenai keadaan Venia. Semua orang tampak bersedih dan menangis terutama orang tua Venia.
"Maaf dokter, bolehkah saya menemui kak Vee? " tanya Anna.
"Silakan asal jangan beramai ramai. " tegur Dokter yang di angguki Anna. Wanita hamil itu lekas bangkit, dia memasuki ruangan Venia. Hatinya mencelos melihat keadaan wanita yang banyak menolongnya itu tampak tak berdaya.
"Kak Vee. " sapa nya dengan ceria. Venia tersenyum tipis melihat kehadiran Anna. Dia memejamkan mata kala Anna mencium keningnya.
"Kak Vee ayo berjuang untuk sembuh, bukankah kakak ingin membesarkan bayi dalam kandunganku nanti. " gumam Anna dengan senyuman manisnya.
Venia menggeleng, dia menyentuh perut madunya itu dengan lembut. Dia berharap si kecil dalam perut Anna kelak akan menjadi perempuan atau laki laki tangguh.
"Anna, waktuku tak banyak lagi dan entah sampai kapan aku akan bertahan. Aku ingin memberikan nama untuk calon baby kamu. Kalau perempuan berilah nama Violet dan laki laki Samuel. " pinta Venia penuh harap.
Anna menggeleng, dia berharap Venia akan baik baik saja. Wanita itu begitu menyayangi Venia, menganggap dia sebagai kakaknya sendiri. Wanita hamil itu berlinangan air mata saat mendengar beberapa permintaan Venia padanya.
Hiks
hiks
Wanita cantik itu juga memanggil suaminya untuk ke dalam ruangan. Sergio datang, berdiri di samping Anna. Venia menghela nafas berat, berusaha menekan rasa sakit yang kembali timbul dalam perutnya.
"Mas Gio, aku titip Anna dan jaga dia sebaik mungkin. Aku hanya ingin melihat kamu bahagia setelah aku pergi nanti mas. " gumam Venia sambil tersenyum.
"Aku janji padamu Vee. " jawab Sergio dengan pelan.
Awh suara ringisan kembali terdengar. Sergio segera memanggil dokter untuk memeriksa Venia. Dokter meminta keduanya untuk ke luar, Sergio mengajak Anna ke luar dan membiarkan dokter bekerja.
Tangisan Anna pecah dalam dekapan Sergio. Kali ini dia tak memberontak seperti biasanya. Namun tetap saja ada penghalang besar di antara mereka berdua. Anna sendiri tak berniat membuat suaminya jatuh cinta. Dia bertahan hanya demi bayi dalam perutnya serta Venia.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai dan tugasnya berakhir. Anna memilih mundur dan menghilang dari kehidupan keluarga Cullen. Namun dia lebih dulu ingin memastikan keadaan Venia.
"Maafin aku kak Vee, aku mengingkari janjiku padamu. Sampai kapanpun aku tak akan mengambil tempat di tengah tengah keluarga besarmu! "