
Pada pukul tiga sore, mereka makan siang di luar villa. Winna memperhatikan gerak-gerik kakaknya.
"Biar aku saja yang mengambil makanan di dapur, kak. Kakak di sini saja menemani suami kakak dan si kembar," ujar Winna.
"Tapi, Win," protes Venia yang kemudian ditolak oleh Winna. Wanita itu lalu bangkit dan pergi ke dalam, meninggalkan kakaknya yang tampak kesal. Venia kembali duduk di tikar. Saat ini, mereka piknik kecil-kecilan di dekat taman bunga. Udara di sana sangatlah sejuk.
Tak lama kemudian, Winna kembali dan langsung duduk di dekat Tristan. Dia menaruh makanannya di tengah-tengah. Dia menikmati rujak dengan santai sambil mengobrol dengan Tristan.
"Oh ya, Tris, gimana kalau kita nikah aja," celetuk Winna.
Tristan terbatuk mendengar ucapan Winna tadi. Hal yang sama juga dirasakan Venia dan Sergio. Winna mengerutkan kening, tidak merasa bersalah dengan ucapannya. Wanita itu kemudian kembali menyantap rujaknya dengan santai.
Venia dan Sergio saling melirik lalu kembali makan dengan santai sambil memperhatikan si kembar.
"Apa kamu menyukai Tristan, Win?" tanya Venia membuka percakapan.
"Nyaman sama dia, dia tidak pernah menghujat jalur hidupku. Pikir-pikir lebih baik menikah dengan Tristan yang single daripada suami orang, kan?" celetuk Winna dengan entengnya.
"Selama ini, Tristan sudah banyak membantuku. Mungkin dengan menjadi istrinya, aku bisa berubah menjadi wanita yang jauh lebih baik," ucap Winna sambil tersenyum lebar.
Tristan mengusap kepala Winna lalu tersenyum geli mendengar penuturan sahabatnya barusan. Venia sendiri tidak menyukai rencana adiknya untuk menikah dengan Tristan. Sementara itu, Sergio hanya diam memperhatikan interaksi antara adik iparnya dengan Tristan.
Venia menghela nafas panjang. Dia memilih memakan potongan buah yang telah dia kupas. Wanita itu tidak mengatakan apapun lagi pada adiknya, tetapi dia tetap keras kepala dengan keputusannya itu tanpa memikirkan dampaknya di masa depan.
"Win, aku perlu berbicara berdua dengan kamu nanti," ujar Venia dengan wajah serius.
"Baiklah, nanti kita bicara, kak. Aku lagi sibuk merayu calon suamiku," kekeh Winna dengan senyuman menyebalkan. Tristan langsung bangkit dan lari. Winna tentu saja bangkit dan mengejar calon suaminya itu. Si kembar tertawa terbahak melihat kelakuan aunty dan unclenya itu.
Beberapa menit berlalu, Venia bangkit dan menarik tangan sang adik untuk masuk ke dalam Villa. Mereka berbicara serius di ruang tamu.
__ADS_1
"Bicara apa sih, kak?" tanya Winna penasaran.
"Menikahlah dengan Mas Gio, Win," ujar Venia tanpa basa-basi. Winna membulatkan kedua matanya mendengar permintaan gila sang kakak. Dia berusaha memastikan pendengarannya tak bermasalah saat ini.
"Aku mohon, menikahlah dengan suamiku!" pinta Venia mengulang kalimatnya barusan.
Winna menggeleng tak habis pikir. Bukankah selama ini kakaknya posesif pada Sergio, menghalangi wanita manapun mendekati pria itu. Dia merasa otak kakaknya tengah bermasalah saat ini.
"You are crazy, Kak!"
"Bukankah selama ini kamu menginginkan Mas Gio, Win?" cetus Venia sambil tersenyum.
"Aku sudah melupakan hal gila itu, kak. Apa kakak lupa jika aku ingin menikah dengan pria single," tegas Winna.
Venia terus memohon pada sang adik agar mengabulkan permintaannya saat ini. Namun, Winna tetap kekeh menolak permintaan kakaknya.
"Apa alasan kakak melakukan hal gila ini?" tanya Winna dengan nadanya yang datar. Venia terdiam, dan wanita itu seketika bungkam mendengar pertanyaan sang adik. Winna menunggu jawaban dari sang kakak yang sejak tadi diam saja.
Winna tentu saja kesal dengan kebingungan sang kakak. Dia memilih bangkit dan keluar dari Villa dengan wajah emosinya. Venia menatap nanar kepergian sang adik. Dia meremas dress yang dia pakai sambil menangis. Hot mommy itu lekas bangkit dan segera mengejar adiknya.
Sergio segera menghampiri istri dan iparnya. Lebih dulu dia meminta Tristan menjaga si kembar. Pria tampan itu bergegas melerai istrinya yang tengah berbicara dengan Winna.
"Please, Winna, jangan beritahu Mas Gio mengenai hal ini sampai waktunya tiba," pinta Venia sambil memohon.
"Aku tetap akan memberitahu kak Gio, agar kakak enggak ngomong hal gila lagi," ketus Winna dengan wajahnya yang datar.
Venia melarangnya, dia tidak ingin suaminya tahu mengenai permintaannya ini. Dia terus memohon pada sang adik untuk diam saat suaminya mendekati mereka.
"Ada apa ini?" tanya Sergio dengan keningnya yang berkerut.
"Kak Vee, lebih baik kamu saja yang jujur pada kak Gio," desak Winna dengan tatapan tajamnya. Sergio sendiri semakin tidak mengerti dengan dua orang wanita di depannya.
__ADS_1
Venia menelan salivanya, dia tampak sangat gugup berhadapan dengan suaminya. Dia belum siap mengatakan segalanya pada Sergio.
"Mas Gio, aku... aghh!" Venia tiba-tiba merintih kesakitan dan memegangi perutnya. Sergio dan Winna tampak terkejut dan langsung menolong Venia.
Sergio langsung menggendong istrinya dan membawanya kembali ke Villa. Setelah membaringkan Venia di ranjang, pria itu langsung menghubungi dokter untuk datang ke Villanya.
"Mas, enggak usah panggil dokter," gumam Venia pada suaminya. Dia meminta sang adik mengambilkan obatnya, Winna tentu saja menurut dan juga membantunya minum.
Beberapa menit berlalu, Venia merasa rasa sakitnya telah hilang. Winna menatap sang kakak dengan tatapan curiga.
"Katakan, sebenarnya apa yang terjadi, kak?" desak Winna.
"Aku enggak papa!"
"Kak..." protes Winna, namun Venia tidak menghiraukannya.
"Winna, sebaiknya kamu ke luar," tegas Sergio pada iparnya. Winna berdecak pelan dan lantas bangkit. Namun Venia masih terus membujuk adiknya.
"Kak Vee, apakah kau pernah mendengar istilah 'Ipar adalah maut'?" tanya Winna dengan serius. Venia hanya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan adiknya.
"Harusnya kau banyak menonton serial tv agar tahu ungkapan yang aku ucapkan barusan. Wanita lain tak akan membiarkan ada orang ketiga dalam hubungan mereka. Namun, kamu justru gila dengan menempatkan aku dalam hubungan kalian," sindir Winna dengan telak.
"Namun, aku tahu di masa lalu aku punya banyak kesalahan dengan kamu dan kak Gio. Bukan begini, kak, cara membalasnya. Namun, lebih baik kamu enggak menganggap aku sebagai adikmu saja," tegas Winna.
Venia terdiam. Dia selalu kehilangan kata-kata setiap kali berdebat dengan Winna.
"Sudah malam, sebaiknya kakak juga istirahat saja," tegur Winna dengan halus. Winna segera masuk ke kamarnya, dan Venia sendiri dengan langkah lesu menaiki tangga dan pergi ke kamarnya.
Wanita itu memasuki kamarnya dengan raut muka lesunya. Dia lantas segera naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah sang suami. Sergio yang melihatnya, mengerutkan kening melihat tingkah sang istri.
Dia juga turut berbaring, menatap langit langit kamarnya. Entah apa yang pria itu pikirkan saat ini.
__ADS_1