(Bukan)Pernikahan Impian

(Bukan)Pernikahan Impian
Bab 46 Sakit tak berdarah


__ADS_3

Siang itu, Sergio memasuki ruangan rawat sang istri. Pria itu menarik kursi, kemudian duduk di dekat Venia.


"Dokter bilang, kamu perlu bed rest, sayang," ujar Sergio dengan tenang.


"Mau sampai kapan aku bertahan, Mas? Rasanya aku ingin menyerah begitu saja," ungkap Venia dengan nada putus asa.


Sergio menggeleng, dia menggenggam tangan sang istri. "Aku mohon kamu jangan putus asa, sayang. Semua orang menyayangi kamu, terutama si kembar dan aku," gumam Sergio.


Venia menangis terisak di depan sang suami. Sergio lekas bangkit, memeluk wanitanya dari samping. Dia berusaha memberikan kekuatan untuk istri tercintanya. Wanita cantik itu memeluk tubuh sang suami dengan erat.


Beberapa menit berlalu, Venia mulai tenang. Dia kembali berbaring di atas ranjangnya. Sergio sendiri telah duduk di kursinya, dia berusaha menghibur sang istri.


"Kau menginginkan sesuatu, sayang?" tanya Sergio.


"Bisakah kamu membelikan aku jus alpukat, Mas?" pinta Venia.


"Oke, sayang. Aku akan meminta Mommy Amira untuk membuatkan kamu jus, bolehkan?" tanya Sergio memastikan.


Venia mengangguk, Sergio segera menghubungi Mommy Amira. Setelah selesai, Sergio menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Satu jam berlalu, kedua paruh baya itu datang, membawakan jus, dan parsel buah. Mommy Amira menaruh parselnya di atas meja, lalu menyerahkan jusnya pada sang anak.


Wanita itu tentu saja terkejut dengan kabar mengenai menantunya itu. Venia menyesap jusnya dibantu sang suami. Sergio menaruhnya di atas meja, lalu bangkit dan menyingkir. Dia membuatkan sang mommy berbicara dengan Venia.


"Mommy minta maaf atas sikap mommy dulunya sama kamu, Vee," sesal Nyonya Amira dengan tulus.


"Vee juga minta maaf, mungkin apa yang aku alami saat ini adalah karma untuk aku. Aku dulu begitu merendahkan Mommy dan tak menghargai keberadaan Mommy," ucap Venia tersenyum kecut.


Nyonya Amira menggeleng, dia tidak menyalahkan sikap menantunya dulu padanya. Dia mengusap kepala Venia dengan lembut, lalu kembali bertanya pada Venia. Wanita paruh baya itu menunjukkan perhatiannya dengan tulus pada sang menantu. Daddy mengajak putranya ke luar dari ruangan.

__ADS_1


"Jangan berbicara seperti itu nak, Mommy sangat yakin kamu pasti bisa sembuh nantinya," ungkap Mommy Amira penuh keyakinan.


"Aku gagal menjadi istri untuk mas Gio, Mom. Aku gagal mewujudkan impian Mas Gio yang ingin memiliki anak perempuan," gumam Venia dengan terisak.


Mommy Amira ikut menangis, dia ikut merasakan sakit seperti yang dirasakan Venia. Venia seringkali menyalahkan dirinya sendiri, merasa tidak pantas untuk menjadi istri Sergio. Wanita paruh baya itu berusaha menenangkan sang menantu.


"Aduh, sakit Mom hiks," Venia kembali merasakan sakit pada bagian perutnya. Mommy Amira begitu panik, dia berusaha menenangkan sang menantu namun tidak berhasil. Dia memilih memanggil dokter. Tak lama kemudian, dokter masuk ke dalam beserta suster. Dokter segera menyuntikkan cairan penenang.


Nyonya Amira bernafas lega melihat putrinya tertidur. Dokter menatap ke arah Nyonya Amira dengan lekat. "Maaf Nyonya, Nyonya Venia harus segera melakukan kemoterapi secepatnya agar bisa mengurangi rasa sakitnya," jelas dokter. Sergio dan Daddy kembali masuk ke dalam, mendengarkan penjelasan dokter.


"Dokter, rencananya saya akan membawa istri saya berobat ke luar negeri, apakah itu memungkinkan?" tanya Sergio.


"Keputusan Anda sangat tepat, Tuan. Namun, kemoterapi dilakukan secara bertahap dan di sana perlu waktu lama," ungkap Dokter.


"Baiklah kalau begitu, Dok. Saya akan menyiapkan segalanya untuk keberangkatan kami besok," sahut Sergio yang di tanggapi setuju oleh dokter.


"Apa istri kamu setuju dengan keputusan kamu, Nak?" tanya Daddy Daffa pada putranya.


"Aku tidak peduli dia setuju ataupun tidak, Dad. Ini keputusan yang terbaik untuk kesehatannya. Aku ingin istriku bisa sembuh dan berkumpul kembali dengan aku dan si kembar," ucap Sergio dengan nada bergetar.


"Cukup sekali aku kehilangan dia karena kebodohanku, dan aku tidak mau kehilangan dia karena takdir," gumam Sergio lirih. Daddy Daffa menepuk pundak sang anak, paham akan perasaan putranya yang tampak rapuh.


Terdengar suara helaan nafas berat keluar dari bibir Sergio. Sergio langsung memilih duduk di kursi, menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya. Perasaannya saat ini campur aduk, memikirkan kesehatan istrinya.


"Rasanya tak sanggup, Mom, Dad, melihat wanita yang aku cintai tersiksa seperti ini. Rasanya aku ingin menggantikan posisi Venia," gumam Sergio lirih.


"Sabar, Nak, kamu harus kuat menghadapi ujian ini. Bukankah besok kamu menemani istri kamu berobat?" ucap Mommy dengan bijak.

__ADS_1


Sementara di dalam ruangan, Venia kembali terbangun pada sore harinya. Dia merasa sangat bosan berada di rumah sakit sejak kemarin. Rasanya dia ingin segera pulang ke rumah dan bermain bersama Felix dan Finn.


Wanita itu memilih turun dari ranjangnya. Dengan langkah pelan, berjalan ke arah pintu, saat hendak ke luar, dia mendengarkan obrolan suaminya bersama Eden dan Hazel.


"Jadi, Mas Gio akan membawaku berobat ke luar negeri," batin wanita itu.


Hazel yang melihat Venia seketika langsung panik dan memberitahu yang lainnya. Sergio lekas bangkit, pria itu masuk ke dalam.


"Sayang, kenapa kamu turun? Ayo, kembali ke ranjang," Sergio membopong istrinya, membawanya kembali ke atas ranjang pasien.


"Mas, apa benar kalau besok kita akan pergi berobat?" tanya Venia memastikan.


"Iya, sayang!"


"Kenapa kamu tidak bicarakan hal ini lebih dulu denganku?" protes Venia kesal pada sang suami. Sergio menghela nafas berat, dia lantas duduk di kursinya. Pria tampan itu memberi pengertian pada sang istri tanpa mau dibantah sedikitpun.


Venia mengusap wajahnya, dia kehilangan kata-kata saat suaminya tidak ingin dibantah sedikitpun. Wanita itu berusaha membujuk sang suami agar mengurungkan niatnya.


"Cukuplah Vee, kau harus mengikuti keputusan ku kalau tidak aku akan membawa pergi si kembar," ucap Sergio dengan sungguh-sungguh. Pria itu sangat kesal dengan sikap keras kepala dan egois yang dimiliki istrinya.


Venia menelan salivanya, tentu saja dia tak ingin kehilangan kedua anak kembarnya. Wanita itu menangis sambil memohon pada suaminya. Sergio hanya bisa menghembuskan nafas berat, menggenggam tangan wanitanya.


"Baiklah aku setuju dengan keputusanmu Mas," ungkap Venia dengan pasrah. Venia benar-benar tak sanggup jika dijauhkan dan dipisahkan dari Felix dan Finn. Sergio cukup lega dengan jawaban sang istri tercinta.


Sergio mencium kening istrinya lembut lalu membisikkan kata cinta di telinga sang istri. Venia memeluk sang suami ketika Sergio mendekati dirinya. Sergio sendiri mengusap kepala istrinya, mengeratkan pelukan mereka.


"Aku mencintaimu Vee," bisiknya lembut.

__ADS_1


"Aku juga mencintai kamu mas. " balasnya tak kalah lirih.


__ADS_2