
Setelah beberapa soal yang diberikan oleh Airin selesai dikerjakan oleh teman-temannya, Airin tersenyum memandang semua yang berada di dalam kelas tersebut.
"Terimakasih banyak untuk semua teman-teman yang sudah dengan suka rela mendengarkan penjelasan dari saya."
"Dan untuk semuanya yang sudah bisa mengerjakan soal tadi, saya tunggu di kantin. Seperti janji saya kalian dapat makan siang gratis di kantin sepuasnya." ucap Airin.
"Hore dapat makan gratis."
"Terimakasih Airin untuk penjelasan dan juga traktirannya."
"Ditunggu kuis selanjutnya, kami belum mendapatkan kesempatan ."
Begitulah kira-kira ucapan dari beberapa siswa yang bersuka cita dengan pembelajaran yang berbeda.
Setelah pelajaran selesai, maka pak Dodit membereskan buku-buku yang ia bawa dan meminta Airin untuk menemuinya di ruang Guru.
Setelah itu Airin berjalan mengikuti pak Dodit dari belakang. Mereka berjalan ke ruang Guru.
"Airin terimakasih karena telah membantu bapak dalam menjelaskan materi pelajaran tadi. Hanya saja bagaimana bisa Airin menguasai materi tersebut sedangkan pada saat bapak menjelaskan Airin tidak ada didalam kelas ?" tanya pak Dodit.
"Maaf pak, saya pernah belajar materi tersebut dari Sekolah sebelumnya." jawab Airin singkat.
"Lalu bagaimana kau bisa menjelaskan dengan mudah kepada teman-temanmu ?" tanya Pak Dodit lagi.
"Hal itu biasanya disebut sebagai tutor sebaya, Salah satu manfaat dari tutor sebaya adalah dengan metode pembelajaran tutor sebaya akan ada kebiasaan peserta didik untuk saling membantu temen, terutama yang mengalami kesulitan dalam belajar."
"Dan akan terjadi keakraban yang akhirnya akan memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai materi yang sedang di pelajari."
"Dan dalam hal ini Guru sebagai Fasilitator atau pembimbing. yang artinya Guru hanya melakukan intervensi ketika benar-benar dibutuhkan peserta didik dan memotivasi peserta didik untuk aktif dalam belajar."
"Jadi tidak seharusnya bapak mengucapkan terimakasih kepada Airin. Karena dalam hal ini memang seperti itu seharusnya metode yang digunakan."
"Tadi Airin menerapkan hal itu karena Airin ingin lebih dekat dengan teman-teman Airin. Sebagai siswi baru tentu saja saya ingin akrab dan dekat dengan mereka." jelas Airin dengan tersenyum.
__ADS_1
"Seandainya seluruh siswa seperti dirimu, maka Sekolah ini akan jauh lebih baik dan namanya akan dikenal seluruh dunia pendidikan." ucap pak Dodit.
Airin hanya tersenyum, kemudian ia berpamitan untuk segera kembali ke dalam kelasnya.
"Kau memang sangat luar biasa Airin. Siapa sebenarnya kau ?" ucap pak Dodit setelah Airin berlalu meninggalkan ruang tersebut.
Sementara Chika dan juga Misel semakin naik pitam karena teman-teman satu kelasnya memuja kecerdasan Airin.
"Jika kita biarkan saja maka anak itu akan semakin berani melawan kita karena akan banyak yang menolong dia." ucap Chika.
"Kita harus bisa membuat dia tidak betah lagi tinggal di sekolah ini." sambung Misel.
"Kalau begitu kita harus segera bertindak. Sekarang kita harus menyusun rencana untuk menyingkirkan Airin dari Sekolah ini " ucap Chika.
Setelah itu mereka seolah-olah, tidak melihat Airin yang memasuki kelas. Keduanya membuang muka ke sembarang arah agar tidak melihat wajah Airin, hal itu membuat Airin tersenyum.
Arian tiba-tiba masuk dan berjalan di belakang Airin. Ia ingin menyampaikan informasi bahwa akan diadakan acara ulang tahun Sekolah.
"Untuk itu bagi seluruh anggota OSIS diharapkan agar dapat menghadiri acara meeting di ruang OSIS hari ini setelah pulang Sekolah." ucap Arian.
"Apakah selain anggota OSIS juga bisa mengikuti acara tersebut ?" tanya Chika.
"Tentu saja boleh, acara ini adalah acara kita bersama. Siapapun boleh terlibat dalam acara tersebut." jawab Arian.
"Baiklah kalau begitu aku akan ikut serta dalam acara tersebut." jawab Chika dengan tersenyum.
"Oke, untuk apa saja acara yang akan digelar, akan di umumkan setelah meeting OSIS. Demikian informasi ini saya sampaikan. Terimakasih." ucap Arian.
Arian menatap ke arah Airin seakan ia ingin mengatakan sesuatu, namun ia tahan. Sementara Airin Hanya tersenyum manis kearah Arian.
"Kau harus ikut serta dalam acara tersebut Airin." batin Arian.
Kemudian Arian melangkah meninggalkan kelas tersebut. Membawa sebuah harapan baru.
__ADS_1
Sementara Chika dan juga Misel saling pandang, mereka seakan mempunyai sebuah ide untuk menyingkirkan Airin.
Dengan sangat yakin, Chika berdiri hendak mendekati Airin, namun karena sepatutnya basah membuat ia terpeleset dan jatuh ke lantai.
"Chika kau tidak apa-apa ?" tanya Airin dan Misel secara bersamaan.
"Ini semua karena kau tukang sapu, lihatlah sepatuku basah sehingga aku terpeleset." ucap Chika sambil berusaha berdiri.
"Jika kau tau sepatumu basah mengapa masih kau gunakan sejak tadi, seharusnya kau melepaskannya setidaknya kau tidak akan mengalami hal ini." jawab Airin.
"Airin jangan kau berbangga hati, hanya karena kau bisa materi yang tadi. Tapi ingatlah selama 29 hari sejak kau memasuki Sekolah ini, akan aku pastikan kau segera meninggalkan Sekolah ini untuk selamanya." ucap Chika dengan penuh kemarahan.
"Begitu juga sebaliknya Chika, jika dalam waktu 29 hari, aku tidak bisa merubah dan menghapus bullying di Sekolah ini. Maka aku pastikan bahwa Sekolah ini akan di tutup untuk selamanya." jawab Airin dengan tersenyum.
"Kau pikir kau siapa sehingga bisa berbicara seperti itu ? pemilik Sekolah ini saja tidak pernah mengatakan hal itu. Bahkan beliau tidak tidak tau bagaimana keadaan Sekolah ini."
"Dengar semuanya ! dihadapan kalian semua. aku Chika Fernandez bersumpah jika dalam waktu 29 hari aku tidak bisa mengeluarkan Airin dari Sekolah ini, maka aku siap menjadi budak Airin."
"Tetapi sebaliknya jika dalam waktu 29 hari, Airin tidak bisa menghapus bullying yang sudah menjadi hal biasa di Sekolah ini, maka Airin akan menjadi budak ku seumur hidupnya." ucap Chika dengan sangat lantang.
Sehingga semua yang telah ia ucapkan dapat di dengan oleh semua orang baik yang ada di dalam kelas tersebut maupun di sekitarnya.
Airin tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya sebagai tanda setuju dengan apa yang dikatakan oleh Chika.
Sementara Chika dengan bangga menjabat tangan Airin, kemudian ia menghempaskan tangan tersebut seolah-olah ia sangat jijik sekali.
Semua yang ada di dalam kelas tersebut menjadi saksi atas sebuah perjanjian yang telah disepakati oleh Chika dan Airin.
Mereka semua terdiam dalam pemikiran mereka masing-masing, ada yang mendukung ada pula yang menyayangkan hal itu.
Karena bagi mereka, ibarat mengukir di atas air apa yang bisa Airin lakukan untuk bisa melawan Chika Fernandez, anak seorang pejabat yang sangat ditakuti oleh banyak masyarakat.
Hal itulah yang membuat semua yang menyaksikan perbuatan Chika seakan menutup mata dan telinga, karena mereka tidak ingin berurusan dengan keluarga Fernandez.
__ADS_1