29 Hari

29 Hari
Bab. 11. Kebakaran


__ADS_3

Hidup adalah kompetisi bukan dengan orang lain, tetapi dengan diri kita sendiri. Kita harus berusaha setiap hari untuk menjalani kehidupan yang lebih kuat, lebih baik dan lebih benar.


Di setiap waktu kita harus menguasai apa yang menjadi kelemahan kemarin, berusaha untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan agar hari ini dan hari esok menjadi lebih baik dari hari ini.


Begitulah seharusnya menjadi motivas'i bagi diri, bukannya semakin menabur keburukan dan kebencian karena hal itu akan merugikan diri kita sendiri.


SMA halnya dengan Chika, yang selalu berfikir bagaimana caranya untuk menyingkirkan Airin dari Sekolah tersebut bukannya memikirkan bagaimana caranya untuk memperbaiki diri.


Bahkan Chika rela untuk membayar seseorang agar membakar rumah ibu Iyem yang diyakininya sebagai rumah Airin.


Malam itu juga, ia memerintahkan orang suruhannya agar melaksanakan tugasnya dengan imbalan yang begitu fantastis.


Demi uang orang bisa menjadi gelap mata, ia bisa menjadi lebih tega terhadap orang yang lemah.


Tanpa memikirkan dampak terhadap diri sendiri dan juga terhadap orang lain. Pelaku langsung menyiramkan bensin ke sekeliling rumah ibu Iyem, dengan cara mengendap-endap agar tidak diketahui oleh orang lain.


Setelah memastikan bahwa keadaan aman, mereka kemudian menyalakan api sehingga rumah yang masih berdinding papan itu langsung terbakar.


Beruntung Ibu Iyem sedang keluar rumah untuk mencari Airin, yang kebetulan belum pulang hingga larut malam.


Namun bukannya Airin yang beliau dapatkan, melainkan orang-orang yang berlarian menuju ke tempat tinggalnya.


"Sebenarnya ada apa ? mengapa semua berlarian ke arah sana ?" tanya ibu Iyem kepada salah seorang yang melintas.


"Ada kebakaran Bu. Mari kita lihat bagaimana keadaan di sana." jawab orang tersebut.


Kemudian mereka segera berjalan menuju ke sumber cahaya yang terlihat sangat menyilaukan mata.


Sementara Airin yang baru saja tiba di tempat itu, berteriak-teriak memanggil Ibu Iyem, bahkan ia hendak masuk ke dalam kobaran api demi menyelamatkan beliau.

__ADS_1


Beruntung ada warga yang berhasil menahan tubuhnya, jika tidak mungkin Airin bisa ikut terbakar bersama semua barang-barang yang ada didalam rumah itu.


Airin menangis sambil bersimpuh dan berulang-ulang kali memanggil ibu Iyem, hal itu lantas di abadikan oleh orang suruhan Chika, kemudian ia mengirimkannya kepada Chika.


Meskipun sedikit kecewa tetapi Chika tetap tersenyum melihat kesedihan dan penderitaan yang dialami oleh Airin.


"Ini baru awal tukang sapu, akan ada kejutan-kejutan berikutnya yang akan membuatmu lupa bagaimana caranya menghapuskan bullying di Sekolah kita."


"Orang rendahan seperti kalian pantas untuk mendapatkan itu semua, sudah menjadi takdirnya bahwa yang kuat akan menindas yang lemah."


"Beruntung aku terlahir dari keluarga pejabat sehingga aku bisa melakukan hal yang aku inginkan, termasuk menindas kaum seperti mu." ucap Chika.


Setelah puas, Chika merebahkan dirinya di atas kasur kemudian ia tertidur dengan senyuman yang menghiasi wajahnya.


Sementara Airin masih meratapi kejadian yang menimpa wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Ia sangat menyesal karena ia tidak pulang ke rumah Ibu Iyem seperti biasanya, ia pulang ke rumahnya karena ada sesuatu yang harus ia kerjakan. Namun setelah itu ia pulang kembali ke rumah ibu Iyem dan hanya api yang ia temui.


"Nak ibu malah bersyukur karena kau pulang terlambat, dengan begitu disaat rumah kita kebakaran ibu sedang keluar untuk mencari mu. Keterlambatan mu untuk pulang ke rumah telah menyelamatkan ibu dari kebakaran ini." ucap Ibu Iyem sambil memeluk tubuh Airin.


"Ibu benarkah ini ibu ? benarkah ibu tidak apa-apa ?" tanya Airin sambil memeluk erat tubuh ibu Iyem.


"Iya nak, ini ibu." jawab ibu Iyem sambil menatap rumahnya yang terbakar.


"Ibu rumah kita ... ." ucap Airin dihentikan oleh ibu Iyem.


"Nak semua yang ada di dalam dunia ini hanyalah titipan, jika semua yang kita miliki akan diambil oleh yang punya maka kita bisa apa. Percayalah nak setiap kejadian yang kita terima dengan rasa syukur dan berbaik sangka maka kita akan mendapatkan yang lebih baik."


"Mungkin dengan terbakarnya rumah kita, Allah SWT mempunyai sebuah rencana yang indah di baliknya. Kita hanya harus ikhlas menerima semuanya." ucap Ibu Iyem dengan tersenyum ikhlas.

__ADS_1


"Lalu dimana kita akan tinggal Bu ? apakah ibu mempunyai saudara ?" tanya Airin.


"Ibu tidak mempunyai saudara di sini nak, untuk sementara kita bisa tinggal di gardu yang ada di sana. Besok kita pikirkan bagaimana caranya untuk memperbaiki rumah kita." jawab ibu Iyem.


"Tinggal di gardu ?" tanya Airin lagi.


"Iya nak, hanya untuk malam ini saja. Apakah kau keberatan jika kita tinggal di sana ? atau apakah kau ingin pulang ke rumah orang tuamu saja ?"


"Maksud ibu, kau bisa tinggal bersama orang tuamu nak, tak perlu harus ikut ibu tinggal di tempat yang tidak layak. Ibu sudah sangat bahagia melihat kau bahagia nak." ucap Ibu Iyem.


"Tidak Bu, Airin akan ikut bersama dengan ibu. Airin sudah berpamitan kepada orang tua Airin, ibu jangan berkata demikian. Jika ibu tidak keberatan ibu bisa tinggal bersama Airin saja." jawab Airin.


"Tidak perlu nak, ibu disini saja. Besok ibu akan mulai bekerja ibu sudah lebih baik. Kau tidak perlu menghawatirkan ibu." ucap ibu Iyem.


"Kalian bisa tinggal di rumah kami, untuk sementara waktu. Sampai kalian bisa memperbaiki rumah kalian." ucap Pak RT yang ikut duduk di sebelah mereka.


"Pak RT ! terimakasih banyak pak. Tetapi apakah tidak merepotkan bapak dan keluarga jika kami tinggal di sana ?" jawab Ibu Iyem.


"Jangan sungkan, sebagai manusia kita wajib saling membantu dalam hal kebaikan. Kebetulan ada kamar yang kosong di rumah kami. Kalian bisa menggunakannya."


"Nanti jika kalian sudah bisa memperbaiki rumah kalian, baru kalian boleh meninggalkan rumah kami. Tidak baik jika kalian harus tinggal di Gardu, lebih-lebih nak Airin tentu sangat berbahaya." jawab pak RT.


"Baiklah pak jika demikian. Terimakasih banyak atas semua bantuannya. Maaf kami belum bisa membalas semua kebaikan bapak dan keluarga." ucap Ibu Iyem.


Kemudian mereka berjalan meninggalkan tempat itu menuju rumah pak RT.


"Ternyata masih ada sebuah kebaikan di sini. dan kau ibu, kau sungguh sangat luar biasa. Bahkan kau masih bisa bersyukur dengan keadaan ini."


"Padahal aku tau, rumah itu adalah harta mu satu-satunya. Namun kau masih bisa tersenyum saat api menghanguskan semuanya. Rumah yang menjadi tempat mu berteduh dan juga semua kenangannya kini menjadi abu." ucap Airin dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2