
Saat sang Surya terbangun dari peraduannya untuk menggantikan peran sang bintang, maka seluruh alam semesta yang awalnya gelap gulita maka akan menjadi lebih terang.
Setiap insan akan kembali beraktivitas setelah semalaman terlelap dalam tidurnya. Tak terkecuali para narapidana ditempat Chika tinggal saat ini.
Terkecuali Chika yang masih terlelap dan enggan untuk membuka kedua matanya. Wanita yang berbadan gelap itu mendekati Chika sambil memeriksa keadaannya.
Ia hanya ingin memastikan bahwa Chika masih bernafas, ia tidak ingin memperpanjang masa tahanannya jika terjadi sesuatu terhadap Chika.
Setelah memastikan Chika masih bernafas, ia mengambil segelas air dan dengan kasar menyiramkan ke wajah Chika.
"Bangun pemalas ! hari sudah terang benderang, Jika kau masih terus saja terlelap maka aku akan membuatmu tidur untuk selamanya." ucap wanita itu dengan keras.
Chika begitu kaget, sehingga ia langsung duduk dan menatap sekelilingnya. Rasa sakit yang ia rasakan semalam semakin sakit saat ia menggerakkan badannya.
"A apa yang terjadi ?" tanya Chika dengan bingung.
"Tidak ada, kau hanya seorang gadis pemalas sudah siang begini kau masih saja memejamkan matamu." jawab wanita itu dengan cueknya.
Chika perlahan bergeser dan bersandar di dinding. Ia kembali menangis saat ia merasakan sekujur tubuhnya yang terasa remuk redam.
"Mengapa ayah belum juga menjemput ku ? apakah belum ada yang memberitahukan keadaan ku kepada ayah." batin Chika.
Saat Chika menahan segala rasa sakit di tubuhnya, seorang Polisi datang mengantarkan makanan untuk mereka.
Chika menatap makanan yang ada di depannya. Makanan yang tidak layak disebut sebagai makanan oleh Chika, kini tersaji didepannya.
Perutnya seakan menolak makanan itu, ia hanya membuang muka sambil menatap kearah pintu berharap ayahnya segera datang untuk menjemputnya.
"Apakah kau tidak lapar ? atau kau tidak mau memakannya ? jika begitu berikan makanan itu untuk kami saja, sayang sekali jika makanan itu dibiarkan begitu saja." ucap wanita itu sambil meraih makanan yang ada di hadapan Chika.
"Makanlah aku tidak Sudi memakan makanan itu." jawab Chika tanpa melihat lawan bicaranya.
__ADS_1
Detik berlalu dan berganti menit, menit pun berganti jam. Waktu berlalu begitu lama membuat Chika tanpa terasa tertidur dalam keadaan perut yang keroncongan.
Akhirnya yang ia tunggu-tunggu tiba, seorang Polisi membukakan pintu untuknya dan mengantarkan ia menemui sang ayah.
"Ayah mengapa la sekali menjemput ku. Lihatlah keadaan putri ayah ini." ucap Chika sambil memeluk tubuh sang ayah.
"Maafkan ayah anakku, tetapi sebenarnya apa yang terjadi ? mengapa kau bermusuhan dengan pengusaha yang sangat kaya raya itu ? bahkan kekuasaan yang ayah milik tidak bisa menyentuhnya ?" tanya tuan Fernandez.
Chika melepaskan pelukannya dan menatap wajah sang ayah yang sedikit bingung.
"Apa yang ayah katakan ? aku hanya membakar rumah Airin si tukang sapu itu !" jawab Chika dengan jujur.
"Mengapa kau melakukannya ?" tanya tuan Fernandez.
"Aku bertaruh dengannya, tapi ia juga ingin merebut Arian dariku ayah, dan lagipula apa urusannya dia dengan pengusaha yang ayah maksud itu." ucap Chika.
"Ayah juga tidak mengetahuinya, hanya saja yang ayah tau rumah tukang sapu itu kini dibangun kembali oleh perusahaan Golden A&H. Apakah musuh mu itu dekat dengan pemilik Golden A&H ?" tanya tuan Fernandez lagi.
"Aku tidak tau ayah, dia hanya siswa baru yang masuk karena beasiswa." jawab Chika sambil meringis kesakitan.
"Apakah ayah tega melihat ku seperti ini. Ini adalah neraka ayah ! aku tidak mau tinggal di sini lagi." ucap Chika sambil menangis.
"Apa yang bisa ayah lakukan ?" tanya tuan Fernandez dengan putus asa.
"Ayah, temui lah Misel sahabat ku itu. Minta kepadanya agar Serli mau memohon agar Airin mencabut laporannya terhadap aku. Jika Serli tidak mau melakukannya maka sampaikan kepadanya bahwa aku akan mengunggah video dimana ia tidak menggunakan baju sedang mengepel lantai waktu itu." ucap Chika dengan senyum liciknya.
"Baiklah ayah akan meminta anak buah ayah untuk melakukan hal itu, tetapi kau harus bersabar untuk tinggal di sini sementara waktu." ucap tuan Fernandez.
"Baiklah ayah tetapi jangan terlalu lama, aku tidak sanggup lagi untuk tinggal di sini."
"Apakah ayah membawakan aku makanan ? makanan disini lebih buruk dari pada makanan anjing peliharaan kita." ucap Chika.
__ADS_1
"Jadi kau belum makan ? ayah akan membelikan mu makan, kau ingin makan apa biar sopir belikan untuk mu." jawab tuan Fernandez.
"Semua makanan kesukaan ku ayah." jawab Chika tanpa ragu.
Setelah mendengar jawaban dari Chika, tuan Fernandez menyuruh supir pribadinya untuk membelikan makanan untuk Chika.
Setelah beberapa saat, makanan itu datang. Chika langsung menyantap makanan itu hingga habis tak tersisa.
Tuan Fernandez melihat putrinya makan layaknya orang yang satu Minggu belum makan, hatinya terasa sakit saat putrinya mengalami hal itu.
"Ayah akan melakukan apapun untuk mengeluarkan mu dari sini nak." batin tuan Fernandez.
"Baiklah nak, ayah hao segera menemui Misel agar ia segera melakukan hal yang seharusnya ia lakukan."
"Bawalah makanan ini, agar kau tidak merasa kelaparan lagi. Tunggulah sebentar lagi ayah pasti akan menjemput mu dari tempat ini." ucap tuan Fernandez.
"Baiklah ayah." jawab Chika singkat.
Setelah tuan Fernandez berlalu dari hadapan Chika, ia segera membawa semua makanan yang diberikan oleh ayahnya dan ia segera kembali ke tempatnya di tahan.
Sementara tuan Fernandez segera menuju ke sekolah SMA Golden A&H, ia harus segera menemukan Serli dan juga Misel.
Ia tidak ingin putrinya menunggu terlalu lama. Saat beliau berkunjung ke Sekolah tersebut. Kebetulan Airin sedang berada di ruang Kepala Sekolah.
Ia bisa melihat langsung seperti apa tuan Fernandez itu. Dengan cepat ia meminta orang kepercayaannya untuk mencari tau apa tujuannya ia datang dan menemui Serli.
Setelah itu ia keluar dari ruangan dan segera menuju ke tempat mang Udin. Ia ingin mendengar apa yang diketahui oleh mang Udin terkait masalah Serli.
"Selamat siang mang, mang mari temani Airin makan, Airin tadi belum sempat sarapan jadi bekal ini masih utuh." ucap Airin sambil mendekati mang Udin.
"Maaf neng tapi mang Udin masih kenyang, bagaimana jika neng Airin makan sendiri tapi mang Udin temani sambil kita ngobrol." jawab mang Udin dengan sopan.
__ADS_1
"Baiklah mang jika mang Udin masih kenyang Airin tidak memaksa." jawab Airin dengan tersenyum.
Setelah itu mereka berdua duduk di teras tempat tinggal mang Udin. Semilir angin yang sepoi-sepoi menerpa wajah cantik Airin. Rambutnya yang panjang terurai bergerak mengikuti arah angin.