29 Hari

29 Hari
Bab. 40. Ketakutan Deo.


__ADS_3

Banyak cara yang dapat dilakukan oleh seseorang untuk mengungkapkan perasaan cinta, ada yang menunjukkan melalui perhatian, memberikan hadiah atau mengungkapkan perasaannya baik secara langsung ataupun melalui puisi cinta yang romantis.


Begitu juga dengan Chika, ia ingin mengungkapkan perasaannya kepada Arian, hanya saja ia bingung akan mengungkapkannya dengan cara yang seperti apa.


Setelah mengenakan gaun dan memoles wajah agar terlihat tampak cantik, Chika keluar dengan membawakan minuman dan juga biskuit untuk Arian dan juga Deo.


Chika berjalan dengan seanggun mungkin dengan membawa nampan ditangannya yang di isi minuman dan juga makanan.


Setelah melewati perjuangan yang sangat keras, akhirnya Chika sampai di hadapan Arian dan juga Deo.


Perlahan Chika duduk dan mempersilakan tamunya untuk menikmati hidangan yang ia bawa. Dengan senyum manis yang menghiasi wajah cantiknya.


"Arian ada keperluan apa kok tumben sekali main ke rumah ?" tanya Chika.


"Sebenarnya kami hanya ingin menyampaikan informasi bahwa kau kami pilih sebagai anggota pertunjukan panggung seni dalam acara ulang tahun sekolah kita." jawab Arian.


"Benarkah ? tapi mengapa kau tidak menginginkan pesan chart atau yang lainnya. Tapi tidak mengapa dengan begini kau jadi ada kesempatan untuk mampir ke rumahku."


"Ngomongin soal panggung seni, siapa saja yang menjadi anggotanya ? apakah sudah semuanya atau baru aku saja yang kalian pilih." tanya Chika.


"Belum ada baru kau yang kami masukkan." jawab Deo.


Chika tersenyum mendengar hal itu. Kemudian ia mempersilakan Arian dan juga Deo untuk menikmati minuman yang sudah ia siapkan.


Dengan santai mereka berbincang sambil bercanda. Kemudian Arian memberikan kode kepada Deo agar ia memulai aksinya untuk mencari ponsel Chika agar bisa memusnahkan video yang digunakan untuk menekan Serli.


"Chika maaf, bolehkan saya menumpang ke kamar mandi ? saya ingin buang air kecil." ucap Deo.


"Tentu saja boleh, kau bisa berjalan kearah sana kemudian berbelok ke kiri dan berjalan maju sedikit. Nah disitu ada kamar mandi." jawab Chika.


"Oke ! em satu hal lagi, bolehkah saya melihat-lihat rumahmu Chika ? biar saya tidak mengganggu kalian ngobrol." ucap Deo dengan malu-malu.

__ADS_1


"Jangan sungkan, lihatlah jika kau mau, tapi ingat jangan mengusik kenyamanan para penjaga atau yang lainnya." jawab Chika.


"Baiklah, terimakasih telah mengijinkan. Silakan dilanjutkan ngobrolnya." ucap Deo.


Kemudian Deo berlalu meninggalkan Chika dan juga Arian. Ia segera berjalan sambil melihat-lihat setiap sudut ruangan agar ia tidak akan tersesat.


Setelah memastikan kamar yang ia masuki adalah milik Chika, Deo segera mencari keberadaan ponsel Chika.


Namun ia tidak bisa menemukan apa yang ia cari. Kemudian ia berjalan keluar kamar dan mencari ke kamar yang lainnya.


"Arian, aku sudah mencari ponsel Chika tetapi tidak menemukannya. Tolong kau telpon nomornya agar aku bisa mendengar suara dering telepon itu." pesan Chat Deo untuk Arian.


"Baiklah, tunggu sebentar. Kau harus dengerin dengan baik." balas Arian.


Setelah beberapa saat Akhirnya Deo berjalan menyusuri lorong ke arah gudang, mengikuti sumber suara dering ponsel Chika.


Lama Deo mencari, berjalan sambil memastikan bahwa yang ia dengar adalah nada dering ponsel Chika.


"Aneh sekali, mengapa sumber suara itu ada di kamar kosong ini ? apakah aku salah." batin Deo.


Deo mendekati kamar kosong tersebut, dan menempelkan telinganya pada pintu agar bisa mendengar dengan jelas sumber suara itu berasal.


"Arian coba kau telpon ulang, agar aku lebih yakin. Aku bingung sumber suara itu berasal dari mana ? aku mendengarnya dari sebuah rumah kosong. Tetapi mana mungkin ponsel Chika ada di dalam sebuah kamar kosong yang tampak kotor seperti sudah lama sekali tidak digunakan lagi." pesan Deo.


"Ok !" balas Arian.


Namun setelah Arian membalas pesan tersebut, lagi-lagi terdengar suara dering ponsel itu berasal dari dalam kamar kosong tersebut.


"Tapi mengapa sumber suara itu berasal dari dalam kamar kosong ini ? aku harus memastikan bahwa yang aku dengar tidak salah." batin Deo.


Akhirnya Deo memutuskan untuk melihat dari balik kaca jendela yang sudah kotor dan usang. Ia berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memanjat agar ia bisa melihat dengan jelas. Deo mengintip apa yang ada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


Samar-samar Deo melihat sebuah kaki seseorang. Deo mengucek-kucek kedua matanya untuk memastikan bahwa apa yang ia lihat benar sebuah kaki.


"Astaghfirullah ! apa aku tidak salah lihat? bukankah itu sebuah kaki, tetapi mengapa ada sebuah kaki ? apakah ada seseorang yang ditahan di dalam ruangan kosong ini ?" batin Deo sambil menekan dadanya agar lebih merasa lebih tenang.


"Arian, tolong kau hubungi ponsel Chika lagi." pesan Deo.


"Ok !" jawab Arian.


Setelah ponsel itu berdering, ada sedikit cahaya yang menerangi ruangan kosong itu. Dengan cepat Deo memvideokan apa yang ia lihat.


Dari dalam ruangan itu terlihat sebuah aki tanpa alas kaki yang terlihat sangat putih dan pucat, namun masih terdengar suara-suara aneh seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu.


Setelah selesai mereka kejadian yang ada didalam ruangan yang gelap itu ia segera mengirimkan video tersebut kepada Arian.


"Arian coba kau lihat apa yang aku temukan di sebuah kamar kosong, yang mungkin digunakan sebagai gudang."


"Saat ponsel Chika kau hubungi, aku mendengarnya di dalam ruangan kosong itu. Dan kau lihat, apa yang ada di dalamnya."


"Meskipun sedikit gelap namun masih terlihat sebuah kaki seseorang dengan kondisi yang sangat pucat. Entah apa yang terjadi dan apa yang ia alami didalam sana."


"Ini adalah satu bukti kekejaman keluarga Fernandez. Apa yang harus kita lakukan ? apakah aku harus kembali ke situ atau bagaimana." pesan Deo.


Sementara itu Deo, merasa panas dingin. Ia ketakutan dengan apa yang ia lihat itu. Keringat dingin mulai membasahi tubuh Deo.


Perlahan ia turun kemudian Ia duduk di lantai sambil menenangkan dirinya. Sambil menunggu perintah dari Arian. Namun tiba-tiba terdengar suara-suara aneh dari dalam kamar kosong itu.


Karena Deo dalam kondisi yang ketakutan, bulu kuduknya merinding saat mendengar suara-suara aneh dari dalam ruangan kosong itu.


Dengan secepat kilat ia segera berlari masuk kembali ke dalam rumah. Ia sudah tidak bisa lagi menahan rasa takutnya. Dan menunggu perintah dari Arian.


Ia juga lupa bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencari dan memusnahkan video milik Serli yang digunakan Chika untuk menekan dan membully Serli.

__ADS_1


Dengan nafas yang tersengal-sengal ia ingin segera menghampiri Arian dan juga Chika. Ia tidak ingin terlibat dengan apa yang terjadi di dalam ruangan kosong itu.


__ADS_2