29 Hari

29 Hari
Bab. 25. Sang penakluk hati


__ADS_3

Setiap manusia berhak untuk berbahagia, menikmati kehidupan yang ia jalani dengan penuh suka cita tanpa sebuah tekanan dari siapapun.


Serli yang merasa tertekan kini ia bisa melupakan sejenak masalah yang ia hadapi. Bersama Airin ia menikmati hari dengan penuh canda dan tawa.


Sehingga pekerjaan yang dikerjakan oleh Airin lebih cepat selesai dibandingkan dengan sebelumnya.


Kini mereka berdua pulang kerumahnya masing-masing. Sementara Airin tidak langsung pulang ke rumah melainkan ia kembali ke Sekolah untuk bertemu dengan mang Udin.


Ia ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi kepada Serli, sehingga anak yang biasanya begitu antusias dalam mengikuti setiap pelajaran lebih memilih untuk meninggalkan kelas dan diam sendiri di sebuah taman bermain.


Setelah sampai, Airin harus menahan rasa penasarannya karena mang Udin sedang keluar karena ada urusan.


Dengan langkah yang gontai Airin berjalan menuju ke rumah pak RT, ia ingin beristirahat sejenak, untuk melepaskan lelahnya.


Sedangkan Deo, sepulangnya dari rumah sakit ia segera menuju ke rumah Arian, ia ingin menyalin pelajaran karena hari ini ia tidak bisa masuk ke Sekolah.


"Selamat sore ganteng, bolehkah aku masuk ?" tanya Deo sambil mengetuk pintu kamar Arian.


"Selamat sore, tumben kau seperti ini apakah kau tadi kesambet saat di perjalanan atau kau kesambet hantu rumah sakit." jawab Arian dengan melihat tubuh Deo dari atas ke bawah.


"Kau benar ! aku tadi kesambet cewek cantik. Senyumnya begitu manis tapi sayang ada segudang kesedihan yang terpancar dari sorot matanya." jawab Deo dengan duduk perlahan di ranjang Arian.


"Kau ini sakit atau bagaimana ? mengapa bicara mu seperti orang yang sedang mengigau." ucap Arian sambil menempelkan tangannya di kening Deo.


"Aku serius Arian ! tadi aku ketemu dengan Serli salah satu siswa dari SMA Golden. Ia sedang menangis sendirian di taman bermain yang tak jauh dari Rumah Sakit tempat adikku di rawat."


"Tetapi ia tidak mau menceritakan apa yang sedang ia alami." jelas Deo dengan menceritakan tentang Serli yang ia temui di taman bermain tadi.


Setelah mendengar penjelasan dari Deo, Arian terdiam. Ia memang tidak melihat Serli setelah mengantarkan Airin mengganti pakaiannya tadi pagi.

__ADS_1


"Apakah ia menjadi korban bullying dari Chika, sehingga ia pulang sebelum waktunya. Seingat ku ia duduk di kelas tersebut saat aku menjemput Airin setelah ia menjadi korban keisengan Chika." batin Arian.


"Woi ada yang ngomong itu di dengarkan bro bukannya dicuekin." celetuk Deo.


"Iya maaf, saya hanya mengingat nama Serli, kalau tidak salah ia satu kelas dengan Airin." jawab Arian asal.


"Airin ? gadis yang belakangan ini sering kau sebut-sebut itu ?" tanya Deo.


Arian hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Deo.


"Apakah kalian sering bertemu ? maksudnya saat kau bertemu dengan Airin ajaklah aku ikut serta agar aku bisa bertemu dengan Serli juga." ucap Deo dengan semangat.


"Jadi kau saat ini telah berpindah ke lain hati ? bukankah kau pengagum Chika ?" tanya Arian sambil tersenyum.


"Chika ? dia cantik, kaya tapi sangat mengerikan. Aku hanya pernah mengagumi kecantikan saja."


"Lagian jika aku mengagumi Chika, ibarat punuk merindukan bulan. Sangat jauh dari kenyataan dan hanya khayalan semata." jawab Deo sambil merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Asal kau tau, saat melihat Serli tadi, aku merasa ingin melindunginya. Tetapi aku tidak tau aku harus melindungi doa dari apa."


"Tapi rasa itu begitu kuat, seolah hati kecilku mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui. Seolah-olah aku ini begitu kuat untuk melindunginya." ucap Deo.


"Jika hati kecilmu mengatakan demikian maka lakukanlah. Mungkin itu sebuah petunjuk dari alam agar kau menjadi sang penyelamat." jawab Arian asal.


"Ah kau ini ! memangnya aku ini pendekar begitu." jawab Deo yang kehilangan kata untuk menjawab ucapan Arian.


Tetapi jauh dari lubuk hatinya, ia berkata bahwa yang dikatakan oleh Arian benar. Ia harus menjalankan apa yang dikatakan oleh hati nuraninya.


Karena hati nurani tidak pernah salah dan ia tidak pernah berbohong, seperti mulut yang bisa berkata sebaliknya.

__ADS_1


Sedangkan Arian malah memikirkan Airin, ia berfikir bahwa ia harus lebih sering mengunjungi Airin agar ia tidak selalu menjadi sasaran Chika.


"Chika ? bagaimana kabarnya ? apakah dia sekarang sudah bebas dari penjara ?" ucap Arian lirih.


"Apa kau bilang ? Chika bebas dari penjara ? sebenarnya apa yang kau pikirkan ? coba kau ceritakan !" ucap Deo penasaran.


Arian menceritakan kejadian pagi ini di Sekolah Golden A&H tempat mereka menuntut ilmu. Sementara Deo mendengarkan semua dengan seksama.


"Artinya baru Airin yang berani melawan Chika. Aku jadi penasaran dengan anak baru itu." ucap Deo.


"Kau penasaran dengan Serli atau dengan Airin ?" tanya Arian dengan tatapan menginterogasi.


"Sabar bro ! aku hanya penasaran dengan gadis yang berani melawan Chika. Bukankah selama ini tidak ada yang berani melawannya. Chika hanya tunduk di hadapan mu saja."


"Seandainya Chika tau bahwa Airin adalah wanita yang kau puja pasti ia akan semakin semena-mena terhadap Airin."


"Selama ini aku sering memperhatikan Chika, dia adalah pengagum mu, dia rela melakukan apa saja demi bisa dekat dengan mu."


"Aku tidak bisa membayangkan kebencian Chika terhadap gadis yang dekat dengan mu. Terlebih gadis itu adalah Airin yang kalau tidak salah ia hanya berprofesi sebagai tukang sapu jalan."


Chika selalu menganggap yang lainnya dengan sebelah mata. Apalagi dengan Airin yang jelas-jelas berada dibawah levelnya, yang lebih parah lagi, ia harus bersaing dengan gadis yang ia anggap dibawah levelnya."


"Apakah kau berfikir tentang hal itu sebelum kau menjadi pengagum Airin. Siswi baru yang tiba-tiba menjadi populer di SMA Golden A&H, baik karena profesinya yang sempat viral di Mading Sekolah atau karena kau segala kelebihannya." jelas Deo.


"Lalu aku harus apa ? Chika berada jauh dibawah Airin. Dia begitu luar biasa." jawab Arian sambil tersenyum membayangkan saat Airin keluar dari rumah setelah membersihkan dirinya tadi pagi.


Pesona Airin yang begitu luar biasa meskipun ia berpenampilan begitu sederhana. Membuat Arian tak sanggup untuk berpaling ke arah yang lainnya.


Begitu juga dengan Deo, ia masih teringat bagaimana wajah Serli yang cantik namun sedang bermuram durja.

__ADS_1


Kedua sahabat itu terbaring di atas ranjang yang sama tetapi berbeda dengan apa yang mereka pikirkan.


Keduanya berimajinasi dengan apa yang ada dalam benak mereka masing-masing. Hingga tak terasa keduanya sama-sama terlelap dan mewujudkan khayalan mereka dalam sebuah mimpi yang indah.


__ADS_2