29 Hari

29 Hari
Bab. 50. Kecurigaan Chika


__ADS_3

Dalam perjalanan hidup seorang, uang memang bukan segalanya. Namun banyak hal yang membutuhkan uang untuk menjalani kehidupan ini.


Sama halnya dengan Misel, meskipun ia baru duduk di bangku SMA, namun rela menempuh jalan hitam agar bisa mendapatkan uang. Ia rela menjadi budak **** tuan Fernandez demi uang.


Meskipun ia tau, bahwa lelaki paruh baya yang ia layani saat ini adalah ayah dari sahabatnya sendiri.


Dengan lincahnya Misel menggerakkan setiap gerakan yang ia mainkan sehingga membuat tuan Fernandez tak mampu berkata apa-apa. Hanya sebuah kenikmatan ia rasakan.


Daun muda dihadapannya begitu memahami apa yang ia inginkan. Uang yang ia keluarkan sebanding dengan Kepuasan dan kenikmatan yang ia dapatkan .


Meskipun ia masih dalam masa pemulihan, namun ia puas karena Misel yang mengendalikan semua permainan panas mereka, hingga puncak kenikmatan dapat mereka rasakan bersama.


Misel menjatuhkan tubuhnya yang penuh dengan keringat di atas tubuh tuan Fernandez, keduanya terengah-engah sambil memejamkan matanya.


Setelah berisi sebentar Misel segera bangkit dan merapikan pakaian yang dikenakan tuan Fernandez juga ranjangnya.


Setelah itu ia segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan segera berganti pakaian. Ia kemudian merias wajahnya agar terlihat cantik dihadapan tuan Fernandez.


"Tuan apakah anda ingin saya membantu untuk membersihkan diri anda ?" tanya Misel sambil tersenyum manis menghampiri lelaki yang telah ia puaskan itu.


"Sebentar aku ingin beristirahat, tubuhku masih lemah dan kau telah menguras banyak tenagaku tadi." jawab tuan Fernandez dengan jujur.


"Tetapi anda masih sangat perkasa meskipun dalam kondisi seperti ini." ucap Model sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Kau belum tau kekuatan Ki yang sesungguhnya." jawab tuan Fernandez dengan bangga.


"Kalau begitu tunjukan segera sekuat apa kekuatan yang anda miliki, saya akan mengimbanginya." jawab Misel dengan tersenyum menggoda.


"Ku akui permainan mu sungguh luar biasa." jawab tuan Fernandez.


"Sesuai dengan uang yang tuan berikan, semakin banyak semakin baik pula servisnya." jawab Misel blak-blakan.


"Kau tenang saja, aku akan segera mentransfernya untuk mu, sekalian untuk tugasmu nanti malam." jawab tuan Fernandez sambil mengotak-atik ponselnya.

__ADS_1


"Kau sungguh murah hati tuan. Aku akan mengerjakan tugasku dengan baik seperti yang kau inginkan." jawab Misel.


"Tugas apa yang ayah berikan untuk Misel ?." tanya Chika yang tiba-tiba muncul dari balik pintu.


"Ayah meminta Misel untuk menjaga ayah disini agar kau bisa beristirahat di rumah. Ayah tidak ingin kau jatuh sakit karena menjaga ayah."


"Hanya malam ini, besok ayah sudah bisa pulang dan kau harus menjemput ayah sepulang sekolah." jawab tuan Fernandez.


"Apakah ayah yakin ?" tanya Chika sambil duduk di samping sang ayah dan segera meletakkan barang bawaannya.


"Ayah sangat yakin, diluar ada para penjaga kau jangan khawatir. Ayah akan baik-baik saja, dan ayah tidak meminta bantuan secara cuma-cuma, ayah memberikan kompensasi untuk pekerjaan Misel." jawab tuan Fernandez.


"Baiklah, lakukan yang terbaik menurut ayah. Ini Chika membawa makanan semoga ayah menyukainya." ucap Chika.


"Kebetulan sekali ayah sangat lapar, mari kita makan bersama." jawab tuan Fernandez sambil bangkit kemudian duduk bersandar dengan bantuan Chika.


"Kenapa ayah begitu lengket, dan berkeringat seperti baru saja berolah raga." ucap Chika.


"Kau belum tau saja olah raga yang baru kita mainkan. Tentu saja penuh dengan keringat. Untung saja aku segera membersihkan semuanya, kalau tidak bisa kacau jika kau mengetahuinya." batin Chika.


Kemudian Misel dan juga tuan Fernandez makan secara lahap, perutnya terasa begitu lapar setelah permainan panas keduanya.


Sementara Chika hanya bisa menatap dengan heran, karena kedua insan yang beda generasi itu makan dengan lahap seperti orang yang begitu kelaparan.


Terlintas di benak Chika, bagaimana ia selama di dalam penjara, ia seperti menemukan mata air di tengah Padang pasir, saat menemukan makanan.


Chika tersenyum getir melihat pemandangan di hadapannya. Sungguh miris sekali mereka berdua hidup bebas dan mempunyai banyak sekali uang tapi bisa kelaparan seperti ia saat di dalam penjara.


"Chika ikutlah bergabung bersama kita, mengapa kau malah melamun ?" ucap tuan Fernandez membangunkan Chika dari lamunannya.


"Tidak ayah aku sudah makan sebelum kesini. Kalian makan dan habiskanlah, aku akan menunggu di sini saja." jawab Chika sambil duduk di sofa.


Setelah itu ia memainkan benda pipih yang ada di dalam genggamannya itu. Sesekali ia tersenyum sesekali ia juga bermuka masam dan juga cemberut.

__ADS_1


Chika sedang melihat di sosial media yang sering ia gunakan, untuk sekedar membaca informasi seputar kesehatan dan kecantikan. Namun ia segera melirik ke arah sang ayah dan juga sahabatnya yang sedang makan.


"Mengapa aku merasa Misel dan ayah begitu dekat, apa sebenarnya yang terjadi. Ayah tidak pernah seperti ini. Biasanya mereka hanya saling sapa saja."


"Sekarang mengapa terasa lain ? atau ini hanya perasaan ku saja ?." Chika melihat kedekatan mereka dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Dengan pelan ia mendekati tubuh sang ayah, yang perlahan berbaring dengan sangat pelan.


"Ayah apakah ada yang ingin kau katakan ?" tanya tuan Fernandez sambil tersenyum kemudian ia menatap wajah sang ayah dengan senyum yang dipaksakan.


Sementara Misel yang menyadari, pakaian dalam yang ia lemparkan ke sembarang arah itu berada tepat dibawah kaki Chika.


Misel terdiam ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa mengambil pakaian dalamnya sebelum Chika melihat dan mencurigai dirinya.


Misel membereskan peralatan makan, kemudian meletakkan di atas meja dan ia segera duduk di sofa.


Saat tuan Fernandez menatapnya,ia memberikan kode dengan menunjuk ke arah bawah. Menyadari ada yang tidak beres tuan Fernandez meminta Chika untuk memanggilkan salah satu pengawalnya.


Namun Chika malah meminta Misel yang memanggil. Terpaksa Misel berdiri dan segera memanggil pengawal setelah pengawal masuk Chika segera bergeser agar sang ayah bisa berbicara dengan leluasa dengan pengawal itu.


Pengawal itu tanpa sengaja melihat ada sesuatu dibawah kakinya. Ia mengerutkan kening saat menyadari benda apa itu.


Perlahan ia mendorong kain yang ada dibawahnya agar masuk kedalam dibawah ranjang, tempat tuan Fernandez beristirahat.


"Tuan ada yang bisa saya lakukan ?." tanya sang pengawal itu dengan sedikit menunduk.


"Tolong antara Chika pulang. Ia harus banyak beristirahat setelah peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini." jawab tuan Fernandez.


"Baik tuan, saya akan mengantarkan nona Chika." jawab pengawal tersebut.


"Apakah ayah mengusir ku ?" tanya Chika dengan penasaran.


"Sayang, mengapa kau berfikir seperti itu. Ayah hanya ingin kau bisa lebih banyak berisi. Maafkan ayah yang terlalu lama membiarkan mu di dalam neraka itu." jawab tuan Fernandez mencoba menyakinkan putrinya.

__ADS_1


__ADS_2