
Keindahan adalah hal yang sangat dinantikan oleh setiap orang, begitu juga dengan Arian dan juga Deo yang memang berencana untuk menemui mang Udin.
Keduanya terpukau melihat keindahan yang ada didepannya. Kecantikan Airin terpancar dengan begitu indah.
Siapapun yang melihatnya pasti akan terpukau karena pesona yang dimiliki oleh Airin. Tidak menunggu lama kedua langsung mendekati Airin dan juga mang Udin.
"Mang Airin heran mengapa Serli kemarin tidak masuk Sekolah ya ? padahal pagi itu Airin melihatnya ada di dalam kelas." ucap Airin sambil menyiapkan makanan ke mulutnya.
"Ia neng, kemarin mang Udin yang mengantar neng Serli pulang. Mang Udin juga tidak tau apa yang terjadi, tetapi saat itu mang Udin lihat neng Serli berlari sambil menangis." jawab mang Udin sambil menceritakan semua yang ia ketahui tentang Serli.
"Sebenarnya apa yang terjadi di dalam kelas itu saat kita pergi Airin ? ini harus kita selidiki jangan sampai ada sesuatu yang salah dan itu terlepas dari pengawasan kita." ucap Arian sambil duduk di sebelah Airin.
Arian tersenyum melihat gadis yang ia puja itu, tersenyum manis sambil menikmati makanannya.
"Tuan muda, maaf mang Udin tidak tau saat tuan datang." ucap mang Udin.
"Jangan sungkan mang, saya memang sengaja ingin menemui mang Udin tetapi belum sempat untuk memberitahu mang Udin." jawab Arian.
"Apa masalah apa sehingga tuan muda Ingin menemui saya ?" tanya mang Udin dengan penasaran.
"Tidak mang, saya hanya ingin mengetahui informasi tentang Serli saja. Karena setahu saya, Serli itu adalah anak yang berprestasi dan juga anak yang rajin bersekolah."
"Tetapi kemarin ia tidak masuk ke Sekolah dan malah ia berada di taman bermain." jawab Arian dengan jujur.
"Jadi tujuan tuan muda dan neng Airin sebenarnya sama." ucap Mang Udin dengan tersenyum.
Airin menatap Arian, begitu juga sebaliknya. Keduanya saling pandang dengan jarak yang begitu dekat.
"Mengapa jantung ku berdetak begitu kencang saat aku melihat tatapan mata yang begitu indah itu. Apa sebenarnya yang terjadi pada diriku ini." batin Airin.
"Airin kau begitu cantik, kau tercipta begitu sempurna. Pesona yang kau miliki mampu menembus jantung ku yang paling dalam."
__ADS_1
"Aku terasa berada di alam mimpi, senyum manis di bibir mu mengalihkan seluruh duniaku." batin Arian.
"Hem Hem Hem, kalian ini malah padang-pandangan ! kita kesini itu untuk mencari tau tentang masalah Serli bukan untuk berpacaran."
"Kalian harus ingat ada aku dan juga mang Udin di sini, jadi jangan kau anggap dunia ini hanya milik kalian berdua saja." ucap Deo.
Sementara Airin dan juga Arian hanya tersenyum mendengar ucapan Deo.
"Baiklah jika kalian masih ingin berduaan, biar aku dan mang Udin yang akan mencari tau informasi yang kami butuhkan." ucap Deo dengan kesal.
"Ok, jika itu mau mu." jawab Arian.
"Kau ini !" jawab Deo.
"Sudahlah, lebih baik kalian kembali ke kelas saja, tidak baik jika kita bertiga terlihat y di sini untuk menemui mang Udin." ucap Airin.
"Tapi kami ingin mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh Serli. Kemarin saat saya melihatnya di taman bermain sepertinya ia sedang mempunyai masalah yang berat."
"Maksud kamu Serli sebelumnya menjadi korban Bullying, sehingga ia menjadi sangat sedih, tetapi ia tidak berani untuk mengatakannya kepada siapapun karena alasan tertentu ?" Tanya Airin dengan serius.
"Itu hanya firasat yang aku rasakan, berdasarkan dari mimpi yang aku alami saja. Untuk realitanya aku tidak tau."
"Karena itu aku ingin mencari tau masalah ini, dimulai dari mang Udin yang mengantarkan Serli pulang." jelas Deo.
"Iya Rin, kita sebenarnya tidak tau pasti. Tetapi kemarin pagi aku sempat melihat Serli di dalam kelas tetapi setelah kita kembali Serli sudah tidak ada."
"Jika mang Udin mengantar Serli pulang karena ia sakit, kami tidak curiga. Tetapi masalahnya Serli tidak berani pulang ke Rumahnya malah ia menangis di taman bermain."
"Dan kebetulan Deo yang melihat sendiri bagaimana kondisi Serli waktu itu dan juga mimpi buruknya, semakin memperkuat kecurigaan kami." jelas Arian.
"Memangnya bagaimana mimpi Deo ?" tanya Airin.
__ADS_1
Deo kemudian menceritakan semua kejadian yang terjadi dalam mimpinya itu. Semua yang mendengar diam seribu bahasa dengan pikiran mereka masing-masing.
"Saat ini saya lihat neng Serli teh berlari sambil menangis, sementara baju seragamnya basah dan nampak kotor."
"Saat saya tanya, apa yang terjadi ia hanya menangis sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya."
"Lalu saya ajak ia kesini, dan saya berikan seragam neng Airin yang waktu itu di jemur di sini."
"Sampai ia saya antar pulang, neng Serli teh tetap tidak mau bercerita kepada saya. Hanya wajahnya yang bengkak karena menangis dari pagi, lalau saya ambilkan air hangat untuk mengompres wajahnya sebelum pulang."
"Mungkin saat ank Deo melihat neng Serli, wajahnya sudah tidak seperti waktu ada di sini." jelas mang Udin sambil menghembuskan nafasnya dengan berat.
"Apakah artinya benar jika telah terjadi sesuatu kepada Serli pagi itu ?" tanya Deo.
"Aku akan bertanya kepada salah satu teman yang ada dikelas waktu itu." ucap Airin.
"Biar aku saja yang mencari tau, jika kau yang bertanya mungkin mereka tidak akan berani berkata jujur. Karena mereka takut akan akibat yang akan mereka terima." ucap Arian.
"Kalau memang begitu, kita harus bertindak lebih cepat sebelum orang-orangnya Fernandez bertindak lebih dahulu." ucap Airin.
"Apa hubungannya dengan mereka ?" tanya Arian.
"Hari ini tuan Fernandez datang menemui Kepala Sekolah, kebetulan aku sedang berada di sana. Mereka datang untuk menemui Misel dan juga Serli."
"Bukankah Serli tidak mempunyai hubungan yang baik dengan Chika, hanya satu kemungkinan yang ada. Serli yang akan dijadikan kambing hitam untuk menyelamatkan Chika dari penjara." jelas Airin.
"Kalau begitu kita harus bertindak sekarang juga, kita berbagi tugas saja agar pekerjaan kita bisa cepat selesai." ucap Deo.
"Aku setuju, Deo kau yang menjadi mata-mata untuk Misel, Airin kau harus bisa memastikan setiap gerakan atau apapun tentang Serli dalam pantauan mu, Sedangkan saya yang akan mencari tau apa yang selama ini Serli alami, atau tepatnya ia adalah korban bullying dari Chika."
"Dan untuk mang Udin, setiap ada kabar apapun yang mang Udin tau, baik itu berkaitan dengan Serli atau Chika segera hubungi kami." jelas Arian yang langsung membagi tugas bagi mereka.
__ADS_1
Semuanya menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Arian.